Kamis, 31 Juli 2014

News / Megapolitan

Persebaran Kawasan Industri Belum Merata

Kamis, 24 Januari 2013 | 19:33 WIB

DEPOK, KOMPAS.com- Persebaran kawasan industri di Indonesia belum merata. Sebanyak 67,21 persen kawasan industri berada di Pulau Jawa. Pemerintah pun diharapkan dapat memberikan motivasi kepada para investor agar menanamkan modalnya di luar Pulau Jawa.

Sebanyak 41 dari 61 kawasan industri di Indonesia berada di Pulau Jawa dan sebagian besar di Provinsi Jawa Barat. Ada 22 kawasan industri di Jawa Barat dengan total area 13.333,70 hektar (ha).

"Sebagian besar industri di Jawa Barat menumpuk di daerah Bekasi, Karawang, dan Purwakarta," kata Ketua Kehormatan Himpunan Kawasan Industri Indonesia Halim Shahab yang hadir sebagai pembicara dalam Seminar Sehari "Kawasan Industri sebagai Ketahanan Ekonomi Nasional" di Wisma Makara Universitas Indonesia, Depok, Rabu (23/1/2013) kemarin.

Halim mengatakan, pemusatan kawasan industri di satu tempat akan menjadi beban, khususnya bagi ketahanan ekonomi nasional. Hal itu karena di kawasan industri terdapat aset-aset industri yang merupakan obyek vital.

"Dengan adanya predikat obyek vital, seluruh sistem ketahanan nasional harus berperanserta dalam menjaga dan mengamankannya" katanya.

Inti yang harus dipecahkan, menurut Halim, ialah bagaimana pembangunan kawasan industri bisa disebar dan tidak tertumpu di satu daerah. Hal itu tentu saja berkaitan dengan kebijakan-kebijakan nasional di bidang ekonomi dan fiskal. Pasalnya, pembangunan kawasan industri tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi memberi dampak positif dan nilai tambah bagi ketahanan ekonomi.

Komisaris Bank Rakyat Indonesia Aviliani mengatakan, untuk membangun kawasan industri, khususnya kawasan berikat, masalah kesenjangan sosial harus diatasi. Menurut dia, angka kesenjangan di Indonesia sudah sangat tinggi. Indeks rasio gini perbedaan antara masyarakat kaya dan masyarakat miskin di Indonesia mencapai 0,41. Padahal batas atas angka kesenjangan rasio gini adalah 0,30.

"Kesenjangan itu berpotensi menimbulkan berbagai gejolak sosial," ujarnya.

Kesenjangan sosial di Indonesia terjadi karena hampir 100 juta dari 250 juta penduduk Indonesia termasuk kelas menengah ke bawah. Sebanyak 29 juta penduduk Indonesia dikategorikan sangat miskin dan 70 juta orang rentan miskin. "Mereka yang rentan, begitu ada kenaikan harga, langsung jatuh miskin," kata Aviliani.


Penulis: Jumarto Yulianus
Editor : Marcus Suprihadi