Senin, 22 September 2014

News / Megapolitan

PKL Tanah Abang Berlindung kepada Preman

Selasa, 23 Juli 2013 | 11:21 WIB
ESTU SURYOWATI Lapak pedagang kaki lima (PKL) Tanah Abang menghambur di trotoar dan badan jalan Kabon Jati, Rabu (17/7/2013). Untuk keamanan, setiap hari PKL membayar Rp 1.000- Rp 2.000 kepada preman, Rp 300.000-Rp 400.000 per bulan, serta harus memesan lapak kepada preman.

JAKARTA, KOMPAS.com — Sulitnya menertibkan pedagang kaki lima (PKL) di jalanan sekitar Pasar Tanah Abang ialah karena para PKL tersebut dilindungi oleh oknum-oknum preman yang berada di sana. Hal ini merupakan suatu rantai simbiosis mutualisme yang sudah terjalin cukup lama.

Ini sudah kongkalikong antara PKL dengan preman. Masalah sangat berat untuk menghilangkan PKL karena dilindungi preman, dan merupakan simbiosis mutualisme.

Tanpa adanya perlindungan dari preman, para PKL tentu tidak berani untuk tetap berjualan di jalan. Oleh sebab itu, butuh suatu solusi dengan memberdayakan preman tersebut agar tidak meminta pungutan liar kepada pedagang dan akhirnya pedagang bisa direlokasi ke tempat yang lebih layak.

Soal pungutan liar oleh preman, banyak terjadi di pasar tradisional, bukan hanya Tanah Abang. Para preman harus diberikan keterampilan seperti berdagang, menjadi sopir, atau sekuriti. Karena kalau mereka tidak dicarikan lahan untuk mencari makan, tingkat kriminalitas akan meningkat.

Penertiban PKL Tanah Abang yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah tepat. Pasalnya, PKL itu membuat kemacetan yang cukup parah di kawasan itu. Namun, perlu adanya tempat relokasi yang layak untuk para PKL.

Meski tempat yang bagus dan pembeli bisa datang, untuk dispensasi, ongkos sewa kios juga harusnya diberikan gratis satu tahun. Pasalnya, sebuah tempat yang baru pasti perlu adaptasi. Perlu juga diberikan pinjaman usaha untuk mereka berdagang dengan bunga yang rendah.

Untuk penertiban PKL di saat bulan Ramadhan, seharusnya para PKL mengusulkan kepada pihak Pemprov DKI agar tidak menertibkan pada bulan ini. Pasalnya, dalam bulan penuh rezeki ini, para PKL bisa mendapatkan keuntungan. (Musni Umar, Sosiolog Universitas Indonesia)

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Ana Shofiana Syatiri
Sumber: Warta Kota cetak