Selasa, 21 Oktober 2014

News / Megapolitan

"Artis Parlemen" Itu Pun Terjaring Razia

Jumat, 12 April 2013 | 11:04 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Razia yang digelar di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, Kamis (11/4/2013) siang, berhasil menjaring 20 orang yang disebut "penyakit masyarakat". Namun, tak ada yang menyangka 1 dari 20 orang itu adalah salah satu "artis" di gedung MPR/DPR.

John Jonedi alias Buyung (42) tampak keluar dari barisan 19 orang lainnya saat hendak didata petugas Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur. Di antara pedagang liar, calo, dan preman yang terjaring, dia adalah satu-satunya pengamen. Dia diminta petugas memainkan berbagai alunan lagu.

"Saya malu, Pak," ujarnya sambil tersenyum masam.

"Sudah, masa kau pengamen malu. Kasih dulu satu dua lagu, mainkan," ujar sang petugas.

Alunan lagu Melayu setelah intro pun keluar dari gitar kopongnya berpadu dengan merdunya suara Buyung, mencairkan ketegangan suasana di Pos Sudinhub Terminal Kampung Rambutan, siang itu. Hentakan kaki dan jentikan jari petugas tanda kesuksesan Buyung dalam mencairkan suasana, membuat iri mereka yang terjaring razia lainnya.

Buyung rupanya bukan pengamen jalanan biasa. Selain mengamen dari bus ke bus luar daerah, pria asli Padang Pariaman yang telah merantau ke Jakarta sejak tahun 1993 tersebut memiliki sederet prestasi di bidang musik. Salah satunya tampil sebagai grup musik di gedung wakil rakyat Senayan, Jakarta, pada Juni 2012 silam.

"Waktu itu acara Empat Pilar Demokrasi, yang mengadakan PDI-P. Saya tampil bersama teman-teman saya, anak Tanah Abang," ujarnya.

Namun sayang, tidak seperti pada tahun-tahun sebelumnya, di mana dia selalu menjuarai festival musik anak jalanan, di gedung Parlemen, Buyung dan kawan-kawan membawa pulang hasil nihil. Namun, dia tak berkecil hati kala itu. Bagi Buyung, kalah atau menang sama saja. Sudah biasa.

Menyambung hidup

Mengamen, sebenarnya bukanlah pilihan hidup Buyung. Apa daya, dia tak bisa memilih. Sejak datang ke Jakarta pada 1992 silam, dia berdagang baju dan celana di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Satu tahun kemudian modalnya habis. Terpaksa, dia mencari pekerjaan yang bisa menopang hidup.

Berbekal sebuah gitar pemberian kawannya, dia mulai menjajal profesi baru sebagai pengamen. Hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, tak terasa Buyung telah 21 tahun mengamen. Menyambung nafkah dari bus ke bus, dari terminal ke terminal, dan dari jalan ke jalan.

"Lumayan, sehari bisa dapat Rp 30.000 sampai Rp 40.000 bersih itu. Buat anak yang sedikit lagi mau sekolah, sudah enam tahun soalnya," ujar suami dari Cahya Hanifah (30) tersebut.

Stempel mengganggu kenyamanan dan keamanan bagi kebanyakan pengamen pun ditampiknya. Dia menilai, ibarat hidup, ada sisi buruk dan baiknya. Demikian juga pengamen. Ada pengamen baik dan ada pengamen buruk. Dia pun menyesali kalau pengamen yang murni untuk menyambung hidup seperti dirinya ikut terbawa stigma negatif itu. Imbasnya, ya tentu aksi razia oleh petugas ini. Buyung terpaksa disamaratakan dengan calo tiket, preman terminal bertato, dan mereka yang dianggap mengganggu kenyamanan serta keamanan terminal. Meski demikian, aksi Buyung di depan petugas seakan-akan menyirnakan hal itu.

"Saya cuma ingin menghidupi anak istri, bukan nodong, bukan maksa. Itu saja," ujar Buyung.

Seusai menghibur petugas tanpa dibayar serta didata di Pos Sudinhub, Buyung pun bergegas mengejar sebuah bus yang sudah jalan perlahan meninggalkan terminal. Mengejar nafkah untuk menyambung hidupnya sekeluarga.


Penulis: Fabian Januarius Kuwado
Editor : Hertanto Soebijoto