Kamis, 28 Agustus 2014

News / Megapolitan

Ini Alasan Pemenang Pilkada DKI Sulit Diprediksi

Selasa, 18 September 2012 | 17:32 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com - Lingkaran Survey Indonesia (LS) Network, merilis hasil survei dan analisis Pilkada DKI Jakarta 2012 kepada media massa. Hasilnya, pemenang pesta demokrasi lima tahunan warga Jakarta ini, sulit diprediksi.

Arman Salam, Direktur Riset LSI mengatakan, tidak bisa diprediksinya pemenang dalam Pilkada DKI dapat dilihat dari enam alasan.

"Penyebab pertama, respon rata-rata yang kita lakukan hanya 68 persen. Sementara 32 persen responden yang terpilih merupakan responden pengganti yang sedikit banyak berpengaruh pada keakuratan hasil survei," ujar Arman dalam rilis di Kantor LSI, Selasa(18/9/2012).

Penyebab kedua, peneliti mengelompokan jenis jawaban ke dalam tiga kelompok, pertanyaan terbuka, pertanyaan tertutup dan pertanyaan militan. Pada pertanyaan terbuka siapa calon yang akan dipilih, pasangan Foke-Nara unggul 45,1 persen, sementara Jokowi-Basuki 44,2 persen.

Namun, jika dilihat dari pertanyaan tertutup, pilihan responden kepada Jokowi-Basuki meningkat menjadi 46,1 persen, sementara Foke-Nara hanya 44,3 persen.

Demikian halnya dalam menguji militansi responden dalam memilih calon. 34,2 persen lebih memilih Jokowi-Basuki dan 32,3 persen memilih Foke-Nara.

"Persaingan sangat ketat, kedua pasangan berpeluang sama untuk menang. Pasalnya, masa mengambang masih tinggi, yaitu sebesar 33,5 persen," terangnya.

Penyebab ketiga, lanjut Arman, Jokowi unggul telak di luar kelompok muslim, Jawa dan China. Sementara Foke unggul tipis pada kelompok Islam, perempuan dan Betawi.

Sebarannya, yaitu 45,3 persen responden yang beragama Islam memilih Foke-Nara dan 40,1 persen memilih Jokowi-Basuki. Bagi responden yang beragama Protestan, 68,8 persen memilih Jokowi-Basuki dan 25 persen memilih Foke-Nara.

Dari sisi jenis kelamin laki-laki, 42,9 persen responden memilih Foke-Nara dan 41 persen responden memilih Jokowi-Basuki. Sementara untuk perempuan 45,7 persen memilih Foke-Nara dan 44,4 persen memilih Jokowi-Basuki.

"Dari segi suku, 55,6 persen orang Betawi memilih Foke-Nara, 29,9 persen memilih Jokowi-Basuki. Suku Jawa, 55,6 persen memilih Jokowi-Basuki dan hanya 31,3 persen memilih Foke-Nara. Sementara suku China, 66,6 persen memilih Jokowi-Basuki dan 29,4 persen memilih Foke-Nara," ungkapnya.

Penyebab keempat adalah golput yang tak menentu. Menurut hasil survei, tingkat golput di DKI sekitar 30 hingga 40 persen yang tersebar pada aneka segmen demografi pemilih. Jika lebih banyak pendukung Jokowi yang golput, pasangan Foke-Nara bisa menang, demikian pula sebaliknya.

Penyebab keenam, yaitu media informasi yang digunakan responden, memiliki pengaruh terhadap cagub-cawagub yang akan dipilih. Hasilnya, sebanyak 31,50 persen responden yang akrab dengan media cetak koran, memilih Jokowi-Basuki dan 59,20 persen memilih Foke-Nara. Namun, angka tersebut berbanding terbalik pada responden yang akrab dengan sosial media di internet.

"55,20 persen responden lebih memilih Jokowi-Basuki dan 34,10 persen lebih memilih Foke-Nara. Pemain sosial media entah itu Twitter, Facebook, yahoo dan lainnya lebih banyak ke Jokowi-Basuki," tuturnya.

Penyebab terakhir, yaitu pertanyaan mengenai siapa pasangan yang paling dikenal dan siapa pasangan yang paling disukai. Hasilnya, Foke lebih populer ketimbang Jokowi. Namun, Jokowi lebih disukai publik DKI ketimbang Foke.

Persentase responden yang mengenal Foke sebesar 95,8 persen dan Jokowi 88,7 persen. Sementara, dalam hal kesukaan, Jokowi sebesar 65,2 persen dan Foke hanya 60,9 persen.

Survei itu dilakukan pada bulan September 2012 dengan metode tatap muka dengan kuesioner. Design sampling menggunakan metode multistage random sampling dengan jumlah responden awal 440 dan margin error 4,8 persen.

 


Penulis: Fabian Januarius Kuwado
Editor : Ana Shofiana Syatiri