SMA 61 Pungut Belasan Juta dari Ortu Murid - Kompas.com

SMA 61 Pungut Belasan Juta dari Ortu Murid

Fabian Januarius Kuwado
Kompas.com - 20/02/2013, 16:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Bekas Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), SMA 61, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur, masih memberlakukan pungutan kepada para muridnya. Tercatat, orangtua murid memberikan uang lebih dari Rp 14 juta pada pihak sekolah.

Berdasarkan surat pemberitahuan kepada para orangtua murid tentang RKAS (Rencana Kelola Anggaran Sekolah), terdapat tiga jenis iuran. Pertama, Iuran Peserta Didik Baru (IPDB) sebesar Rp 14 juta. Kedua, iuran bulanan sebesar Rp 400.000 yang terdiri dari iuran bulanan sekolah sebesar Rp 375.000 dan uang laboratorium bahasa yakni Rp 35.000.

Adapun, iuran yang ketiga yakni iuran kegiatan trip observatif sebesar Rp 500.000, iuran osis Rp 200.000 dan iuran koperasi Rp 50.000.

Meski demikian, waktu pembayaran sejumlah iuran tersebut berbeda-beda. IPDB dibayarkan ketika peserta didik masuk pertama ke sekolah, sementara jenis pungutan kedua dan ketiga dibayarkan setiap bulan selama masa studi.

Kepala Sekolah SMA 61 Sukandi membenarkan adanya sejumlah pungutan itu. Namun, pihaknya membantah bahwa pungutan tersebut adalah liar.

Semua persoalan itu, diakuinya, berawal dari penghapusan RSBI oleh Mahkamah Konstitusi pada Januari 2013 lalu. Imbasnya, SMA 61 yang semula tunduk di bawah Kemendikbud pun menjadi sekolah reguler biasa dan mengikuti aturan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Sukandi melanjutkan, perubahan itu turut mengubah tata kelola keuangan sekolah. Jika ketika masih berstatus RSBI dana didapat dari APBN, APBD dan kontribusi orangtua murid, SMA 61 kini, tidak boleh lagi menarik sejumlah pungutan lagi berdasar surat edaran Pemprov.

"Tapi berdasarkan petunjuk pelaksana di surat MK itu, ada SE Mendiknas 017/mpk/se/2013 bahwa kami masih memperbolehkan memungut iuran hingga tahun pelajaran ini berakhir," ujarnya kepada wartawan, Rabu (20/2/2013) siang.

Perubahan tersebut menyebabkan kegalauan bagi sekolah. Sebab, pihak sekolah tak mungkin menurunkan mutu pendidikan yang didapat dari kontribusi orangtua murid SMA 61 dengan hanya mengandalkan dana dari APBD saja. Sementara, biaya operasional dan kebutuhan penunjang kegiatan belajar mengajar diketahui cukup tinggi.

Tercatat, untuk tahun ajaran 2012/2013 saja, SMA elit tersebut membutuhkan dana Rp 2.192.163.400 yang didapat dari IPDB. Kebutuhan yang belum terpenuhi saat ini adalah pembangunan ruang audiovisual sebesar Rp 250 juta dan wallpaper ruang kelas beserta papan tulis elektrik sebesar Rp 260 juta.

Sukandi menjelaskan, pihaknya telah melakukan komunikasi dengan pihak Dinas Pendidikan DKI dan DPRD Komisi E pada 13 Februari 2013 terkait hal itu. Namun, komunikasi tersebut belum berbuah hasil signifikan. Oleh sebab itu, pihaknya inisiatif berembug dengan komite sekolah untuk menyepakati jumlah iuran bagi para muridnya.

"Tapi iuran itu sifatnya negosiatif. Ada yang mencicil per bulan. Ada yang tidak penuh bayar. Bahkan ada yang nol sama sekali," ujar Sukandi.

Sukandi mengaku dilema atas kerancuan dasar peraturan tersebut. Di satu sisi, biaya operasi sekolah tinggi, si sisi lainnya, sekolah tidak bisa memungut dana dari orangtua muridnya. Oleh sebab itu, ia berharap Pemerintah Provinsi DKI memberikan kepastian bagi sekolahnya agar tak tidak melanggar peraturan.

PenulisFabian Januarius Kuwado
EditorAna Shofiana Syatiri
Komentar

Terkini Lainnya

Datangi Proyek MRT, Anies-Sandi Tegaskan Eksekusi Lahan di Haji Nawi

Datangi Proyek MRT, Anies-Sandi Tegaskan Eksekusi Lahan di Haji Nawi

Megapolitan
Fadli Zon: Jokowi 'One Man Show', Kadang Presiden, Gubernur, Tukang Bagi Sepeda

Fadli Zon: Jokowi 'One Man Show', Kadang Presiden, Gubernur, Tukang Bagi Sepeda

Nasional
Petugas Gabungan Gagalkan Penyelundupan Narkoba Senilai Rp 3,9 Miliar

Petugas Gabungan Gagalkan Penyelundupan Narkoba Senilai Rp 3,9 Miliar

Regional
Mantan Presdir Allianz Minta Diperiksa pada 26 Oktober

Mantan Presdir Allianz Minta Diperiksa pada 26 Oktober

Megapolitan
Tabrakan Bus di Aceh Utara Tewaskan Kernet dan Sopir

Tabrakan Bus di Aceh Utara Tewaskan Kernet dan Sopir

Regional
Kesal Pasien Dialihkan Jadi Alasan Dokter Todongkan Pistol Mainan ke Stafnya

Kesal Pasien Dialihkan Jadi Alasan Dokter Todongkan Pistol Mainan ke Stafnya

Megapolitan
Elektabilitas Jokowi Dinilai Belum Aman, Cawapres Jadi Faktor Penentu

Elektabilitas Jokowi Dinilai Belum Aman, Cawapres Jadi Faktor Penentu

Nasional
Kecelakaan Bus Rombongan Peziarah Wali Songo dan Truk, Dua Luka Parah

Kecelakaan Bus Rombongan Peziarah Wali Songo dan Truk, Dua Luka Parah

Regional
Mantan Biduan Berusia 73 Tahun Juarai Kontes Kecantikan Para Nenek

Mantan Biduan Berusia 73 Tahun Juarai Kontes Kecantikan Para Nenek

Internasional
Gerbang Tol Karawang Barat 2 Ditutup Jumat Sore Ini hingga Besok Pagi

Gerbang Tol Karawang Barat 2 Ditutup Jumat Sore Ini hingga Besok Pagi

Megapolitan
Tembok Perbatasan Meksiko Tahan Gempuran Palu dan Bor Listrik

Tembok Perbatasan Meksiko Tahan Gempuran Palu dan Bor Listrik

Internasional
Kunjungi Bandung, Dubes Perancis Bakal Bantu Permak Stasiun Bandung

Kunjungi Bandung, Dubes Perancis Bakal Bantu Permak Stasiun Bandung

Regional
Jokowi Diminta Waspadai Fenomena Pilkada DKI Terulang pada Pilpres

Jokowi Diminta Waspadai Fenomena Pilkada DKI Terulang pada Pilpres

Nasional
Demi Sebungkus Rokok, Buruh Bangunan Ini Nekat Edarkan Obat Terlarang

Demi Sebungkus Rokok, Buruh Bangunan Ini Nekat Edarkan Obat Terlarang

Regional
BPTJ: Kerugian akibat Macet Jabodetabek Rp 100 Triliun per Tahun

BPTJ: Kerugian akibat Macet Jabodetabek Rp 100 Triliun per Tahun

Megapolitan

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM