Sabtu, 25 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 25 Mei 2013 | 17:03 WIB
Dari Spanduk, Tulisan SARA Beralih ke Coretan Dinding
Penulis : Imanuel More | Rabu, 5 September 2012 | 20:06 WIB
Dibaca:
|
Share:

Dari Spanduk, Tulisan SARA Beralih ke Coretan Dinding
KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Kampanye Damai Pilkada Jakarta - Aktivis dari kelompok Komunitas Intelektual Muda Betawi menggelar kampanye damai pilkada Jakarta di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (2/9/2012). Mereka menyerukan dihentikannya kampanye sara untuk mewujudkan Jakarta yang damai.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah Panwaslu DKI Jakarta melakukan penertiban spanduk-spanduk bernuansa SARA, para pelakunya tidak kehilangan akal dalam menghembuskan isu yang dikaitkan dengan Pilkada DKI Jakarta. Pasalnya, tembok menjadi media baru.

"Sekarang mereka mengganti media penyampaiannya. Setelah spanduk dan banner kami tertibkan, tulisan sekarang dalam bentuk coretan di tembok atau semacam grafiti," Kata Andy Maulana, Ketua Panwaslu Jakarta Selatan, saat dihubungi Kompas.com, Rabu (5/9/2012) malam.

Coretan di tembok berbau SARA, di antaranya ditemukan di Jalan Fatmawati Raya, Cilandak, Jaksel. Tulisan yang diduga bertujuan menyerang kandidat tertentu dalam Pilkada DKI itu terpajang di tembok pagar berwarna hijau. Di seberangnya terdapat pos ormas tertentu.

Coretan berbau SARA itu sudah terlihat sejak tiga hari lalu. Tulisan bernada serupa terdapat di Jalan Buncit Raya, Jaksel. Sebagaimana di Cilandak, tulisan tersebut berupa coretan di dinding sebuah bengkel.

"Bagusnya sih jangan gini. Kalau begini sih bisa timbul SARA. Kesannya mengadu domba," kata Adang, pengguna jalan yang ditemui di dekat lokasi di Jalan Fatmawati Raya.

Menanggapi hal ini, Andy mengaku sudah mendapat informasi keberadaan tulisan-tulisan SARA tersebut. Ia mengungkapkan, Panwaslu malam ini juga telah mengirimkan petugasnya untuk mengumpulkan data dan mendokumendasikan bukti adanya coretan SARA.

"Kami perlu kumpulkan bukti dulu dan segera menetapkan langkah yang akan dilakukan. Mungkin kita akan tutupi dengan pilox atau dicat saja," kata Andy.

Terkait kelompok orang tertentu yang meneriaki orang yang ingin mengambil gambar tulisan tersebut, Andy tidak menutup kemungkinan bila kelompok tersebut memiliki kaitan atau kepentingan dengan tulisan SARA. Karena itulah, Andy menjelaskan akan lebih dulu berdialog dengan warga sekitar.

"Bisa saja ada kaitan. Karena itu kami akan bersikap persuasif, coba berdialog dulu sebelum menghapus tulisannya," pungkas Andy.

Editor :
Aloysius Gonsaga Angi Ebo