Rabu, 26 November 2014

News / Megapolitan

Penyekapan Buruh

Mengenaskan, Suasana di dalam Pabrik Kuali Tangerang

Minggu, 5 Mei 2013 | 18:14 WIB

TANGERANG, KOMPAS.com-  Siapapun yang melihat sepintas dari luar,  tidak akan menyangka bahwa di dalam pabrik kuali di Kampung Bayur Opak, Kabupaten Tangerang, Banten, telah terjadi perbudakan.

Tampak luar kompleks bangunan pabrik tampak biasa saja, apalagi disampingnya berdiri sebuah rumah mewah.

Namun saat masuk ke dalamnya, selain kotor, jorok, pengap, dan berdebu, suasana gelap mencekam  terasa pekat di sejumlah ruangan.

Pabrik kuali bersebelahan persis dengan rumah mewah dua lantai  milik bos kuali alias tersangka Yuki Irawan (41).

Lokasi pabrik berada di tengah perkampungan penduduk di Kampung Bayur Opak. Posisinya berada di depan jalan kampung yang bisa dilalui satu buah mobil.

Di jalan tersebut tampak dua buah bangku kayu yang dipaku ke pohon di pinggir jalan. Menurut warga, di pohon tersebut selalu ada centeng yang mengawasi pabrik dari luar.

Bangunan pabrik bisa dibilang terdiri dari tiga bangunan utama sedangkan satu unit bangunan kecil yang terpisah, berada di belakang rumah mewah milik Yuki.

Bangunan pertama adalah bangunan non permanen beratap asbes, berdinding bambu, dan disangga oleh sejumlah tiang kayu.

Di dalam bangunan tersebut terdapat dua buah tungku yang digunakan untuk melebur aluminium dan di lantai tanah terdapat tempat mencetak aluminium cair menjadi bentuk batangan.

Sejumlah tabung gas, timbangan, dan alat mencetak kuali berserakan di lantai tanah. Di dua buah tiang kayu dipasang karton bertuliskan target produksi.

Kuali Lantai tanah dipenuhi debu dan potongan kayu. Di bagian dalam bangunan non permanen itu terdapat bangunan tempat mandor atau para centeng tinggal.

Bangunan permanen dengan cat warna hijau kusam yang terdiri dari empat buah unit kamar.

Masing-masing kamar terdiri dari satu ruangan depan, satu kamar, satu kamar mandi. Kondisi tiap unit bervariasi, ada yang kamar mandinya bisa digunakan, namun ada juga yang tidak.

Sementara itu, ruang depan masing-masing unit tampak digunakan untuk menyimpan beragam alat. Tampaknya hanya kamar tidur saja yang difungsikan.

Setiap unit tampak kotor, hanya diterangi lampu bohlam 5 watt saja. Sarang laba-lama tampak menghias setiap langit-langit yang hitam.

Bangunan kedua adalah satu unit bangunan dua lantai yang digunakan untuk menyimpan kuali yang sudah jadi.

Masing-masing lantai terdapat tiga buah ruangan yang penuh dengan kuali. Lantai satu tampak sangat kotor penuh dengan gunungan potongan kertas timah.

Lantai dua digunakan untuk mengemas kuali yang sudah siap kirim. Sejumlah kuali telah tertumpuk rapi dan dikemas; ditempel label dan dibungkus  plastik.

Tampaknya pabrik kuali ini tidak memproduksi satu merek saja. Ini terlihat dari empat jenis merek yang disiapkan untuk dipasang pada kuali.

Yaitu merek Tiga Bintang Super, Arwana, Banteng, dan Jerapah. Bangunan ketiga adalah tempat membentuk dan mengikir kuali yang bersebelahan dengan area bongkar muat.

Area bongkar muat berada di luar bangunan berupa pelataran semen yang kira-kira muat untuk parkir dua hingga tiga buah kendaraan seperti truk atau mobil bak belakang.

Potongan kayu, tumpukan karung, sisa potongan dari mengikir kuali berserakan dimana mana. Galon air mineral, jam dinding, dan papan berisi daftar target produksi juga dipasang di dalam ruangan.

Dinding ruangan yang bersebelahan dengan rumah mewah milik Yuki, bolong. Hanya dibatasi oleh parit yang dipenuhi air limbah dan sebuah titian kayu untuk menyeberang ke area belakang rumah mewah milik Yuki Irawan.

Tembok bolong tersebut menjadi akses penghubung antara rumah mewah Yuki, sang pemilik pabrik kuali dengan area pabrik.

Di belakang rumah mewah Yuki, terdapat satu unit bangunan kecil yang digunakan sebagai tempat menyekap 30 orang lebih pekerja yang diperlakukana bak budak.

Suasana di setiap ruangan nyaris sama yakni  kotor dan berdebu. Langit-langit dipenuhi sarang laba-laba yang sudah menghitam.

Sampah, tumpukan kayu, karung-karung tanah, potongan kertas timah,berserakan di sejumlah sudut hingga bagian depan bangunan pabrik.

Ini sangat kontras dengan suasana bangunan rumah mewah milik Yuki yang tepat besanding di sebelahnya.

Yang paling mengenaskan adalah saat menapaki ruangan-ruangan gelap yang penuh dengan nyamuk. Juga menemukan sejumlah tulisan di dinding yang secara tidak langsung menceritakan penderitaan para pekerja.

Tulisan-tulisan itu tersebar di sejumlah sudut bangunan, antara lain ; "Sekawan sehidup semati", "Haruskah takut", "Budak budak", dan "Sing sabar ya".

 

 


Penulis: Lasti Kurnia
Editor : Tjahja Gunawan Diredja