Kamis, 24 Juli 2014

News / Megapolitan

Juni 2013, Tarif KRL Dihitung Per Stasiun

Selasa, 2 April 2013 | 20:05 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Mulai Juni 2013, PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) akan memberlakukan sistem baru penentuan tarif perjalanan kereta api listrik (KRL) di Jabodetabek. Biaya KRL akan ditentukan berdasarkan tujuan keberangkatan, bukan berdasarkan perjalanan kereta itu sampai tujuan.

Penentuan besarnya tarif pada perjalanan KRL dilakukan melalui mekanisme penghitungan minimal. Pada lima stasiun pertama dari stasiun keberangkatan, penumpang akan dikenakan tarif sebesar Rp 3.000. Untuk stasiun selanjutnya, tarif dihitung per tiga stasiun dengan tarif Rp 1.000. "Sehingga tiket yang dibayar penumpang akan fair. Ini, kan, bisa hemat banyak," kata Dirut PT KAI Ignatius Jonan di Stasiun Gambir, Selasa (2/4/2013).

Jonan mengatakan, ini merupakan awal sosialisasi sekaligus proses uji coba demi meningkatkan pelayanan kereta. Menurutnya, penyesuaian tarif per stasiun akan diberlakukan bersamaan dengan penerapan e-ticketing yang akan diimplementasikan di 60 stasiun di Jabodetabek.

Mekanisme tarif dengan menghitung jumlah stasiun juga dilakukan untuk mempermudah penumpang dalam menghitung biaya yang harus dikeluarkan saat akan melakukan perjalanan KRL. Selain itu, penerapan mekanisme ini diharapkan mampu menarik masyarakat untuk beralih ke moda transportasi massal.

"Bayangkan, bila melewati delapan stasiun, hanya dikenakan biasa Rp 4.000. Kalau naik ojek, bisa sampai Rp 50.000 itu," kata Jonan.

Meski demikian, besarnya tarif ini baru perkiraan. Tarif sesungguhnya akan ditentukan pada akhir Mei mendatang. Menurut Jonan, tarif tersebut tidak akan jauh berbeda dari tarif perkiraan ini. Jonan berharap, dengan diberlakukannya tarif per stasiun, dapat terwujud sistem tarif yang adil untuk semua pengguna jasa KRL di Jabodetabek, khususnya bagi penumpang yang melakukan perjalanan dalam jarak dekat.


Penulis: Zico Nurrashid Priharseno
Editor : Laksono Hari W