Sabtu, 22 November 2014

News /

2013, Surabaya Bangun 2 Sungai

Senin, 4 Februari 2013 | 03:00 WIB

SURABAYA, KOMPAS - Untuk mengendalikan banjir, Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur, terus melakukan terobosan. Tahun 2013 akan diba-ngun dua sungai dengan memanfaatkan jalur hijau di Surabaya barat. Dua sungai itu untuk memper-cepat surutnya genangan air ketika musim hujan.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Surabaya, Minggu (3/2), mengatakan, ketinggian genangan air sehabis hujan saat ini maksimal 60 sentimeter (cm), dan hanya pada wilayah tertentu. Sebelum dilakukan normalisasi sungai dan saluran air, genangan air bisa mencapai 100 cm, antara lain di Jalan Mayjen Sungkono, Benowo, dan Margomulyo.

Di Surabaya dengan luas wilayah 333,062 kilometer persegi terdapat 13 saluran primer berupa anak sungai dan 70 saluran sekunder untuk mengalirkan air ke laut bebas. Seluruh saluran itu secara rutin dilakukan pengerukan, termasuk membersihkan waduk dari eceng gondok dan memasang gorong-gorong. Pada musim kemarau rumah pompa dan pintu air diperbaiki sehingga ketika musim hujan semua berfungi secara maksimal.

Risma menjelaskan, lokasi dua sungai berada di Surabaya barat sehingga ketika musim hujan genangan air cepat surut. Panjang sungai masing-masing sekitar 20 km dan anggaran untuk pembangunan pengendalian banjir itu juga sudah siap.

”Tahun 2013, proyek pembangunan dilaksanakan dan kondisi sungai tak lurus sebab alurnya memakai jalur hijau. Diupayakan seminim mungkin membebaskan lahan milik warga agar proyek cepat selesai,” ujarnya.

Pemerintah Kota Surabaya berupaya meminimalkan terjadinya banjir, termasuk normalisasi dan pengerukan saluran air mulai primer, sekunder, tersier, hingga saluran tepi. Tahun 2012, pengerukan menghasilkan lumpur setara 130.000 dump truck yang diangkat dari saluran.

Normalisasi saluran, sungai, dan perawatan jalan diupayakan cepat selesai agar aktivitas warga tidak terganggu. Jika muncul genangan sehabis diguyur hujan di wilayah tertentu, seperti Margomulyo dan Tanjungsari, lalu lintas menuju dan keluar Jalan Tol Surabaya-Gresik dan sebaliknya dipastikan macet.

Di Jawa Tengah, Bupati Pati Haryanto, Minggu, di Pati, menjelaskan, hingga kini normalisasi Sungai Juwana masih belum optimal untuk mengatasi banjir. Normalisasi perlu didukung kolam retensi di sejumlah titik dan pembangunan waduk di Kabupaten Kudus, yang berdekatan dengan Pati, untuk menampung air bah agar tak langsung mengalir ke laut.

Diakui Haryanto, saat ini antisipasi banjir di Sungai Juwana baru sebatas normalisasi yang menelan dana Rp 60 miliar. Jika ingin tuntas dengan tambahan kolam retensi, memerlukan dana Rp 1,2 triliun.

Pemerintah Kabupaten Kudus berupaya mempercepat pembangunan Waduk Logung yang diharapkan mengurangi dampak banjir Sungai Juwana yang melintasi Kudus dan Pati pula. Bupati Kudus Musthofa menuturkan, tahun ini Pemkab Kudus menyiapkan Rp 13,5 miliar untuk membebaskan lahan di Kecamatan Jekulo dan Kecamatan Dawe.

Di Lampung, warga Mesuji Timur, Kabupaten Mesuji, yang berhari-hari dilanda banjir, mulai terjangkiti penyakit. Bupati Mesuji Khamamik mengakui, sebagian warganya mengalami gatal-gatal dan gangguan pencernaan akibat banjir.

Kewaspadaan ditingkatkan

Dari Maluku dilaporkan, bendungan alam Wai Ela di Kabupaten Maluku Tengah masih mungkin jebol meski berbagai langkah perbaikan sudah dilakukan. Karena itu, Sabtu dilakukan simulasi tanggap darurat di Negeri Lima, Maluku Tengah, untuk meningkatkan kewaspadaan warga dan komando siaga darurat jika banjir bandang akibat jebolnya bendungan alam Wai Ela terjadi.

Simulasi melibatkan seribuan warga Negeri Lima dan 1.819 personel komando siaga darurat ser- ta disaksikan Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum Mohammad Hasan dan Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu. Pada simulasi digambarkan bendungan alam itu jebol dan menimbulkan banjir bandang di Negeri Lima.

”Jika bendungan alam jebol, banjir bandang akan tiba di Negeri Lima dalam waktu tak lebih dari 10 menit. Waktu itu singkat, dan tidak mungkin bagi warga untuk lari ke Seith. Karena itu, warga harus lari dulu ke tiga titik aman di Negeri Lima,” kata Komandan Siaga Darurat Bencana Wai Ela Kolonel Asep Kurnaedi.

Bendungan alam itu terbentuk setelah Sungai Wai Ela tertutup longsoran Bukit Ulukhatu pada 13 Juli 2012. Namun, bendungan itu rawan jebol digerus air.(ETA/HEN/JON/APA)


Editor :