Rabu, 23 April 2014

News /

Sekolah Katolik-Kristen Tunda Kurikulum 2013

Selasa, 9 April 2013 | 02:47 WIB

Baca juga

Jakarta, Kompas - Sekolah Katolik dan Kristen akan menunda pelaksanaan Kurikulum 2013 sehingga kurikulum tidak akan diterapkan Juli 2013 ini. Alasannya, selain belum memahami arah dan substansi kurikulum baru itu, guru-guru mereka pun belum disiapkan untuk pelaksanaan kurikulum baru.

Pernyataan itu disampaikan Komunitas Katolik dan Protestan Peduli Pendidikan di Indonesia, di Jakarta, Senin (8/4).

”Kami tidak ingin gagal. Karena itu, pemahaman terhadap substansi kurikulum serta persiapan guru harus dilakukan secara serius,” kata praktisi pendidikan Jeirry Sumampow.

Dia melihat, sisa dua bulan sebelum tahun ajaran baru, tidak realistis untuk melatih guru Kelas I dan IV SD, kelas VII SMP, dan Kelas X SMA/SMK. Karena itu, agar persiapan dan pelatihan guru bisa berjalan optimal, pelaksanaan Kurikulum 2013 ditunda.

Romo Benny Susetyo, yang hadir dalam jumpa pers mengatakan, tanpa pelatihan yang optimal, guru-guru hanya menyampaikan secara hafalan berdasarkan buku pegangan Kurikulum 2013.

”Padahal yang diharapkan dari Kurikulum 2013 adalah paradigma guru yang berubah. Guru harus kreatif dan inovatif dalam mengajar. Mengubah pola pemikiran guru ini tidak bisa dilakukan tergesa-gesa,” kata Romo Benny Susetyo.

Pihaknya pun, kata Benny, baru mengetahui Kurikulum 2013 melalui power point yang disampaikan pemerintah. Adapun kompetensi isi dan kompetensi dasar Kurikulum 2013 belum disosialisasikan pemerintah secara optimal.

Sebelumnya, desakan penundaan atau penolakan Kurikulum 2013 juga disampaikan Ikatan Guru Indonesia (IGI), Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), para guru besar Institut Teknologi Bandung, dan Aliansi Revolusi Pendidikan.

Minta direvisi

Romo Mardiatmadja, pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, menilai Kurikulum 2013 perlu direvisi karena kurikulum tersebut lemah dalam pengaitan secara ilmiah dengan ilmu pendidikan, psikologi perkembangan, hingga filsafat.

Dalam pandangan Mardiatmaja, dalam rencana Kurikulum 2013, semua yang harus dikerjakan guru sudah ditulis dan disiapkan pemerintah. Guru hanya tinggal menyampaikan di depan kelas.

Di sisi lain, sekolah juga perlu memperhitungkan dampak penghapusan sejumlah mata pelajaran dalam Kurikulum 2013 terhadap kesempatan mengajar guru, jenjang karier, tunjangan profesi, kesempatan mengembangkan pengetahuan, dan dampak lainnya.

M Ihsan, Sekretaris Jenderal Ikatan Guru Indonesia, mengatakan, guru banyak yang belum tahu arah dan substansi Kurikulum 2013.

Secara terpisah, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Nusa Tenggara Timur Clemens Mebah di Kupang mengatakan, khawatir Kurikulum 2013 tidak akan bisa diterapkan tahun ajaran baru ini karena guru-guru belum tahu substansi Kurikulum 2013. Padahal, tahun ajaran baru hanya sekitar dua bulan lagi.

”Tidak mudah melatih guru di sini, karena lokasi sekolah banyak yang terpencil,” kata Mebah. (ELN/KOR)


Editor :