Jumat, 24 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 24 Mei 2013 | 16:36 WIB
Bertahan Hidup di Kali Sunter yang Tercemar
Penulis : Galih Prasetyo | Kamis, 6 September 2012 | 16:32 WIB
Dibaca:
|
Share:
Bertahan Hidup di Kali Sunter yang Tercemar Galih Prasetyo Kondisi Kali Sunter yang kian tercemar limbah di Jalan Sunter Jaya I, Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (6/9/2012).

JAKARTA, KOMPAS.com - Limbah di Kali Sunter sudah membuat resah warga sekitar. Namun apa daya, tidak ada yang bisa dilakukan warga untuk mengatasi masalah tersebut, yang diperkirakan sudah berlangsung 20 tahun.

Pantauan Kompas.com, kondisi kali bukan hanya dipenuhi sampah, tapi juga penuh lumpur. Airnya sudah pasti tidak mengalir, kecuali saat hujan. Warnanya pun sudah hitam pekat. Baunya, bagi yang tidak terbiasa, sudah pasti menahan nafas sambil menutup lubang hidung. Bangunan kumuh di sepanjang pinggiran kali yang rapat satu dengan yang lainnya, menambah tidak sedap pemandangan mata.

Roy Kepangalila (44), warga Sunter Jaya yang bermukim persis berhadapan dengan kali mengatakan kondisi demikian sudah membuat warga tak nyaman. Bukan hanya udara yang bau, namun air pun tercemar.

Dia juga amat menyayangkan, warga sekitar ikut berkontribusi dengan pencemaran, misalnya dengan membuang sampah ke kali.

"Sering sekali saya menyaksikan, seperti truk tangki tinja (limbah) membuang limbah ke sini. Ya, minimal dua bulan sekali itu pasti. Saya biasanya melihat pembuangan itu sekitar sebelum pukul 02.00 WIB dini hari, karena kebetulan saya kalau berangkat kerja malam," katanya Kepada Kompas.com, Kamis (6/9/2012).

Tempat Roy tinggal juga tepat dekat sekali dengan kali. Daerah itu dikenal sebagai Kampung Kangkungan, atau Kampung Semut. Nama itu terkenal karena rumah-rumah yang rapat, juga  karena tidak ada RT atau RW di sana.

Untuk memenuhi kebutuhan air, biasanya warga sekitar membeli air dari penjual air keliling. Mereka sudah tidak bisa mengandalkan sumur yang sudah tercemar.

"Untuk mandi kita biasanya membeli air pikul seharga Rp 4.000 dapat dua jeriken. Karena kalau mandi menggunakan air sumur, badan bisa gatal-gatal," ujar Roy, yang sudah tinggal di daerah itu selama 3 tahun.

Keluhan yang sama juga diungkapkan Alan (35), seorang ibu rumah tangga. Ketika mencuci baju dengan air sumur, airnya terlihat berbusa dan hasilnya licin. Jika digunakan untik mandi, badan pun terasa gatal-gatal.

"Iya, kita yang tinggal di sekitar kali merasakan bau tidak enak. Kalau mencuci pakaian airnya berbusa, licin dan membuat gatal," tuturnya.

Tidak ada yang bisa diperbuat warga untuk mengatasi bau dari pencemaran di Kali Sunter tersebut. Bahkan Staf Penanggulangan Air Limbah Sudin Kebersihan Jakarta Utara Jihat Utomo mengaku baru tahu ada mobil truk yang membuang limbah ke kali.

"Saya baru mengetahui. Kalau memang benar seperti itu, nanti kita akan cek ke lokasi, karena mesti jelas identitas mobil truknya apa. Mengenai itu tentu ada aturan, ada sanksi," ujarnya.

 

Editor :
Ana Shofiana Syatiri