Jumat, 19 September 2014

News / Megapolitan

Tarif Urus KTP dan KK di Penjaringan Rp 750.000

Rabu, 13 Februari 2013 | 00:56 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Layanan dokumen kependudukan bagi warga Penjaringan yang hendak pindah ke Rusun Marunda kembali diwarnai berita tak sedap.

Banyaknya permintaan pengurusan KTP dan kartu keluarga (KK) dimanfaatkan oknum tertentu untuk mengeruk keuntungan dari proses tersebut. "Urus KTP dan KK sekarang mahal. Tadi, ada warga yang dimintai Rp 750.000 buat KTP dan KK," kata Ahmad, warga RT 16 RW 17 Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, saat ditemui Kompas.com, Selasa (12/2/2013).

Karena alasan keamanan diri, Ahmad hanya mengungkapkan bahwa oknum yang meminta uang dalam jumlah besar itu berasal dari petugas RT/RW setempat. Keterangan Ahmad dibenarkan warga lainnya, Izul. Warga RW 17 ini menerangkan, seorang rekannya yang telah pindah ke Rusun Marunda dan kembali untuk mengurus kartu keluarga juga dimintai pungutan dalam jumlah serupa.

"Teman saya Si Gondrong diminta sediakan uang Rp 750.000. Ini lagi jadi perbincangan warga sini," kata Izul.

Warga yang bermukim di pinggiran Waduk Pluit itu mengutarakan, menurut alasan yang dikemukakan oknum tersebut, biaya tambahan dikenakan karena banyaknya warga yang saat ini meminta pemrosesan KTP dan KK. "Katanya sekarang ini pemintaan lagi membeludak. Umumnya warga sini punya KTP, tapi kebanyakan belum punya KK," lanjut Izul.

Ia menjelaskan, permintaan pengurusan dokumen kependudukan tidak hanya datang dari warga yang akan pindah ke Marunda. Sejumlah warga yang saat ini telah menghuni Rusun Marunda pun masih belum dilengkapi dokumen yang disyaratkan pemerintah. Mereka yang masuk rombongan pertama warga waduk Pluit yang pindah ke Marunda, menurut Izul, adalah perintis yang diajak pemerintah untuk membuka jalan bagi warga lainnya.

"Waktu itu syarat-syarat belum lengkap, asal mau pindah, pasti dikasih kesempatan. Nah, sekarang ini mereka juga diminta melengkapi dokumen, makanya banyak yang balik ke sini buat ngurus KK," terang Izul.

Sebagaimana Ahmad, Izul pun tidak ingin mengungkap secara gamblang identitas oknum yang dimaksud. Ia beralasan, keterangannya bisa memicu keretakan hubungan dengan oknum tersebut yang tak lain adalah sesama warga di sekitar waduk Pluit.


Penulis: Imanuel More
Editor : Egidius Patnistik