Rabu, 3 September 2014

News /

BANJIR

"Tsunami" di Basemen Plaza UOB

Sabtu, 19 Januari 2013 | 04:28 WIB

Rafa Muhammad (22) sedang berada di pos parkir Lantai Dasar 1 Plaza UOB, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (17/1), ketika ia mendengar teriakan untuk menyelamatkan diri. ”Ada air, ada air,” katanya menirukan teriakan yang didengarnya kala itu.

Tanpa pikir panjang, Rafa langsung berlari menuju pintu keluar di bagian barat gedung. Waktu itu, ketinggian air masih sekitar 50 sentimeter sehingga ia bisa lewat. ”Saat itu air belum tinggi, baru sebetis,” ujarnya di Jakarta, Jumat.

Rafa, pelayan sebuah restoran di Plaza UOB, menyatakan, arus air saat itu sangat deras. Bersamanya, ada lima orang lain yang turut menyelamatkan diri. Kala itu, ia mengatakan, dirinya tak mendengar alarm tanda bahaya. ”Yang saya dengar cuma teriakan untuk lari,” katanya.

Rafa mengaku menyelamatkan diri sekitar pukul 10.30. Sebelumnya, ia menyatakan, tak ada pemberitahuan dari pengurus restoran maupun pengurus gedung yang memerintahkan evakuasi.

Irman (40) saat kejadian sedang berada di Basemen 1 Plaza UOB. Sopir yang bekerja untuk Bank UOB itu sedang berada di mobil saat teriakan untuk lari terdengar. ”Ya, saya langsung tancap gas, bawa mobil keluar,” ungkapnya.

Mobil Kijang yang dikendarai Irman berhasil menerobos genangan air. ”Saat itu air baru merendam seperempat ban mobil,” ujarnya. Menurut Irman, saat itu cukup banyak mobil di basemen 1 yang buru-buru keluar. ”Airnya deras sekali. Benar-benar seperti tsunami kecil,” tambahnya.

Lain lagi cerita yang dialami Ook (30), pegawai sebuah bank swasta yang berkantor di Plaza UOB. Saat itu, ia sedang berada di lantai 26. ”Kondisi saat itu, beberapa alat listrik, seperti lampu dan AC, mati, tapi komputer dan sambungan internet masih hidup,” kata dia.

Sekitar pukul 10.00, manajemen bank tempatnya bekerja meminta pekerja segera pulang. ”Dibilang waktu itu dikhawatirkan ada air yang masuk,” katanya.

Ia menambahkan, saat itu kepanikan sangat terasa. Para karyawati yang hendak menyelamatkan diri terlihat panik dan menangis. ”Saat itu, saya lihat lampu tanda bahaya menyala, tapi alarmnya tidak berbunyi,” ujarnya.

Tiga tahun berkantor di Plaza UOB, Ook mengaku belum pernah mendapatkan pelatihan evakuasi bencana, sementara Irman mengaku pernah mendapatkan pelatihan evakuasi banjir dan kebakaran.

Pernah tergenang

Hingga Jumat petang, banjir yang melanda Plaza UOB dan merendam tiga basemen yang ada di gedung itu belum sepenuhnya diatasi. Di basemen 1 terdapat sejumlah kantor, restoran, food court, gereja, klinik kesehatan, toko buku, tempat penukaran uang, parkir mobil, dan sebagainya. Di basemen 2 ada parkir mobil, kantin, mushala, ruang tunggu sopir, dan kantor layanan kebersihan gedung. Sementara di basemen 3 hanya terdapat parkir mobil dan kantor pengelola parkir.

Menurut Ook, pada 23 Desember 2012, Plaza UOB juga pernah banjir. Namun, waktu itu air tidak setinggi sekarang. Kala itu, air di basemen 1 hanya sekitar 30 sentimeter, di basemen 2 sekitar 1 meter, dan di basemen 3 sekitar 2 meter. ”Seharusnya mereka belajar dari pengalaman itu,” katanya.

Terjebak

Banjir di Plaza UOB juga mengakibatkan sejumlah orang terjebak. Hingga Jumat malam masih ada korban yang belum dapat dievakuasi.

Evakuasi korban dilakukan sejak Kamis (17/1) malam. Evakuasi sempat berhenti karena sulitnya medan. Evakuasi dilanjutkan Jumat pagi.

Kepala Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Jakarta Pusat Paimin Napitupulu mengatakan, pihaknya mengerahkan 6 mobil pompa penyedot air. ”Kami berupaya mengeluarkan air yang menggenangi basemen,” ujarnya.

Selain menyedot air, evakuasi juga dilakukan dengan menerjunkan penyelam untuk mencari korban. Sejumlah penyelam dari Komando Pasukan Katak juga ikut terlibat mencari korban.

Menurut General Affair Wisma Kartika Perry Pantau, hingga pukul 18.00, air di tiga basemen belum dapat disedot seluruhnya. ”Di basemen 1 saja belum kering airnya, apalagi di basemen 2 dan 3 yang lebih bawah,” katanya. Wisma Kartika merupakan salah satu pengelola Plaza UOB.

Ditanya soal sistem peringatan dini banjir di Plaza UOB, Perry menyatakan, pengelola gedung sebenarnya sudah memilikinya. ”Saat air masuk, sudah ada peringatan sebenarnya, tapi debit air saat itu sangat banyak,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, pihaknya sampai kemarin siang baru memastikan ada dua korban terperangkap di basemen OUB, salah seorang selamat.

”Tadi sekitar pukul 08.30, Tri Santoso berhasil lolos, sedangkan tiga rekannya, Tito, Abdul, dan Andrian, belum ditemukan. Ketiganya diduga terperangkap juga di lantai 1 basemen. Ketiganya dipastikan masih terperangkap karena orang-orang yang mengenalnya masih mencari dan tidak menemukannya. Para korban bekerja sebagai mekanik atau house keeping,” katanya semalam.

Menurut Rikwanto, Tri terjebak di lantai satu basemen. Ia bertahan setelah menemukan ban karet bekas motor dan masih ada udara karena tinggi air menyisakan sejengkal ruang antara permukaan air dan langit-langit basemen. Dengan mengalungkan ban di leher, ia mencari jalan keluar, dan menemukan jalan di samping eskalator. Soal kemungkinan ada kelalaian dalam pembangunan atau pengelolaan gedung tersebut, Rikwanto mengatakan, polisi akan menyelidiki. (K02/RTS)


Editor :