KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES
Fauzi Bowo dan Joko Widodo
JAKARTA, KOMPAS.com - Isu SARA jelang Pemilukada DKI Jakarta putaran kedua sudah sangat mengkhawatirkan. Isu SARA sangat sensitif dalam masyarakat plural, bahkan bisa berujung pada kerusuhan. Menanggapi hal tersebut Koodinator TePi (Komite Pemantau Pemilu), Jeirry Sumampow, menegaskan, perlu ada langakah preventif dari semua pihak.
"Walaupun isu SARA sudah mulai merebak saat ini, kita masih dapat mencegahnya, khususnya memberikan pengertian kepada warga bahwa Isu SARA akan menghacurkan kehidupan bersama" tegas Jeirry, saat dihubungi Kompas.com, Selasa (28/8/2012).
Lanjutnya, ada beberapa langkah penting yang dapat dilakukan guna mencegah penggunaan isu SARA dalam Pemilukada DKI Jakarta putaran kedua. Pertama, Komisi Pemilihan Umum perlu memanggil kedua kandidat yaitu Jokowi-Ahok dan Foke-Nara, untuk bersama-sama mendeklarasikan anti SARA dalam berbagai kampanye menuju pemilukada DKI Jakarta Putaran kedua. Hal tersebut penting untuk meredam Isu SARA yang marak terjadi belakangan ini.
"Walau cuma seremoni, paling enggak dengan melihat komitmen dari kedua cagub dan cawagub ini, menjadi bekal bagi warga bahwa isu SARA yang merebak selama ini bukan dilakukan kedua belah pihak, mungkin saja ada pihak ketiga yang menggunakan momen ini," jelas Jeirry.
Kedua, Panwaslu perlu mensosialisasikan kepada masyarakat tindakan-tindakan yang termasuk pelecehan terhadap SARA, sekaligus bertindak tegas dalam pemberian sanksi terhadap oknum-oknum yang dengan sengaja menyebarkan isu SARA.
"Kurang jelasnya sikap Panwaslu dalam kasus dugaan pelanggaran SARA yang dilakukan Rhoma Irama, sangat berpengaruh bagi penilaian masyarakat terhadap isu SARA. Orang jadi berpikir ternyata sentilan isu SARA enggak apa-apa, toh sanksinya enggak jelas," jelas Jeirry.
Ketiga, para tokoh lintas agama harus berpartisipasi aktif dalam menanggapi beredarnya isu SARA di Jakarta akhir-akhir ini dengan memberi pengertian kepada umatnya untuk memilih secara obyektif dan rasional, bukan berdasarkan SARA.
"Jangan malah tokoh agama yang memprovokasi umat, apalagi menggunakan tempat ibadat untuk mengarahkan umat pada calon tertentu," terang Jeirry.
Tindakan preventif terhadap menyebarnya isu SARA menjelang pemilukada DKI Jakarta putaran kedua, sangat membantu masyarakat menjadi pemilih cerdas.
"Disebut pemilih cerdas, jika seseorang memilih kandidat tertentu secara obektif dan rasional, tanpa pertimbangan unsur SARA. Masyarakat harus sadar bahwa memilih berdasarkan SARA, berarti berkontribusi pada kehancuran negara ini," tegas Jeirry.
