Selasa, 21 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 21 Mei 2013 | 16:59 WIB
Tembak Mati, Putuskan Jaringan Informasi
Penulis : Kiki Budi Hartawan | Senin, 3 September 2012 | 01:49 WIB
Dibaca:
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com - Serangkaian penangkapan yang diduga pelaku teror dalam beberapa waktu lalu telah menunjukkan bahwa terorisme masih merupakan ancaman serius di sekitar kita.

Penanganan terhadap aksi-aksi terorisme selama ini pun tak pernah berubah, yaitu dengan menembak mati sebagai salah satu kebijakan yang diusung Densus 88 anti teror.

Hal ini dikatakan oleh salah satu Badan Pengurus SETARA Institute Ismail Hasani. "Walaupun ada beberapa yang ditangkap hidup-hidup. Kebijakan tembak mati hanya memutus rantai informasi yang amat berguna bagi penanganan lebih lanjut. Akibatnya, publik hanya disuguhi informasi sepihak versi Polri, dan dipaksa untuk mengikuti logika pikir dan skenario Polri," ungkap Ismail dalam siaran persnya kepada wartawan, Minggu(2/9/2012).

Menurutnya, dengan melihat latar belakang pelaku dan sasarannya, mereka adalah jaringan Tim Hisbah Solo dan Tim Ightiyalat Klaten, yang belum tuntas ditangani Polri.

Lanjut Ismail, kelompok anak muda tersebut sejak November 2010 berikrar untuk melakukan jihad pada a'immatul kufr (pimpinan kafir yang memusuhi Islam, termasuk polisi).

"Berulangnya aksi teror ini terjadi karena penanganan terorisme yang kurang akuntabel, dan hanya mengikuti skenario Polri yang justifikasinya disiapkan sebelum tindakan penyergapan dilakukan," paparnya.

Ia menjelaskan, selain membutuhkan penanganan yang akuntabel, yang salah satunya tidak menjadikan tembak mati suatu pilihan karena memutus rantai informasi.

"Pihak berwenang harus mulai memperhatikan kelompok-kelompok intoleran yang beroperasi atas nama membela agama," jelas Ismail yang juga pengajar hukum tata negara UIN Jakarta.

Ia menilai, hanya butuh satu tahap bagi kelompok intoleran untuk menjadi radikal. Setelah menjadi radikal mereka butuh satu langkah untuk jadi jihadis dan melakukan teror.

Transformasi radikalisme menujuterorisme inilah area kerja dan penanganan yang utama untuk mencegah terjadinya teror di masa yang akan datang. "Karena membiarkan intoleransi dan radikalisme tumbuh subur sama saja membiarkan bibit-bibit pelaku teror terlahir secara masif."

Ismail mengingatkan bahwa intoleransi adalah titik awal dari terorisme dan terorisme adalah puncak dari intoleransi.

Penelitian yang dilakukan SETARA Institute tentang Transformasi Radikalisme menuju Terorisme (2011), tergambar bahwa M Syarif (Cirebon), dan Siqit Qordhawi (Solo) merupakan sosok yang pada awalnya hanya 'berjuang' memberantas maksiat di sekililingnya atau tidak sependapat dengan Ahmadiyah dan dugaan kristenisasi. "Pada akhirnya mereka bertransformasi menjadi radikal dan jihadis," tandasnya.

Editor :
Benny N Joewono