Selasa, 2 September 2014

News / Megapolitan

Polwan Bisa Menjadi Curhatan Korban Pornografi...

Minggu, 21 April 2013 | 06:34 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com - Tugas polisi wanita (polwan) pada institusi kepolisian di republik ini terus berkembang mencakup berbagai sendi. Penanganan kasus kejahatan terhadap wanita di dunia maya seperti kasus penyebaran konten pornografi, menjadikan peran seorang polwan sebagai tempat "curhat" yang nyaman manakala korban atau pelapornya adalah seorang wanita.

Briptu Made Ria Darmayanti (26), penyidik polwan yang kini bertugas di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya bercerita salah satu pengalamannya dalam karier di institusi kepolisian menangani kasus kejahatan terhadap wanita.

"Jadi di Cyber Crime, kasus pornografi, video, foto, yang disebar melalui media internet, kalau pelapor atau korbannya perempuan lebih terbuka bercerita dengan seorang polwan," kata Briptu Made, dalam wawancara dengan Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Kejahatan terhadap wanita melalui media-media elektronik diantaranya bermodus chatting biro jodoh sampai melalui jejaring sosial. Ia mengatakan korbannya mulai dari pelajar sampai dengan perempuan dewasa.

Sebagai penyidik wanita, beberapa korban yang ditanganinya bisa merasa leluasa untuk terbuka berbicara dengannya. Briptu Made mengatakan sudah beberapa kali menangani kasus seperti itu. Komunikasinya dengan korban bisa berjalan lancar karena perasaan sesama wanita yang saling mengerti.

"Karena kalau laki-laki, (korban) agak malu-malu. Kalau ada pelapor korbannya perempuan, kasus pornografi lebih dikhususkan polwan," ujar Briptu Made.

Sebelum menjadi penyidik, ia juga pernah ditempatkan pada bagian patroli dan juga pada divisi Tahanan dan Barang Bukti (Tahti). Tidak hanya bertugas di dalam kantor, tugas di lapangan menangkap pelaku kejahatan juga pernah dirasakannya.

"Sudah ke mana-mana, ke lapangan itu waktu nangkep di Solo, ke Semarang pernah. Pernah ikut penangkapan di Medan kasus penipuan," ujar wanita yang kini telah berkeluarga itu.

Saat mengikuti penangkapan di Medan, hanya ia sendiri yang merupakan seorang wanita. Karena berhasil dalam penangkapan bersama tim, ia kemudian mendapatkan piagam penghargaan dari Kapolda Metro Jaya, Irjen Putut Eko Bayuseno.

"Jadi teman-teman yang lain laki-laki semua. Waktu itu kita menangkap tersangkanya ada 8," ujar lulusan Pendidikan Pembentukan Bintara, Sepolwan Ciputat, tahun 2006 itu.

Polwan dalam tugas intel

Iptu Dian Puspito Sari (29), penyidik polwan yang saat ini juga bertugas di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, mengawali dinas di jajaran Polda Bali. Salah satu jabatan yang pernah diembannya adalah bertugas di Polres Badung sebagai Kepala Unit Intel.

"Waktu dulu di Bali saya di fungsi intel. Jadi kita mencari orang asing yang tidak melapor. Karena di Bali itu banyak (orang asing)," kata Iptu Dian.

Menurutnya, fungsi polwan dalam intel lebih mudah saat melakukan tugas penyamaran. Selama bertugas sebagai intel di Bali dilakoninya dengan membaur bersama masyarakat umum.

Tidak ada perbedaan dalam pelatihan khusus seorang anggota polisi. Ia mengatakan semua pelatihan yang diterima bentuknya sama. Di Polda Metro Jaya sendiri Iptu Dian kini bertugas menangangi kasus-kasus kejahatan perbankan. Sebelumnya, ia pernah juga bertugas di divisi Propam Polda Metro Jaya.

"Sekarang menangangi kasus fisikal moneter, masalah perbankan dan investasi kosong," ujarnya.

Bergabung di institusi penegak hukum membuatnya bangga menjadi anggota Polri. Dengan dukungan dari orangtua dan cita-citanya sendiri, lulusan Akademi Polisi Den41 Ananta Hira, Semarang tahun 2009 itu juga mengaku mendapat motivasi dari sang kakak yang juga anggota polisi di Polda Jawa Tengah.

Meski telah berkeluarga, Iptu Dian mengatakan hal yang perlu dilakukan tinggal mengatur waktu antara tugas dan keluarga. "Suami juga sebelum nikah sudah memahami tugas polisi dari awal," ujarnya.

Wanita harus kuat dan santun

Peringatan hari Kartini tahun ini, Minggu (21/4/2013), sejatinya menjadi momentum mengenang perjuangan emansipasi wanita oleh tokoh Raden Ajeng (R.A) Kartini. Iptu Dian, mengatakan perjuangan RA Kartini menjadi inspirasi bagi setiap wanita untuk meniru semangatnya.

"Sebagai polwan, harus kuat melaksanakan tugas wanita, santun dan ingat kodrat sebagai seorang wanita," ujarnya.

Persamaan gender membuat wanita juga bisa melakukan beberapa peran yang selama ini banyak di dominasi pria. "Intinya sekarang sudah ada persamaan gender, jadi tidak ada perbedaan antara laki-laki dengan perempuan. Perempuan jangan mau kalah dengan laki-laki, tetapi tetap dalam kodratnya sebagai seorang istri dan ibu," kata Briptu Made.


Penulis: Robertus Belarminus
Editor : Aloysius Gonsaga Angi Ebo