Kamis, 27 November 2014

News / Megapolitan

Sebelum Tewas, Alawy Sempat SMS Ibunya

Selasa, 25 September 2012 | 02:11 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com - Alawy Yusianto Putra (15), siswa Kelas X SMAN 6 Jakarta masih sempat mengirim pesan singkat kepada ibunya sebelum ia menjadi korban tewas dalam penyerangan atas pelajar SMAN 6 di Bulungan, Jakarta Selatan, Senin (24/9/2012).

Dalam pesan singkat tersebut, ia meminta izin kepada ibunya, Endang Puji Astuti, untuk mengikuti kegiatan ekstra kurikuler di sekolah. "Alawy sempat SMS ke ibunya bahwa akan ikuti ekskul latihan band di sekolahnya. Sayangnya dia sekarang sudah tak ada," ungkap Tauri Yusianto (49), ayah Alawy, saat ditemui di RS Muhammadiyah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (24/9/2012).

Alawy tercatat sebagai salah satu personil band sekolahnya. Saat kejadian, ia bersama beberapa rekannya, termasuk Zurah (15) yang juga personil band yang sama sedang menikmati makanan di Gultik Bulungan. Lokasi tersebut hanya berjarak seratusan meter dari Kompleks SMAN 70.

Saat itulah tiba-tiba muncul puluhan pelajar berseragam dan atribut SMAN 70 yang membawa senjata tajam menyerang ke arah kelompok kecil siswa SMAN 6. Serangan tiba-tiba itu membuat Alawy cs tidak bisa membela diri kecuali dengan cara berlari menyelamatkan diri.

Sayang, Alawy tak bisa meloloskan diri. Ia dibacok dari arah belakang dengan senjata tajam yang diduga jenis celurit/arit hingga menyebabkan dadanya sobek. "Kata gurunya, anak saya ditusuk waktu mau makan bersama teman-temannya. Mereka (pelajar SMAN 70) langsung menyerang dan menusuk anak saya dengan celurit," keluh Tauri.

Ayah dua anak itu menuturkan, saat kejadian ia tengah bekerja di kantornya. Tiba-tiba ada telepon dari pihak sekolah yang meminta Tauri segera berangkat ke RS Muhammadiyah karena anaknya mengalami kecelakaan. "Saya disuruh ke Rumah Sakit Muhammadiyah. Tapi waktu saya sampai di sini, Alawy sudah meninggal dunia," kata Tauri dengan pandangan kosong.

Warga Perumahan Ciledug Indah II itu kemudian ikut mengantar jasad putranya ke RS Fatmawati, Cilandak, Jaksel, untuk menjalani visum. Saat itu, ia mengaku belum mengetahui reaksi isterinya bila menerima kedatangan putranya kembali ke kediaman mereka dalam keadaan tak bernyawa.


Penulis: Imanuel More
Editor : Erlangga Djumena