Minggu, 26 Oktober 2014

News / Megapolitan

Kejahatan Seks pada Anak

Empati Sosial di Rawabuaya...

Selasa, 9 April 2013 | 08:41 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Malam itu, Minggu (7/4/2013) pukul 22.00, rumah pasangan suami-istri BN (45)-JN (40) digedor warga sekitar. Puluhan warga berkerumun di sekitar rumah. Kegelisahan warga Rawabuaya, Cengkareng, Jakarta Barat, yang bak api dalam sekam itu akhirnya meledak juga.

Saat BN membuka pintu, dia langsung digelandang warga ke Markas Kepolisian Sektor Metro (Polsektro) Cengkareng. Di perjalanan, BN juga mendapat bogem mentah sepukul dua pukul orang- orang yang marah terhadap BN yang ketahuan sudah berulang kali memerkosa anak tirinya, L (17), hingga hamil lima bulan.

Warga juga memaksa JN ikut ke kantor polisi, melaporkan kasus yang menimpa putri kandungnya itu. Warga menyatakan siap melindungi JN dan L jika keduanya diancam BN.

Menurut Mortua (45), tetangga keluarga korban yang tinggal satu rumah kontrakan di Rawabuaya, korban sejak Desember tahun lalu sudah jarang ke luar rumah menyapa tetangga. L yang dulunya ramah dan suka menyapa tetangga menjadi pendiam.

Rika (16), teman dan tetangga korban, menambahkan, sejak itu L lebih banyak tinggal di lantai dua rumahnya yang berukuran 2 x 3 meter. ”Dia (korban) enggak berani turun, tinggal di atas terus. Kalau saya main ke rumahnya, sama bapaknya enggak boleh turun,” kata Rika, Senin (8/4/2013). Ia pun curiga pada penampilan korban.

”Waktu dia (korban) cuci piring, saya lihat kok perutnya makin gede,” ujarnya.

Kesaksian Rika pun akhirnya jadi bisik-bisik tetangga. Mortua lantas bertanya kepada ibu korban tentang isu yang beredar meluas bahwa L hamil.

”Waktu hamilnya belum gede, ibunya nutup-nutupin. Akan tetapi, waktu hamilnya masuk empat bulan, ibunya akhirnya ngaku,” kata Mortua.

Pengakuan itu juga terkuak didahului cekcok antara pelaku dan istrinya. Suara keras pertengkaran suami-istri itu didengar tetangga.

Menurut Mortua, sejak L hamil, BN yang sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan ini memang terlihat sering mengawasi L dengan ketat. Ke mana pun korban pergi, selalu diantar BN.

Awalnya, JN kepada para tetangganya yang curiga mengatakan bahwa apa yang dilakukan BN adalah bentuk perlindungan dan kasih sayang BN pada L.

"Awalnya, ibunya bilang begitu. Namun, setelah perut L tambah gede, ibunya baru ngaku setelah makin sering ribut sama suaminya. Ternyata di balik rasa sayang itu ada maksud lain,” kata Mortua.

BN juga melarang korban bertemu dengan teman-temannya. ”Katanya, L mesti hati-hati sama teman-temannya yang pada penyakitan,” papar Mortua.

Oleh karena itu, warga sangat marah dengan kelakuan BN. ”Kami, teman-teman L, kesal sama kelakuan BN. Dia yang penyakitan syahwat, eh, kami yang dituduh penyakitan,” ujar Rika.

PPA polres

Sesampai di Polsektro Cengkareng, petugas polsek menyerahkan kasus ini kepada pihak Kepolisian Resor Metro (Polrestro) Jakbar karena unit perlindungan perempuan dan anak (PPA) hanya ada di tingkat polres dan kepolisian daerah (polda). BN lalu dibawa ke Polrestro Jakbar.

Sesampainya di Polrestro Jakbar, Senin pukul 01.00, lanjut Kepala Unit PPA Polres Jakbar Komisaris Slamet, BN diperiksa dan mengakui perbuatannya.

”Setelah pengakuan di depan saksi-saksi, kami menetapkan dia sebagai tersangka. Dia kami jerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak dengan sanksi penjara maksimal 15 tahun,” ucap Slamet.

Psikolog Lingkungan Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Nur Cahyo mengapresiasi kepedulian warga Rawabuaya.

”Yang harus kami hargai adalah warga yang mau peduli terhadap tetangganya yang menderita karena tindakan orang lain. Semangat sosial seperti ini yang harus terus dipacu,” tuturnya.

Yang mesti diperbaiki, lanjut Nur Cahyo, tinggal caranya. Empati sosial seperti ini akan lebih baik bila tanpa kekerasan. Menurut Nur Cahyo, bukan hal sulit melatih warga berempati sosial dengan tindakan yang bebas kekerasan. (WINDORO ADI)

 


Editor : Hertanto Soebijoto
Sumber: