Senin, 31 Agustus 2015

Megapolitan

Manassa Rintis Digitalisasi Naskah Nusantara

Jumat, 14 September 2012 | 05:58 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com--Masyarakat Pernaskahan Nusantara bersama pihak terkait sedang merintis digitalisasi manuskrip naskah Nusantara di luar negeri untuk melestarikan naskah itu.

"Pelestarian naskah-naskah Nusantara yang berada di luar negeri, itu penting. Meskipun membutuhkan dana yang tidak sedikit, upaya tersebut perlu dilakukan," kata Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Oman Fathurahman di Yogyakarta, Kamis.

Selain masalah dana, menurut dia di sela-sela penutupan Simposium Internasional Ke-14 Manassa, masih ada beberapa persoalan lain seperti perawatan, teknologi, dan rendahnya kesadaran masyarakat bahkan kalangan istana (keraton) tentang arti penting naskah kuno.

Ia mengatakan banyak warga yang terbentur persoalan ekonomi kemudian menjual atau tidak bisa merawat dengan baik naskah kuno yang dimilikinya.

"Di beberapa istana (keraton) juga ada yang belum terbuka ketika kami akan melakukan revitalisasi naskah-naskah tersebut. Kami berharap mereka akan semakin terbuka," katanya.

Peneliti naskah dari Ecole Francaise d¿Extreme-Orient (EFEO) Prancis, Henry Chambert Loir mengatakan lebih dari 10.000 naskah Nusantara saat ini tersebar di luar negeri.

"Dari jumlah itu sekitar separuhnya berada di Belanda dan beberapa lokasi lain seperti perpustakaan di Inggris. Meskipun berada di luar negeri kondisi naskah-naskah tersebut terawat dengan baik," katanya.

Menurut dia ada yang perlu disyukuri karena naskah-naskah yang cukup tua tersebut terawat dan dibawa dengan sah seperti dibeli.

"Naskah yang rata-rata umurnya cukup tua seperti dibuat abad ke-17 Masehi dibawa ke luar negeri dengan cara-cara yang sah seperti dibeli. Kesadaran masyarakat di luar negeri cukup bagus terkait naskah-naskah kuno maupun peninggalan sejarah lainnya," katanya.

Ketua Panitia Simposium, Sudibyo mengatakan Simposium Internasional Ke-14 Manassa itu menghasilkan beberapa rekomendasi penting. Rekomendasi itu di antaranya masukan kepada pemerintah untuk mengubah beberapa nama monumen di antaranya Arjuna Wijaya di Jakarta.

"Mungkin seharusnya Arjuna Jaya, karena tokoh itu bukan Arjuna Sasrabahu tetapi Pandawa. Hal itu merupakan salah satu rekomendasi yang akan kami sampaikan selain beberapa rekomendasi lainnya," kata dosen Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM itu.

Editor : Jodhi Yudono
Sumber: