Sabtu, 22 November 2014

News / Megapolitan

Dugaan Malapraktik, Dokter RS Persahabatan Dipolisikan

Senin, 22 April 2013 | 22:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Seorang dokter di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Jakarta Timur, yang berinisal BHS, dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Senin (22/4/2013). BHS diduga melakukan tindakan malapraktik yang menyebabkan pasiennya meninggal dunia.

Pandapotan Manurung (41) melaporkan dokter tersebut setelah istrinya, Ana Marlina (38), meninggal dunia seusai menjalani perawatan penyakit tiroid di RS Persahabatan. Kejadian bermula saat sang istri menjalani perawatan di RS tersebut pada 10 Maret 2013. Dokter menyatakan Ana menderita penyakit kelenjar gondok sehingga perlu menjalani operasi.

"Dokter mengatakan yang dialami istri saya adalah tiroid dan harus diangkat melalui operasi. Apa risikonya, saya tanya sama dokter. Pertama, katanya, kalau tidak dioperasi akan rentan dan tubuh akan lemah. Kedua, kalau dikaruniai anak, akan melahirkan anak yang cebol," kata Pandapotan saat dihubungi Kompas.com, Senin malam.

Operasi kemudian dilakukan di RS tersebut pada 11 Maret 2013 menjelang siang. Pandapotan menerima pemberitahuan itu melalui SMS yang dikirimkan dari RS tersebut. "Sekitar 11.30, dokter memberikan botol obat isinya daging dan cairan. Itu asumsi saya tiroid dan daging diangkat," ujar Pandapotan.

Setelah operasi selesai, Ana dikembalikan ke ruang perawatan. Namun, kata Pandapotan, menjelang sore sampai malam hari, istri kemudian mengalami rasa sakit. "Sore harinya istri saya sadar, dan dia bisa bicara bersuara serak dan pelan, tidak lama kemudian mengalami kesakitan di leher," ujarnya.

Pada keesokan harinya, Selasa (12/3/2013) sore, terjadi pembengkakan di leher pasien. Menjelang malam, pasien mengerang kesakitan akibat hal itu. Pandapotan mengaku sudah meminta perawat memanggilkan dokter, tetapi perawat mengatakan dokter tak bisa datang dengan alasan berbagai hal.

"Erangan semakin luar biasa, ada bengkak dari leher sampai tulang pipi di bawah mata. Saya bilang infeksi, tapi dokter bilang enggak," katanya.

Pada Rabu (13/3/2013) sekitar pukul 02.00 WIB dini hari, Pandapotan mengatakan bahwa istrinya sudah tak tahan dan meminta pindah dari rumah sakit tersebut. Namun, perawat yang ditemuinya tidak mengizinkan hal itu. Perawat memintanya menunggu dokter BHS.

"Rabu pagi jam 07.00 datang dan dokter menjelaskan rasa sakit dan bengkak di pipinya karena bekuan darah yang menyumbat saluran tiroid dan harus diberikan operasi," kata Pandapotan.

Operasi kedua pun dilakukan terhadap pasien. Sekitar pukul 14.00 WIB, dokter BHS memanggilnya dan menjelaskan kelenjar tiroid yang dialami Ana menjadi kanker ganas melekat dan melilit saluran makanan dan pernapasan.

"Pada saat dilakukan pengangkatan yang disebut kanker ganas itu, dokter bilang saluran makanan jadi tipis. Pada saat dikasih makan, saluran makannya putus. Tapi di ruang perawatan diubah lagi, dibilang sobek," ujarnya.

Menurut dokter, akibat kejadian itu, saluran makan perlu disambung dengan bantuan alat. Tetapi, RS tidak memiliki alat yang dimaksud. Pasien kemudian menjalani perawatan di ruang perawatan intensif sampai kemudian dikembalikan di ruang rawat inap.

Pada Sabtu (23/3/2013) pagi, saat Pandapotan diminta menebus obat, ia melihat kondisi istrinya sudah mendapat perawatan darurat. "Saya lihat istri lagi ditekan-tekan dadanya, saya cuma histeris dan berdoa. Dokter di ICU kemudian bilang, istri saya tidak tertolong," katanya.

Atas peristiwa itu, Pandapotan menilai ada dugaan malapraktik yang dilakukan dokter di RS tersebut. Keluarga kemudian melaporkan dugaan malapraktik tersebut ke Polda Metro Jaya dengan nomor laporan LP/1316/IV/2013/Dit Reskrimum.

"Pelapor Pandapotan Manurung, terlapor Dr BHS," kata Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto membenarkan laporan tersebut. Pelapor menduga ada kesalahan prosedur penanganan serta kesalahan diagnosis dan kelalaian oleh terlapor.

Kompas.com belum mendapatkan konfirmasi dari RS bersangkutan maupun dokter yang dilaporkan tersebut.


Penulis: Robertus Belarminus
Editor : Laksono Hari W