Sabtu, 1 November 2014

News / Megapolitan

"Kata Orang Arab, Khat buat Penambah Stamina"

Selasa, 5 Februari 2013 | 14:04 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Daun tanaman khat, bahan dasar chatinone, zat narkotika golongan I, yang ditemukan di daerah Cisarua, Bogor, Jawa Barat, rupanya telah dikenal lama. Oleh konsumen yang kebanyakan warga Timur Tengah (Timteng), khat dikenal sebagai penambah stamina.

"Kata orang Arab buat penambah stamina. Bagus katanya," ujar Nanang Surantawijaya, alias Jack (47), warga Jalan Pasir Tugu, RT 001 RW 005, Cisarua, Bogor, kepada wartawan, Selasa (5/2/2013) siang.

Selain penambah stamina, konsumen juga mengaku bahwa pucuk daun khat berkhasiat untuk obat berbagai macam penyakit, antara lain diabetes dan diare. Meski demikian, tumbuhan khat tidak dikonsumsi oleh warga setempat dan hanya dijualbelikan kepada warga Timteng.

Biasanya konsumen membeli secara paket. Paket plastik kecil dihargai Rp 300.000, paket plastik medium Rp 500.000, dan paket plastik besar Rp 1,2 juta. Cara memakannya pun dengan mengunyah pucuknya dalam kondisi mentah-mentah dan membuang ampasnya.

"Biasanya mereka (konsumen) genggam pucuk daunnya, langsung dimakan segar-segar begitu. Kayak nyirih, makannya dikunyah saja," katanya.

Lebih banyak efek negatif

Pakar Farmasi dan Kimia Badan Narkotika Nasional, Komisaris Besar Mufti Djusnir, mengungkapkan, hingga saat ini, belum ada penelitian resmi yang menyatakan bahwa daun khat memiliki khasiat dalam menyembuhkan penyakit. Zat yang ada di khat hanya terbukti mengandung chatinone.

Dalam batas konsumsi yang wajar, ujar Mufti, pucuk daun khat tersebut tak memiliki efek negatif. Namun, dalam jumlah konsumsi tertentu, zat chatinone yang ada dalam daun khat dapat menimbulkan reaksi layaknya zat amphetamine, bahan dasar pembuat sabu atau ekstasi, yakni memiliki efek stimulan dalam jangka panjang.

"Padahal, efek itu membuat jantung meningkat, aliran darah meningkat. Kalau tubuh masih bisa toleransi, masih bisa tahan. Namun, kalau tidak, pasti jatuh. Artinya, lebih besar negatifnya daripada positifnya," ujar Mufti.

Kini, pascaberita menghebohkan kasus narkoba Raffi Ahmad, lahan seluas sekitar 3 hektar tersebut telah diberi garis polisi. Oleh sebab itu, warga yang menggarap tanaman tersebut pun berhenti memanen tanaman membahayakan itu.


Penulis: Fabian Januarius Kuwado
Editor : Ana Shofiana Syatiri