Kamis, 2 Oktober 2014

News / Megapolitan

Penyekapan Buruh

Tempat Penyekapan Dibelakang Rumah Mewah

Minggu, 5 Mei 2013 | 14:57 WIB

 TANGERANG, KOMPAS.com- Pabrik kuali milik tersangka Yuki Irawan (41) di Kampung Teluk Bayur Opak, Lebak Wangi, kini disegel Polres Metro Tangerang.

Bangunan terdiri dari tiga unit kelompok besar bangunan, dimana tempat penyekapan justru berada tepat di belakang rumah mewah Yuki.

Rumah milik tersangka Yuki terlihat sangat megah. Bangunan berarsitektur model klasik mediterania berdinding krem itu terdiri dari dua lantai.

Rumah dikelilingi pagar besi dengan tempa berulir berwarna tembaga. Di dalam terdapat area taman dengan paving blok yang tampak digunakan untuk parkir mobil dan area anak bermain.

Sebuah sepeda anak tampak tergeletak di halaman taman tersebut. Siapa menduga, tepat di belakang rumah megah dan cantik tersebut, menempel sebuah bangunan kecil dengan dinding yang tidak diplester.

Bangunan tersebut adalah tempat penyekapan sekitar 30 lebih pekerja yang diperbudak oleh Yuki.

Bagian luar bangunan, ada bale-bale yang tampak digunakan untuk centeng berjaga. Lalu sebelum pintu masuk ke dalam bangunan, terdapat area untuk memasak.

Namun tidak terlihat perangkat untuk makan seperti sendok, garpu, apalagi piring. Masuk ke dalam bangunan tersebut, disebelah kiri terdapat toilet berukuran 1X1,5 meter.

Toilet tersebut gelap; dinding tidak diplester tidak ada bak penampung air kecuali sebuah ember kecil.

Disamping toilet jongkok terdapat satu bungkus sabun colek dan sebuah sikat gigi. Lalu ada selasar kecil yang menghubungkan area pintu masuk ke ruangan yang cukup besar yang tampak digunakan sebagai ruang tidur dan meyekap pekerja.

Ruang tidur itu luasnya sekitar 3X4 meter, tanpa jendela hanya sejumlah lobang udara pada bagian atas tembok. Gelap dan pengap.

Tidak ada fasilitas yang berarti di dalamnya; hanya sebuah kipas, televisi tabung ukuran 14 inch, sejumlah tali dan paku untuk mengantung pakaian.

Di lantai semen yang tergeletak sejumlah tikar yang tampak lusuh. Tikar hanya menutupi bagian lantai yang bersudut pada dinding, sementara sebagian besar lainnya tak bertikar. Inilah ruangan tempat sekitar 30 pekerja tidur dan disekap.

Suasana kelam dan penuh penderitaan terasa pekat saat memasuki bangunan ini. Di salah satu tembok di selasar kecil yang mengubungkan toilet dan kamar terdapat tulisan "sekawan sehidup semati".

Sementara di dalam kamar terdapat tulisan di dinding yang tak kalah menyedihkan. "Budak budak", "Mati Untuk Dikenang", dan "Disini tempatnya Lelaki Sejati".

Tulisan-tulisan yang menjadi gambaran bagaimana selama ini para pekerja hidup dalam penderitaan.

Sungguh merinding saya membaca tulisan-tulisan itu. Mengenaskan, sementara sang pemilik pabrik dan istrinya tepat tinggal di bangunan mewah didepannya.


Penulis: Lasti Kurnia
Editor : Tjahja Gunawan Diredja