Sabtu, 1 November 2014

News / Megapolitan

Tolak Kekerasan, Wartawan Unjuk Rasa di Depan Istana

Rabu, 17 Oktober 2012 | 10:05 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Para wartawan baik dari media cetak, televisi, maupun online merencanakan unjuk rasa menuntut keadilan dan kebebasan pers terkait insiden pemukulan sejumlah wartawan di Riau oleh oknum TNI pada Selasa (16/10/2012). Unjuk rasa ini akan dilakukan pada Rabu (17/10/2012) mulai pukul 09.00 WIB.

Aksi akan dimulai dari Patung Kuda, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Para wartawan akan melakukan long march menuju Kantor Menko Polhukam, lalu menuju Kantor Menteri Pertahanan, dan berakhir di Istana Negara. "Monggo, mohon kehadiran teman-teman wartawan untuk solidaritas tanpa kekerasan," demikian bunyi undangan untuk aksi ini.

Diberitakan sebelumnya, sejumlah wartawan yang akan mengambil gambar di lokasi jatuhnya pesawat tempur jenis Hawk 200 milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) di Riau, Selasa (16/10/2012), dihadang oknum anggota TNI AU. Wartawan yang sudah berada di lapangan beberapa saat pascakejadian dilarang meliput, bahkan ada beberapa yang dipukul.

Salah seorang warga mengakui bahwa wartawan dilarang meliput dan dipukul oleh oknum TNI. Tiga wartawan mengalami tindak kekerasan. Mereka adalah wartawan TV One yang dipukul dan kameranya disita. Demikian juga dengan Didik dan Rian, fotografer harian Riau Pos dan LKBN Antara. Selain dipukul, kamera keduanya juga disita.

Tidak hanya wartawan yang mengalami tindak kekerasan. Dua mahasiswa Universitas Islam Riau yang mencoba mengambil foto dengan kamera telepon genggam juga ditinju tentara hingga bibirnya pecah.

Pesawat yang meledak di kawasan Pasir Putih, Pandau, Kabupaten Kampar, Riau, adalah pesawat tempur Hawk 200 milik TNI AU. Pilot selamat dengan kursi pelontar sebelum pesawat jatuh. Adapun sang pilot, Letda Reza, jatuh di area kolam sekitar permukiman warga. Di lokasi puluhan personel TNI AU sudah bersiaga. Mereka bersikap represif terhadap siapa saja yang mendekati lokasi. Tindakan kasar dilakukan terhadap siapa saja yang mencoba mengabadikan situasi di lapangan.


Penulis: Joe Leribun
Editor : A. Wisnubrata