Kamis, 23 Oktober 2014

News / Megapolitan

Takut Tak Lulus UN, Seorang Siswi Gantung Diri

Minggu, 19 Mei 2013 | 10:05 WIB

DEPOK, KOMPAS.com - FW (17), siswi kelas III SMP di Pondokpetir, Bojongsari, Depok, memilih mengakhiri hidup dengan cara gantung diri di rumahnya, Sabtu (18/5/2013) sekitar pukul 06.15. Remaja itu diduga bunuh diri karena takut tidak lulus Ujian Nasional (UN).

Jasad FW ditemukan tergantung menggunakan kain selendang di rumahnya di Perumahan Reni Jaya, Pondokpetir, Bojongsari. Di akhir hayatnya, FW terlihat mengenakan celana legging hitam dan kaus berwarna oranye.

Anak kedua dari pasangan Dedy (74) dan Yani (34) itu memilih gantung diri di balok kayu yang menghubungkan pintu belakang rumah dengan pintu kamar kakaknya Edy.

Menurut Dedy, istrinya yang pertama kali menemukan FW gantung diri. Saat itu Yani akan membangunkan FW agar segera mengikuti acara perpisahan di sekolah. "Istri saya mau membangunkan anak kedua saya, sekalian mau pipis. Terus ia melihat FW gantung diri," kata Dedy sambil menangis, kemarin.

Mau kerja

Sedangkan Edy menyatakan bahwa ia tahu FW gantung diri dari ibunya. Saat itu ibunya membangunkan untuk memberi tahu bahwa FW gantung diri. "Saya lihat kain yang digunakan untuk menggendong bayi (yang dipakai FW). Saya tidak ada firasat sama sekali. Bapak sama ibu juga begitu," ujar Edy.

Edy menjelaskan, adiknya begitu serius menghadapi UN sehingga dia giat belajar. Saat akan tidur pun FW tetap belajar.

"Dia giat belajar karena takut enggak lulus UN. Bahkan selama akan menghadapi UN, FW tidak buka-buka Facebook dan Twitter-nya. Saya bilang, 'Tidak usah tegang. Rileks saja kalau menghadapi UN," tutur Edy yang kini menjadi tulang punggung keluarganya itu.

Edy mengatakan, dua minggu yang lalu, FW kembali menyampaikan rasa kekhawatirannya tidak lulus UN. Dia bilang, jika tidak lulus UN, maka akan bekerja sebagai penjaga warnet di rumah sepupunya di Cibinong, Kabupaten Bogor. Edy pun mempersilakan FW menjalankan niatnya itu. Jika FW hendak melanjutkan sekolah, maka Edy pun akan membantu.

Namun, tiga hari menjelang acara perpisahan di sekolahnya, FW berubah sikap. Remaja periang dan mudah bergaul itu pun menjadi pendiam.

"Dia memang sangat khawatir tidak lulus UN. Dia bilang akan kerja kalau enggak lulus UN. Saya bilang kalau itu memang sudah pilihan kamu jalanin aja. Masalah lulus enggak lulus UN, jangan dipikirin terlalu dalam. Tetangga bilang FW berubah jadi pendiam," tutur Edy.

Sepupu FW yang tak mau disebutkan namanya kemarin menyatakan bahwa biasanya FW tidak tidur sendiri, tetapi bertiga. Dia biasa tidur bersama ibunya dan adiknya Vony. Namun, pada Jumat (17/5/2013) malam, FW tidur sendiri. "Biasanya tidur bertiga. Namun, malam itu sekitar pukul 23.00 dia sudah masuk kamarnya. Bahkan katanya dia sudah merapikan foto-fotonya," ujarnya.

Bahaya

Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA), Arist Merdeka Sirait, menyatakan bahwa bertambahnya kasus pelajar bunuh diri karena takut tidak lulus UN membuat pemerintah harus mengevaluasi besar-besaran UN. Apalagi Mahkamah Konstitusi telah memutuskan melarang UN.

"Tahun lalu ada tiga siswa yang berusaha bunuh diri. Sekarang ada lagi. Ini bahaya. Pemerintah harus patuhi keputusan MK yang menganulir keputusan pelaksanaan UN. Pemerintah harus evaluasi besar-besaran UN," kata Arist kemarin.

Ditambahkan Arist, UN membuat siswa menjadi tertekan, baik itu sebelum maupun sesudah pelaksanaan UN. Dengan begitu kejiwaan siswa menjadi terganggu. Apalagi setelah lulus, para siswa juga susah untuk memilih sekolah.

Anggota Akademi Pengetahuan Indonesia (AIPI) Henry Alexis Rudolf Tilaar menyatakan bahwa UN tidak sesuai dengan UUD 45 dan Pancasila, sehingga UN harus dihapus. Menurutnya, UN membuat terjadinya pembohongan berjamaah. Mulai dari kepala dinas hingga ke siswa melakukan pembohongan agar bisa lulus UN.

Membukakan mata

Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok Hery Pansila menyebutkan bahwa bunuh diri FW merupakan musibah sekaligus membukakan mata bagi semua masyarakat Depok. Peristiwa tersebut harus melecut RT dan RW serta para warga untuk mendata warga yang tidak mampu melanjutkan sekolah.

"Mungkin tertekan menghadapi UN. Namun saya melihat ini karena tidaksanggupan untuk melanjutkan sekolah. Mungkin juga kepala sekolahnya tidak mensosialisasikan kepada siswanya bahwa Kota Depok mempunyai program menyekolahkan masyarakat tak mampu," tuturnya.

Hery menambahkan bahwa sosialisasi program sekolah untuk siswa tak mampu sudah dilakukan ke seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) hingga ke kepala sekolah negeri. Begitu juga ke sekolah swasta.


Editor : Laksono Hari W
Sumber: