Rabu, 23 April 2014

News / Megapolitan

Istri Mantan Gubernur DKI Itu Hidup Sederhana

Minggu, 9 September 2012 | 10:51 WIB

Baca juga

Sudah beberapa tahun ini, Evelyn Ngantung Mamesah (73), janda mendiang Gubernur DKI Jakarta (1964-1965) Hendrik Hermanus Joel Ngantung atau Henk Ngantung, tinggal sendiri di rumahnya di Gang Jambu, Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur. Benar-benar sendiri, tanpa pembantu.

”Jangankan buat membayar pembantu, buat bayar listrik saja terbatas,” kata Evelyn tersenyum. Ia tidak berniat nyinyir atau menyindir. Ia memang perempuan periang, energik, berpikir bebas dan terbuka, serta selalu ingin tampil cantik dengan segala keterbatasannya.

Bila malam, kebun belakang rumahnya yang bertepi bantaran kali di bagian bawah itu gelap tanpa lampu. Sebagian langit-langit rumah, termasuk studio mendiang suaminya, sudah banyak berlubang, ambrol, dan bocor bila hujan datang. Dari luar tampak seng-seng tulangan atap sirap rumah centang-perenang rusak berkarat. Sekilas rumah, kebun, dan halaman rumah Henk kusam kurang terawat, tetapi tak menghilangkan suasana teduh dan tergolong bersih.

”Papa pernah membuat halaman belakang bergunung-gunung ditanami rumput manila dan sedikit tanaman hias dan tanaman gantung,” kata Kamang (44), anak ketiga dari empat anak Henk-Evelyn, Sabtu (8/9) sore.

Kini, halaman belakang dipenuhi pepohonan. ”Tidak ada pagar pembatas, tidak ada penerangan lampu karena uang pensiun bulanan suami hanya Rp 850.000,” kata Evelyn diikuti derai tawanya.

Evelyn ingin menawarkan bangunan dan tanah seluas 2.400 meter persegi, yang dibeli tahun 1971 seharga Rp 5,5 juta, itu kepada Pemerintah Provinsi DKI. ”Saya kira cocok jika rumah, termasuk studio Pak Henk dan halaman belakang lumayan luas dan teduh ini, dijadikan satu sanggar tempat para seniman dan budayawan di lingkungan Jakarta Timur,” tutur Evelyn.

Pendapatnya diamini sejumlah seniman dan jurnalis senior saat bertemu di rumah Henk, kemarin. Mereka antara lain Harry D’Fretes, Alwi Shihab, Aristides Katoppo, produser film Gatot, dan Tubagus Andre dari Galeri Nasional Indonesia. Buat mereka, rumah dan halaman milik Henk layak menjadi sanggar seni dan museum.

”Banyak sejarah dan kenangan indah bertebaran di rumah ini,” kata Alwi. ”Di tengah terbatasnya lahan bagi ruang budaya yang pas di Jakarta, tawaran Ibu Evelyn sangat layak dipertimbangkan,” kata Andre. Harry menyela, ”Wah, gue bisa rajin latihan lenong kalau ada sanggar seni di sini.”

Henk yang terkenal dengan lukisannya, ”Pemanah”, ”Gajah Mada”, serta ”Ibu dan Anak”, adalah salah satu pelukis berbakat di Indonesia. Saat ditanya, ”Jika pemerintah provinsi menolak tawaran Ibu?” Evelyn menjawab, ”Apa boleh buat.... Saya harus pindah karena untuk perempuan seusia saya sekarang, rumah ini sudah terlalu luas,” tuturnya. (WINDORO ADI)

 


Editor : Laksono Hari W
Sumber: