Sabtu, 20 September 2014

News / Megapolitan

Curanmor di Jakarta Timur Menurun, Tapi...

Jumat, 7 September 2012 | 10:51 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Angka pencurian kendaraan bermotor (curanmor) di Jakarta Timur, menurun antara tahun 2011 dan 2012. Sejumlah kebijakan pengetatan keamanan di lingkungan warga menjadi alasan penurunan angka tersebut. Meski demikian, Polisi masih menemui sejumlah kesulitan untuk mengungkap kasus yang meresahkan warga tersebut.

Berdasarkan data dari Sub Bagian Humas Polrestro Jakarta Timur, per Januari-Agustus 2011 dan per Januari-Agustus 2012, penurunan tingkat curanmor menembus angka 52,5 persen antara kedua tahun tersebut. Namun, persentase kasus yang diselesaikan, relatif kecil. Per tahun, rata-rata hanya 21 persen kasus yang selesai.

Tahun 2011, angka curanmor roda dua mencapai 308 kasus, namun jumlah kasus yang mampu diselesaikan hanya mencapai 48 kasus. Sementara curanmor roda empat, mencapai 57 kasus. Namun, jumlah kasus yang diselesaikan hanya 10. Berbeda dengan tahun 2012. Angka curanmor kendaraan roda dua 144 kasus, namun yang selesai hanya 44. Sementara roda empat, sebanyak 47 kasus, 9 di antaranya diselesaikan.

Kepala Sub Bagian Humas Polrestro Jakarta Timur, Komisaris Didik Haryadi mengatakan, keberhasilan polisi menekan angka pencurian kendaraan bermotor di wilayah yang rawan akan aksi pencurian tersebut, merupakan kerja dari semua unsur. Mulai dari pengetatan sistem keamanan di lingkungan, pelibatan warga setempat, patroli keamanan dan sebagainya.

Sayangnya, penurunan angka curanmor itu, tak dibarengi dengan persentase pengungkapan kasus yang signifikan. Terlihat dari rentang 16 bulan, mulai Januari-Agustus 2011 dan 2012, terdapat tujuh bulan yang tidak ada satu kasus yang terungkap. Kondisi demikian menjadi tantangan para aparat penegak hukum untuk melayani dan melindungi masyarakat.

Kesulitan

Didik mengatakan, faktor utama yang menjadi kesulitan pihak kepolisian mengungkap kasus yang meresahkan masyarakat tersebut adalah soal modus. Setelah berhasil mendapat buruan, pelaku kemudian memereteli spare part kendaraan, terutama roda dua. Hal itu dilakukan karena jadi cara paling mudah menghilangkan jejak dari penciuman aparat. Terlebih, laba yang dihasilkan juga lebih besar ketimbang menjual utuh.

"Kami nggak bisa melacak kecuali kami gerebek lokasi motor-motor itu dipereteli. Masalah itu juga kami kurang informasi dari masyarakat. Beda dengan motor gelondongan (motor utuh), itu bisa terungkap saat razia-razia lalu lintas," ujar Didik saat ditemui Kompas.com di kantornya, Kamis (6/9/2012) sore.

Menurut Didik, pihak kepolisian tidak bisa begitu saja merazia tempat-tempat penjualan spare part potongan. Meski, mungkin sudah menjadi rahasia umum tempat tersebut menjual spare part hasil pencurian. Namun, polisi tidak bisa serta merta menangkap sang penadah tanpa bukti otentik, spare part tersebut merupakan milik korban pencurian.

Kerjasama dan waspada

Didik mengatakan, berdasarkan data dari Polrestro Jakarta Timur, Kecamatan Jatinegara disusul dengan Kecamatan Duren Sawit menjadi black spot aksi pencurian kendaraan bermotor. Menurut dia, faktor padatnya penduduk, banyak pusat-pusat perbelanjaan serta dinamisasi yang ada di area itu yang membuat dua kecamatan itu, bagai surga bagi pencuri.

"Beberapa titik yang dipantau, memang terjadi di tempat-tempat ramai, selain permukiman. Misalnya, Pasar Jatinegara, Stasiun Jatinegara dan lainnya," ujarnya.

Di sisi lain, banyak lokasi yang rawan pencurian kendaraan bermotor, karena kondisinya gelap, jauh dari penerangan. Misalnya, di sepanjang Kanal Banjir Timur (KBT), Pondok Kopi, Duren Sawit, lampu jalan kerap tak menyala sehingga mampu mengundang tindak kejahatan. Padahal, Polrestro Jakarta Timur telah bersurat dengan Dinas Pertamanan dan Pemakanan terkait hal itu. Namun, belum ada tanggapan. Meski angka pencurian kendaraan bermotor turun, masyarakat diimbau tetap waspada dan jangan terlena.

"Pencegahan itu wajib dari kita sendiri. Kunci pengaman ganda, tingkatkan keamanan lingkungan. Dari kita ya patroli rutin, mudah-mudahan semakin turun lah," ujar Kompol Didik Haryadi.


Penulis: Fabian Januarius Kuwado
Editor : Hertanto Soebijoto