Jumat, 25 April 2014

News / Megapolitan

Pasar Tradisional Kok Tak Diberi Kampanye Kantong Daur Ulang?

Rabu, 12 Juni 2013 | 13:19 WIB

Baca juga

JAKARTA, KOMPAS.com — Surat Edaran (SE) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Nomor 6 Tahun 2013 tentang Penggunaan Kantung Daur Ulang di pusat perbelanjaan diapresiasi positif pengelola pusat perbelanjaan. Di sisi lain, mereka meminta kebijakan yang sama diterapkan di pasar tradisional.

"Kami menyarankan, kenapa cuma kami? Padahal Yang perlu dididik itu sebenarnya pasar-pasar tradisional," ujar Handaka, CEO Kuningan Mal, saat dihubungi wartawan, Rabu (12/6/2013).

Menurutnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak mengetahui peta penggunaan plastik di kota besar seperti Jakarta. Jauh-jauh hari, kata dia, pihaknya telah melakukan imbauan kepada sejumlah pengelola toko untuk menggunakan tas daur ulang sebagai pembungkus barang.

Handaka mencontohkan, salah satu pengelola toko yaitu Metro Departement Store, telah mengganti kantong plastik dengan kantong plastik yang bisa didaur ulang. Oleh sebab itu, kata Handaka, akan lebih efektif jika kampanye gerakan penggunaan plastik daur ulang itu juga dilakukan pada pasar tradisional di DKI Jakarta.

"Kalau kita lihat, orang beli bawang di pasar kan plastiknya langsung dibuang. Beda sama orang belanja di mal, misalnya Metro, itu kan bagus kantongnya, jadi bisa dipakai lagi," tuturnya.

Handaka mengaku mendukung penuh kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tersebut. Hal itu terbukti dari Surat Edaran, yang ketika sampai ke pihaknya pada 3 Juni 2013 lalu, langsung diberikan ke pengelola toko yang menyewa tempat di pusat perbelanjaannya. Handaka juga mengklaim surat edaran tersebut telah dijalankan oleh beberapa pengelola toko.

Sebelumnya diberitakan, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menegaskan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan surat edaran ke setiap mal di Ibu Kota. Surat edaran itu meminta tiap pengelola mal mengganti plastik pembungkus barang dengan tas daur ulang demi lingkungan.


Penulis: Fabian Januarius Kuwado
Editor : Ana Shofiana Syatiri