Kamis, 23 Oktober 2014

News / Megapolitan

Ini Alasan Mereka Pilih Profesi Pemadam Kebakaran

Kamis, 30 Agustus 2012 | 11:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Suasana santai tampak di ruangan setengah terbuka, mungkin lebih cocok dikatakan garasi. Di antara sejumlah mobil pemadam kebakaran, belasan orang tampak asyik dengan aktivitasnya masing-masing. Beberapa ada yang bermain telepon selular, ada juga yang asyik menikmati makanan, ada yang bermain catur, sebagian lagi larut dalam obrolan seru. Seluruh kenyamanan itu bisa sirna seketika saat tugas mulia memanggil, yaitu memadamkan api.

Menjadi fire fighter memang bukan pekerjaan mudah. Bergelut mengendalikan amukan api, ancaman kesehatan dari gas berbahaya yang ditimbulkan kebakaran, belum lagi menghadapi korban yang emosinya tak stabil dan berbagai risiko lainnya yang bisa menimpa setiap waktu. Terlebih, kebakaran tengah menjadi 'trend' belakangan. Oleh sebab itu, pekerjaan yang satu ini bukan dianggap sebagai sekadar profesi oleh pelakunya, melainkan sebuah jalan hidup.

Agus Jaka Pramono (37), petugas Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Jakarta Timur, merupakan salah satunya. Semula, tak terlintas sedikit pun di benaknya untuk bergelut dengan api dan menantang bahaya. Tahun 1993, secara resmi dia menjejakan kaki di Ibu Kota. Sempat bekerja serabutan selepas SMA, dia kemudian bergabung menjadi petugas pemadam pada tahun 1995.

"Sempat malang melintang nggak jelas. Kerja bengkel pernah, ngumpulin barang rongsokan pernah, kuli bangunan pernah, sopir angkot pernah. Kalau dari awal, nggak terfikir, sudah kaya jalan hidup saja memang jadi (petugas) pemadam," ujar ayah dua anak itu kepada Kompas.com, Rabu (29/8/2012) siang di markasnya, Jalan Matraman, Jakarta Timur.

Selama bertugas, ratusan kasus kebakaran telah ditanganinya. Setiap amukan api pun memiliki kenangan akan bahaya tersendiri. Di antara semuanya, penanganan yang paling melekat di benaknya adalah tahun 1997/1998. Dia bersama belasan petugas lainnya bertugas memadamkan api di tengah lalu lalang batu dan peluru. Bahkan pada masa itu, dia pernah dikejar-kejar kubu kelompok yang bertikai karena hendak memadamkan api di kubu lainnya.

Agus menyadari, tugas mulianya itu mengundang rasa khawatir di hati keluarga, terutama bagi sang istri pasca kelahiran anak kedua, enam hari lalu. Pria yang mengaku akan terus memadamkan api hingga akhir hayat ini hanya bisa berpasrah pada Tuhan, agar keluarganya tidak kehilangan tulang punggung.

"Namanya juga tugas. Kami intinya pilihan hidup saya sudah di situ. Khawatir ada, tapi Yang Kuasa yang punya kehendak," ujarnya.

Berbeda dengan Agus yang telah makan panas baranya api, Agung Sulistyo (21) baru bergelut di dunia pemadam sejak tahun 2011. Selepas SMK di daerah Bekasi, Jawa Barat, pria paling muda di intansi tempatnya bekerja ini tak ragu dengan jalan hidupnya. Ia memilih petugas pemadam kebakaran sebagai sandaran hidup.

"Memang sudah cita-cita, kayaknya kalau ngeliat gagah saja," ujarnya.

Sebelumnya, Agung mengaku pernah bekerja di sebuah perusahaan. Namun, tampaknya suasana kerja yang demikian membosankan tak berhasil menggugah jiwanya. Setelah delapan bulan berfikir, dia pun melamar di instansi sekarang dirinya berada. Meski tugasnya selalu menyerempet nyawa, kekhawatiran yang diungkapkan orangtua dan sang kekasih tetap saja tak bisa melunturkan niatnya melakukan tugas mulia membantu sesama yang tengah kesusahan.

