Selasa, 30 September 2014

News / Megapolitan

Jual Hewan Kurban, Meraup Untung di Tanah Bekas Sekolah

Selasa, 9 Oktober 2012 | 10:55 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kreativitas dalam menjalankan dunia bisnis dan usaha memang mutlak diperlukan. Sekecil apa pun peluang yang ada, harus bisa dimanfaatkan. Tujuannya, tak lain dan tak bukan untuk meraup untung besar.

Arif Rahman (45) salah satunya. Menjelang Hari Raya Idul Adha 1433 Hijriah atau yang biasa disebut Lebaran Haji, aktivitas warga Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur itu berubah. Dia meninggalkan pekerjaan sehari-harinya sebagai pengusaha pengadaan alat-alat kesehatan untuk beralih sejenak ke usaha jual beli hewan kurban.

Sebagai pengusaha musiman yang telah dilakoninya sejak tahun 1990, tempat usaha untuk menjual hewan ternaknya pun berpindah-pindah. Tahun ini, ayah tiga anak itu mengadu peruntungannya di tanah bekas bangunan SD seluas sekitar 400 meter persegi di Jalan Dewi Sartika, Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur.

"Ya namanya juga pedagang musiman. Nggak ngontrak, kami tahu ini kan kosong karena milik Rumah Sakit Budi Asih, kami tempati. Tempatnya strategis," ujarnya saat ditemui Kompas.com, Selasa (9/10/2012) pagi.

Tempat penjualan hewan kurban itu pun dibuat layaknya minimarket. Meski tak beratap dan seperti tempat penjualan hewan pada umumnya, bau, tempat usaha Arif dibagi menjadi dua, yaitu tempat dagangan dan kasir. Pembeli yang datang langsung disambut untuk melihat-lihat hewan terlebih dahulu dan berakhir di kasir.

Terdapat setidaknya tiga jenis hewan kurban yang dijual, yaitu sapi, kambing dan domba. Ketiganya pun memiliki harga yang bervariasi. "Untuk sapi lokal kita hargai Rp 10 juta sampai Rp. 20 juta. Ada yang limousine lebih dari itu. Kalau kambing dan domba dari Rp 1,3 juta sampai Rp. 2,25 juta," ujarnya.

Di tempat usaha miliknya, dia menjamin seluruh hewan kurban yang dijualnya layak dikonsumsi. Dia mementingkan kualitas pakan hewan-hewannya. Setidaknya, tiga kali jenis rumput dan satu kali konsentrat diberikan tiap harinya. Belum lagi sertifikat layak konsumsi dari pemerintah membuat Arif selalu lancar dalam usahanya.

Meski Arif tergolong pengusaha yang telah berpengalaman, dia mengaku tak tertarik dengan pengembangan strategi penjualan, seperti yang dilakukan banyak penjual hewan kurban lainnya. Misalnya dengan menjual secara online.

"Beda, sapi ini kan barang hidup. Kalau kami selalu mengedepankan permormancenya," ujarnya.

Tak mau neko-neko dengan strategi penjualan hewan-hewan ternaknya, bukan berarti usahanya tak berkembang. Rupiah dengan angka menggiurkan tetap di dapat atas usaha Arif tersebut.

"Setiap tahun sih meningkat omzetnya. Katakan lah kami dapat 4 koma sekian miliar lah setiap usaha ini," ujar Arif.

Usaha itu pun, aku Arif, tak semata-mata demi mencari keuntungan. Seperti kutipan ayat Al-Quran yang ditulis di setiap brosur penjualannya, ia percaya kurban memiliki arti orang yang mendekatkan diri pada Allah dan jika berani mencari nafkah, harus berani juga untuk berkurban.


Penulis: Fabian Januarius Kuwado
Editor : Hertanto Soebijoto