Jumat, 22 Agustus 2014

News / Megapolitan

Warga Waduk Pluit Cemburu kepada Warga Ria Rio

Jumat, 30 Agustus 2013 | 07:29 WIB
Robertus Belarminus Ruang tamu di Rusunawa Pinus Elok yang sudah dilengkapi lemari es dan televisi beserta raknya. Fasilitas ini diterima warga Waduk Ria Rio yang akan direlokasi ke rusunawa tersebut.

JAKARTA, KOMPAS.com — Warga Waduk Pluit di Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Pinus Elok cemburu mengetahui berbagai fasilitas akan disediakan oleh Pemprov DKI Jakarta untuk warga relokasi dari Waduk Ria Rio. Mereka mengaku tidak mendapat fasilitas serupa saat masuk ke rusun yang sama.

Hal ini diungkapkan Aisah (54), warga Blok A1 Cluster A Rusun Pinus Elok. Aisah mengaku sejak menempati rusun tersebut tidak tersedia fasilitas apa pun yang diberikan kepada warga di sana. Barang miliknya juga habis sewaktu adanya penggusuran di tempat tinggalnya.

"Waktu dapat kosong sama sekali. Tapi, ngelihat di sini (di tempat warga Ria Rio) dikasih, kok kita enggak. Penginnya disamain," kata Aisah saat ditemui Kompas.com di Rusun Pinus Elok, Kelurahan Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur, Kamis (29/8/2013) sore.

Aisah mengaku, hingga saat ini, dia belum memiliki tempat tidur sejak empat bulan lalu menghuni Rusun Pinus Elok. Dia menempati rusun itu bersama suaminya, Junai (60), dan tiga orang anak lelakinya yang telah bekerja pulang pergi di kawasan Pluit.

"Saya belum dapat tempat tidur. Di bawah (lantai) dingin pakai karpet. Sudah dari empat bulan," ujar Aisah.

Hal senada diungkapkan Rokayah (33), warga Blok A lantai 2 rusun tersebut. Sejak digusur dari Waduk Pluit, dia masuk ke unit yang masih kosong, tak ada fasilitas TV, kasur, dan sebagainya. Dia berharap bisa mendapatkan fasilitas serupa seperti yang diberikan Pemprov DKI Jakarta bagi warga Ria Rio.

"Minta kayak orang-oranglah, disamain. Ada kulkas, lemari, sofa, televisi. Masak kita enggak ada sih," ujar Rokayah.

Rokayah tinggal di Rusun Pinus Elok bersama Majuri (43), suaminya, dan tiga anaknya. Anak pertamanya, Solihin (21), bekerja sebagai perajin sablon di wilayah Muara Angke. Anak kedua, Soleh (15), bekerja sebagai penjahit di Jembatan Lima Penjaringan. Sementara anak ketiganya, Siti, masih berusia balita dan belum bersekolah.

Dia bercerita, sejak menempati rusun di wilayah Cakung itu, sang suami mesti bekerja pulang pergi ke daerah Pluit sebagai pedagang sate keliling. "Kadang pulang sebulan sekali di sini," ujar Rokayah.

Meski demikian, Rokayah tetap bersyukur bisa menempati rusun tersebut. Dia yang biasa mengalami banjir di wilayah Waduk Pluit kini bisa merasakan kehidupan yang lebih nyaman dan bebas dari ancaman banjir yang kerap menerpa tempat tinggalnya dahulu.

"Ya enaklah. Ya, namanya juga lebih nyaman, enggak takut banjir, enggak kenapa-napa, adem (di rusun). Enggak kayak di Waduk Pluit diuber-uber (petugas)," ceritanya sembari tersenyum.

Sementara Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang ditanyai mengenai masalah ini mengatakan akan mengurus hal tersebut. "Iya, nanti kita urus," ujar Jokowi sebelum meninggalkan Rusun Pinus Elok dengan mobil Toyota Innova yang ditumpanginya.

Berdasarkan data dari Penanggung Jawab Lokasi Rusun Wilayah Timur Hendriansyah, terdapat 62 unit rusun yang dihuni oleh warga Waduk Pluit. Jumlah itu termasuk di dalam 130 unit rusun dari 600 unit yang telah tempati dengan rincian 29 unit ditempati warga gusuran KPK, sisanya 39 unit dihuni warga umum. Sisanya 470 unit diperuntukkan bagi warga Waduk Ria Rio yang bakal menempati rusun yang sama tersebut.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Robertus Belarminus
Editor : Ana Shofiana Syatiri