"Yang penting kan kami pakai peralatan lengkap. Memang waktu pertama-tama bekerja, rada takut. Tapi ya sudah, masa mau takut terus," ujarnya.

Orang Lapangan, Selesaikan di Lapangan

Di pundak orang-orang seperi Agus dan Agung, memang memikul tanggung jawab yang berat. Di tangan mereka, bergantung harapan warga yang rumahnya diamuk si jago merah. Berpacu dengan waktu untuk segera mungkin datang ke lokasi. Bahkan tak jarang, perburuan waktu petugas, kerap mengundang insiden di jalan. Hal itu pun jadi tantangan tersendiri dari tugas pemadam, tak terkecuali bagi Matulesi Al Fariz, sang sopir mobil pemadam kebakaran.

"Kami sudah klakson, sirine nyala, lampu nyala, tetap saja ada yang nggak merespon. Padahal kami kan berpacu dengan waktu. Kalau berantem fisik sih nggak pernah, cuma kalau ngomel-ngomel sering. Bagi kami orang lapangan, ya selesaikan secara lapangan saja," kata Fariz.

Ayah dari tiga anak tersebut menjadi sopir mobil raksasa pengangkut air sejak tahun 2004. Perannya dalam memadamkan api, cukup vital. Bayangkan, dengan kondisi permukiman di Jakarta yang berlika-liku dan sempit, dia harus mengendalikan mobil berukuran besar untuk segera sampai di lokasi kebakaran.

"Kami feeling saja kalau dapat ya bagus. Kalau nggak, ya paling risiko mobil baret-baret," kata Fariz.

Pria asli Betawi itu mengaku telah mengemudikan mobil sejak kelas enam sekolah dasar. Kala itu, Fariz kerap menjadi sopir angkutan umum pengganti alias sopir tembak. Rupanya, pengalamannya itulah yang mengantar Faiz, begitu ia akrab disapa, dipercaya duduk di belakang kendali mobil pemadam kebakaran, kini. Tak jarang, dia harus membantah perintah sang komandan untuk menerabas jalan jika dalam perhitungannya, tak cukup.

"Kalau hitung-hitungan saya nggak bisa masuk, ya nggak bisa," ujarnya.

Jaminan sejahtera?

Di tengah tugas yang berat, kesejahteraan kiranya mampu membayar itu semua. Namun, ketiganya sepakat bahwa menurut perhitungan matematisnya, kewajiban dan hak orang-orang seperti dirinya belum seimbang lantaran bertaruh nyawa di lapangan. Sementara, asuransi pun hanya bisa dicairkan saat pensiun nanti. Jika dalam penanganan kebakaran, di antara mereka terkena musibah, apalagi hingga cacat, habis sudah.

"Yang ada cuma Asuransi Jiwasraya. Kalau yang harian nggak ada. Cuma bedanya kami ada tunjangan risiko tinggi, sisanya gaji sama kayak PNS, tergantung golongan," kata Agus.

Menurut dia, profesi pemadam kebakaran belum mendapatkan apresiasi positif di Indonesia, baik oleh pemerintahnya maupun masyarakat. Berbeda di Eropa yang anak-anaknya bangga bukan kepalang jika sang ayah bekerja sebagai pemadam kebakaran. Di Indonesia, tak jarang penghargaan mereka hanya sebatas air minum kemasan yang dibagikan usai berhasil memadamkan api, bahkan kerap tanpa sekadar ucapan terima kasih. Namun, apa lah arti semua itu dibanding pengabdian tulus kepada masyarakat.

"Seorang fire man tidak pernah berprasangka buruk. Itu juga tantangan kami sebagai (petugas) pemadam kebakaran," kata Agus Jaka Pramono.


Penulis: Fabian Januarius Kuwado
Editor : Hertanto Soebijoto