Jumat, 29 Agustus 2014

News / Megapolitan

Semoga KJS Lebih Bagus, Tak seperti Kartu Gakin

Selasa, 28 Mei 2013 | 19:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Warga kurang mampu yang memperoleh Kartu Jakarta Sehat menggantungkan harapannya menikmati layanan kesehatan yang lebih baik pada program kesehatan tersebut. Meski merasa terjamin dengan KJS, warga berharap pelaksanaan KJS tidak hanya baik di awal, tetapi buruk di kemudian hari.

Hari ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membagikan 1.733.991 Kartu Jakarta Sehat (KJS) kepada warga Jakarta, Selasa (28/5/2013). Jumlah itu terdiri dari 339.333 di Jakarta Pusat, 105.715 di Jakarta Utara, 435.979 di Jakarta Barat, 337.449 di Jakarta Selatan, 502.500 di Jakarta Timur, dan 12.165 di Kepulauan Seribu. Ini adalah pembagian KJS gelombang kedua setelah Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo membagikan KJS untuk pertama kali pada November 2012.

Menilik pelaksanaan program KJS tahap awal, antusiasme warga pengguna KJS begitu besar sehingga jumlah pasien yang dirujuk ke rumah sakit melonjak tajam. Meski demikian, warga tetap optimistis bahwa KJS dapat menjadi kartu "sakti" untuk mendapatkan layanan kesehatan gratis, tentunya dengan persyaratan dan kriteria tertentu.

Maksus (65), misalnya. Warga Jalan Mawar RT 04/RW 011, Koja, Jakarta Utara, itu merasa bersyukur karena menjadi salah satu peserta KJS. Di usianya yang tergolong senja, baru kali ini ia bisa merasakan jaminan kesehatan dengan sangat mudah.

"Alhamdulilah, jadi kita ada jaminan. Kan umur sudah tinggal sedikit lagi ini," ujarnya kepada Kompas.com seusai mendapat KJS di Puskesmas Koja, Selasa pagi.

Hal serupa turut dirasakan oleh Ibu Roni (68), warga RT 06/RW 03, Koja, Jakarta Utara. Sebulan lalu, ia mengantarkan putrinya yang terkena demam berdarah. Karena menggunakan KJS, ia merasakan manfaat langsung dari program tersebut. Ia berharap KJS menjadi pintu gerbang pelayanan kesehatan yang maksimal, terutama bagi warga miskin DKI.

"Kalau dulu kan pakai Gakin (Kartu Keluarga Miskin), mau berobat nunggu lama banget, suruh digeletakkin dulu. Sekarang saya masuk jam 24.00 WIB nganter anak saya sakit DBD, langsung dilayani petugas," ujarnya.

Pengalaman buruk itu juga pernah dialami Musaneh (58), warga RT10/RW 08, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Ketika menggunakan Kartu Gakin, suaminya terpaksa menunggu 12 jam di Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Rebo untuk mendapatkan pelayanan. Ia berharap, KJS tidak hanya manis di awal, tetapi juga sampai seterusnya.

"Ya, kan takutnya begitu. Dulu juga begitu, awal bilangnya bagus, cepat. KJS ini harusnya enggak kayak dulu-dulu, harus lebih bagus," ujarnya.

Sama dengan sistem KJS tahap pertama, pasien KJS baru diminta mendaftar di puskesmas terlebih dahulu. Jika penyakit pasien tak bisa ditangani oleh tenaga medis dan fasilitas puskesmas, petugas kemudian merujuk pasien ke sejumlah rumah sakit yang terkoneksi KJS.


Penulis: Fabian Januarius Kuwado
Editor : Laksono Hari W