Rabu, 1 Oktober 2014

News /

Tarif KRL Terjauh Diusahakan Sama

Kamis, 4 April 2013 | 03:24 WIB

Jakarta, Kompas - Penentuan tarif kereta rel listrik berdasarkan jumlah stasiun yang dilewati penumpang harus diperhitungkan dengan matang. Langkah itu diperlukan agar tidak melampaui tarif yang berlaku saat ini sehingga tidak memberatkan warga yang melakukan perjalanan panjang.

Pengamat perkeretaapian Djoko Setijowarno, Rabu (3/4), mengatakan, rencana pemberlakuan tarif baru KRL perlu dikaji lebih teliti. Jangan sampai tarif baru itu lebih mahal daripada yang berlaku saat ini, Rp 9.000.

Simulasi tarif yang dilakukan PT Kereta Api Indonesia (KAI) adalah untuk maksimal lima stasiun pertama Rp 3.000 dan per tiga stasiun berikutnya Rp 1.000.

Dengan demikian untuk perjalanan Bogor-Jakarta Kota yang melewati 24 stasiun, tarifnya menjadi Rp 10.000, lebih mahal Rp 1.000 daripada tarif lama. Sebaliknya, penumpang dengan jarak pendek, seperti Bogor-Depok, tarifnya turun menjadi Rp 3.000, sebelumnya Rp 8.000.

Menurut Djoko, sebaiknya penghitungan dipatok dari tarif tertinggi saat ini, yakni Rp 9.000. Dari sana, barulah dihitung tarif per stasiun. ”Hasil penghitungan jangan sampai melebihi tarif maksimal saat ini,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penumpang Kereta Api (Aspeka) Anthony Ladjar senada dengan pendapat Djoko. Menurut Anthony, penumpang dari Stasiun Duri ke Stasiun Juanda (7 stasiun), tarifnya Rp 4.000, lebih mahal dibandingkan angkutan jalan raya. Pada kasus ini mungkin diberlakukan tarif termurah meskipun perjalanan memutar lewat banyak stasiun.

Menanggapi masukan itu, Direktur Komersial PT KAI Sulistyo Wimbo Hardjito mengatakan, pihaknya masih mengusahakan agar tarif terjauh sama dengan tarif yang berlaku saat ini. ”Kami tidak ingin ada kenaikan harga tiket dengan diberlakukannya perhitungan berdasarkan jarak tempuh. Karena itu, sekarang sedang dihitung besaran tarif dengan sistem tersebut,” katanya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Sudaryatmo mengatakan, tarif baru seharusnya diumumkan setelah matang dan mendapatkan persetujuan pemerintah.

”PT KAI seharusnya belajar dari masa lalu, ketika tarif baru sudah diumumkan dan belum mendapatkan persetujuan pemerintah. Akhirnya, tarif yang berlaku sehari dibatalkan,” kata Sudaryatmo.

Belum pasti

Menanggapi rencana pemberlakuan tarif berdasarkan jarak, salah seorang penumpang, Jalani, mengatakan, dengan berkurangnya jam operasi kereta ekonomi saja sudah cukup merepotkan, apalagi ada sistem tarif baru, pasti akan semakin memberatkan.

Menurut Eva Chairunissa, Kepala Dinas Humas PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ), tujuan sistem terbaru ini semata-mata untuk menciptakan sistem tarif yang adil bagi warga. ”Saya tidak paham mengapa warga protes, karena sebenarnya dari kami juga belum ada kepastian jumlah tarif dan stasiun mana saja yang berubah,” ujarnya.

Sementara itu, warga yang mengetahui sistem tarif tertutup berdasarkan jarak itu menanggapi positif. ”Saya setuju-setuju saja kalau tarif tergantung jauh-dekatnya, misalnya pergi ke tujuan yang dekat, ya tiketnya lebih murah. Justru dengan kebijakan itu kalau dihitung-hitung akan jauh lebih menguntungkan,” ujar Cindy, mahasiswa pelanggan kereta dari Stasiun Rawa Buntu, tujuan Tanah Abang.

Kritik jadwal baru

Sementara itu, tiga hari setelah pemberlakuan jadwal baru perjalanan KRL, bermunculan kritik dari para penumpang. KRL Bekasi pertama berangkat pukul 04.40. Selanjutnya adalah commuter line pukul 04.52 dan pukul 05.05. ”Ketiganya masih sepi penumpang,” kata Kepala Stasiun Bekasi Hariyanto.

Setelah tiga commuter line, KRL ekonomi berangkat pukul 05.30. KRL ekonomi berikutnya berangkat pukul 07.45. Di antara kedua KRL ekonomi itu ada tujuh commuter line yang diberangkatkan dengan setiap keberangkatan dalam interval 12-25 menit. Janji PT KAI berangkat setiap 7 menit belum terpenuhi.

Padahal, kurun waktu pukul 05.30-07.45 adalah waktu sibuk orang berangkat kerja. Penumpang berdesak-desakan. Apabila KRL terlalu sesak, pintu terpaksa dibuka sehingga membahayakan keselamatan penumpang.

Kondisi serupa terjadi saat waktu sibuk orang pulang kerja. Para penumpang dari Manggarai-Bekasi, kurun pukul 16.09- 18.15 ada tujuh commuter line dan satu KRL ekonomi yang diberangkatkan dengan interval waktu 13-38 menit.

Koordinator KRL Mania, Nur Cahyo, mengingatkan, pada jam sibuk orang berangkat dan pulang kerja seharusnya KRL lebih banyak. Hal itu untuk mengurangi kecelakaan karena padatnya penumpang di dalam kereta.

Penumpang dari Stasiun Bekasi, kemarin, juga kesal sebab commuter line pukul 07.12 dan 09.20 berangkat dengan penyejuk udara mati. Apalagi KRL penuh sesak. Kemarin, commuter line pukul 08.07 dari Bogor rusak di Depok. Rangkaian harus ditukar terlebih dahulu sebelum dijalankan. (*/BRO/ART)


Editor :