Selasa, 2 September 2014

News / Megapolitan

Usaha Unik Pom Bensin Mini

Selasa, 5 Maret 2013 | 19:45 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sesuatu yang berbeda terlihat di pelataran rumah Asminah (43). Rumah berukuran 5x10 meter tersebut menyimpan sebuah mesin pom bensin mini yang menyediakan dan menjual bensin dengan cara mengukur digital laiknya di SPBU besar.

Asminah memulai usaha menjual bensin dengan bantuan alat pom bensin mini sejak Agustus 2012. Saat itu, suaminya, Maryanto (43), tengah mengalami sakit gagal ginjal. Karena bingung menghadapi ekonomi keluarga dan sudah tidak bekerja, suaminya mendapat tawaran dari kerabat dekatnya untuk membuka pom bensin mini di depan rumahnya.

Bermodal nekat, suami Asminah pun meminjam uang di bank Rp 70 juta untuk membeli mesin pom bensin tersebut. Dia harus membayar cicilan ke bank Rp 2,2 juta perbulan selama beberapa tahun.

Selang dua bulan membangun usaha pom bensin mini, Maryanto meninggal karena penyakit yang dia derita. Asminah pun melanjutkan usahanya seorang diri untuk menghidupi 3 orang anaknya.

Dalam satu hari, dia bisa menjual 400 liter bensin. Bensin tersebut dia dapatkan dari SPBU di Tegal Alur Kalideres, Jakarta Barat. Kemudian bensin tersebut dia jual dengan harga Rp 5.000 per liter.

"Untungnya ya enggak seberapa. Buat jajan dan biaya kuliah anak saja," kata Asminah.

Asminah menuturkan, sampai saat ini dia belum menikmati keuntungan dari berjualan bensin tersebut. Untung yang dia dapatkan dalam sehari bisa mencapai Rp 200.000. Uang tersebut dia kumpulkan untuk membayar cicilan bank supaya bisa cepat lunas.

Pom bensin mini yang terletak di Jalan Bakti Raya RT 02/02, Tegal Alur ini merupakan pom bensin mini kedua di wilayah tersebut. Sebelumnya pom bensin mini ada di dekat Pospol Tegal Alur, milik seorang warga Prepedan.

Biasanya, Asminah memasok bensin pada malam hari. Dia hanya bisa membeli bensin dengan ukuran besar pada jam tersebut.

Salah satu keponakannya, Slamet ikut membantu Asminah membeli bensin di SPBU terdekat. Slamet selalu membawa 4 drigen minyak berukuran 35 liter untuk bisa mengisi tabung pom bensin mini.

Asminah membeli mesin tersebut dari penjual perorangan di Bandung. Mesin tersebut tersambung dengan selang yang terhubung pada tabung yang memuat bensin sebanyak 400 liter.

Pom bensin mini milik Asminah buka mulai pukul 06.30 WIB, sedangkan waktu tutupnya tergantung dengan jumlah bensin yang tersedia.

"Kalau bensin habisnya Magrib, ya tutupnya Magrib. Kalau habisnya siang, ya langsung tutup aja. Jadi tergantung dengan stok bensinnya," kata Asminah.

Dengan menjalankan usaha ini, Asminah hanya berharap supaya bisa berjalan lancar. Dengan membiayai 3 orang anak seorang diri, Asminah hanya bertumpu pada pendapatan jualan bensin dan warung sembako kecil miliknya.

Sedangkan Hardi, salah satu pembeli mengatakan, dirinya sengaja membeli bensin di pom bensin mini. Alasannya, pom bensin resmi lumayan jauh dari tempat tinggalnya.

Selain itu, dia juga harus antre dan menggunakan helm untuk membeli bensin. Hardi juga mengungkapkan, dirinya lebih percaya membeli bensin di pom bensin mini dibanding penjual bensin eceran yang menggunakan botol. Penjual tersebut selain takarannya yang tidak pas, bensin yang tersedia pun sering kotor dan menyebabkan motor cepat menjadi rusak.

"Mahal sedikit ya enggak apa-apalah. Yang penting lebih dekat dan bensinnya bersih," kata Hardi.


Penulis: Alfiyyatur Rohmah
Editor : Ana Shofiana Syatiri