Rabu, 27 Agustus 2014

News / Megapolitan

Kota Bekasi Tersandera Kemacetan

Rabu, 17 April 2013 | 09:04 WIB

BEKASI, KOMPAS.com — Dengan 19 lokasi kemacetan, Kota Bekasi merupakan kawasan kemacetan tinggi di Jabodetabek. Pemerintah Kota Bekasi perlu mewujudkan program solusi kemacetan yang jitu dan utuh.  

Dinas Perhubungan Kota Bekasi pernah melansir data bahwa pada 2011 ada 11 lokasi kemacetan. Pada 2012 menjadi 17 lokasi dan pada 2013 menjadi 19 lokasi. Penambahan lokasi kemacetan diduga terkait pertumbuhan penduduk sekaligus peningkatan jumlah kendaraan pribadi. Namun, potensi kemacetan tidak dicegah dengan penambahan jalan dan penataan angkutan umum.  

Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi-Wakil Wali Kota Bekasi Ahmad Syaikhu yang dilantik pada Minggu (10/3/2013) menyatakan sanggup mengatasi kemacetan selama kepemimpinan periode 2013-2018. Dari pelantikan itu, kebijakan yang sudah terwujud ada dua. Pertama, pemberlakuan arus dua arah di Jalan Ir Juanda. Kedua, pembukaan jembatan layang KH Noer Alie Summarecon Bekasi. Prasarana itu menghubungkan Bekasi Barat dan Bekasi Selatan dari Jalan Ahmad Yani dengan Bekasi Utara. Sebelum ada jembatan layang, lalu lintas melalui Jalan Perjuangan dan Jalan Ir Juanda.  

Kebijakan arus dua arah ternyata menambah kesemrawutan di Jalan Ir Juanda. Lokasi macet yakni perempatan Stasiun bekasi, perempatan Bekasi Junction, pertigaan Juanda-Kartini, dan perempatan Lapangan Multiguna. Namun, Kepala Dinas Perhubungan Kota Bekasi Supandi Budiman mengklaim, kemacetan di Jalan Ir Juanda itu terurai dengan keberadaan jalan layang. Kendaraan dari Bekasi Utara tidak lagi harus melalui Jalan Perjuangan dan Jalan Ir Juanda untuk ke Bekasi Barat dan Bekasi Selatan.  

Padahal, di sisi lain, jembatan layang menimbulkan tarikan baru arus lalu lintas. Pengendara tujuan Bekasi Utara dari Gerbang Tol Bekasi Barat kini lebih memilih melewati Jalan Ahmad Yani dan jembatan layang ketimbang lewat Jalan Madmuin Hasibuan lalu Jalan Veteran dan Jalan Perjuangan.

"Kami segera menerapkan rekayasa lalu lintas untuk Ahmad Yani, Hasibuan, dan Juanda yang merupakan denyut utama ekonomi Kota Bekasi," kata Supandi.  

Lokasi kemacetan lainnya ialah Jalan KH Noer Alie (samping Bekasi Cyber Park, perempatan ke Galaxy, pertigaan ke Caman), Jalan Jenderal Soedirman (depan Mal Grand, Stasiun Kranji, Pasar Kranji), Jalan Sultan Agung (pertigaan ke Harapan Indah, ke Pondok Ungu, ke Alexindo), Jalan I Gusti Ngurah Rai (depan Pasar Bintara), dekat Gerbang Tol Bekasi Timur, pertigaan Komsen Jatiasih, putaran Plasa Pondok Gede, dekat Gerbang Tol Jatiwaringin, Jalan Cut Meutia (depan Terminal Bekasi, perempatan Bulak Kapal), dan Jalan Narogong (perempatan Kemang Pratama, depan Pasar Bantargebang).  

Kemacetan akibat keberadaan jumlah kendaraan tidak sebanding dengan jaringan jalan sehingga patut menjadi perhatian. Sampai dengan akhir 2012, di Kota Bekasi tercatat 1,1 juta kendaraan. Penduduk Bekasi 2,4 juta jiwa. Artinya, setiap dua penduduk memiliki satu kendaraan. Di sisi lain, panjang jaringan jalan sekitar 1.400 kilometer.

Kemacetan bisa diatasi dengan penambahan jaringan jalan dan penyediaan angkutan umum yang aman, nyaman, tarif terjangkau, dan tepat waktu. Kekuatan armada angkutan umum bisa diandalkan walaupun harus ditata dan banyak yang perlu diremajakan. Di Kota Bekasi ada hampir 6.000 taksi, 4.500 angkutan kota, 300 bus, 1.100 minibus dan mikrobus, serta tentu saja KRL dengan 51 keberangkatan.


Penulis: Ambrosius Harto Manumoyoso
Editor : Rusdi Amral