Kamis, 2 Oktober 2014

News / Megapolitan

Ini Tim Rahasia yang Mengawal Pemenangan Jokowi-Basuki

Rabu, 19 September 2012 | 23:06 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Banyak orang yang tersentak dengan hasil putaran pertama Pilkada DKI Jakarta. Saat itu, cukup banyak orang yang meyakini pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama akan menjadi kuda hitam yang akan menyodok ke putaran kedua.

Namun, tak banyak yang meyakini sejak awal bahwa Jokowi-Basuki (JB) akan lolos dengan status nomor 1. Tentu saja pasangan pesaingnya saat ini yang oleh banyak lembaga survei ditempatkan pada posisi pertama menjadi pihak yang paling terhenyak dengan hasil pencoblosan pada 11 Juli 2012 lalu.

Pasalnya, sejak awal mereka telah mengusung semboyan "Menang dalam Satu Putaran". Ada banyak faktor yang kemudian coba dianalisis oleh para pengamat terkait keunggulan Jokowi-Basuki.

Keinginan warga akan perubahan Jakarta menjadi opini favorit. Tetapi, tak sedikit yang menilai kesolidan tim pemenangan JB menjadi faktor penentu.

Pandangan terakhir rasanya tidak keliru. Bukan sekadar solid, tim pemenangan JB bergerak secara rahasia dan terorganisasi rapi, memetakan kekuatan lawan, menerobos lumbung-lumbung suara hingga lapisan terbawah, mengelola media-media sosial, termasuk melakukan perang di dunia maya dengan pendukung lawan.

"Ini kami yang selama ini boleh dikatakan hanya bergerak di bawah tanah. Tim ini sebenarnya sudah dibentuk dan mulai bergerak sejak pendaftaran pasangan calon pada bulan Maret lalu," ungkap Hasan Nasbi, Koordinator Tim Relawan JB, di Pusat Data Tim JB, Menara 165, Jalan TB Simatupang, Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (19/9/2012).

Aksi mereka tak banyak terdengar sebelumnya lantaran mereka bergerak secara diam-diam. Hasan secara khusus menekankan bahwa orang-orang yang telah dilatih selama 3,5 bulan itu memang baru pertama kali diperkenalkan secara terbuka kepada publik.

Dengan anggota yang terdiri dari anak-anak muda, mereka terbiasa menggunakan perangkat teknologi. Sebanyak 150 orang muda itu duduk di depan 150 laptop mengawasi lalu lintas informasi dengan 45.000 relawan lain yang berada di lapangan.

"Mereka adalah operator data center. Tiap orang bertugas memonitor dan berkomunikasi dengan 300 orang relawan lapangan," ulas Hasan.

Data center ini beroperasi selama 24 jam mulai H-3 hingga H+3 Pilkada DKI. Tugas utama mereka selama momen krusial itu adalah memantau pelaksanaan pilkada yang bersih dan adil.

Mereka juga akan mengawasi pelaksanaan pencoblosan hingga proses perhitungan suara untuk mengantisipasi setiap potensi kecurangan.

"Jadi jangan coba-coba berbuat curang. Kami siap untuk mengawasi dan melaporkan apa pun bentuk kecurangan yang dilakukan lawan," tegas Hasan.

Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Fadly Zon yang mendampingi Hasan menambahkan, sebenarnya tugas utama mereka adalah menjamin penyaluran hak konstitusi setiap warga tidak terbelenggu oleh kepentingan tertentu.

Pilkada yang bersih dan adil terjadi manakala setiap warga yang telah memiliki hak pilih dapat menyalurkan hak suaranya secara bebas dan rahasia, kemudian suara mereka itu benar-benar terhitung sesuai dengan aspirasi yang tersalurkan melalui kertas suara.

"Ini merupakan usaha untuk menciptakan demokrasi yang bersih. Kami ingin menjamin setiap warga memiliki hak pilih dan suara mereka terhitung secara tepat. Kami ingin tunjukkan bahwa Jokowi-Basuki siap untuk menghadapi pilkada ini secara fair," tandas Fadly.


Penulis: Imanuel More
Editor : Benny N Joewono