Minggu, 21 Desember 2014

News / Megapolitan

Pencalonan Foke Jadi Dubes Jerman Ditolak

Minggu, 8 September 2013 | 08:23 WIB
ANDREAN KRISTIANTO Fauzi Bowo.

JAKARTA, KOMPAS.com — Beredarnya nama-nama calon duta besar RI untuk negara sahabat, termasuk mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo untuk Jerman, menuai respons. Kelompok yang mengatasnamakan Aliansi Peduli KBRI Jerman (Berlin) menolak pencalonan Foke menjadi dubes Jerman karena sejumlah pertimbangan.

Setidaknya, ada enam alasan yang mendasari kelompok tersebut menolak pencalonan Foke jadi duta besar RI untuk Jerman. Salah satunya adalah masalah SARA yang pernah dilancarkannya saat Pilgub DKI 2012 lalu.

Selain itu, Foke dinilai gagal mengimplementasikan ilmu yang dipelajarinya di Jerman ketika dia memimpin Jakarta. Yang terjadi, Jakarta malah semrawut.

Berikut adalah enam butir yang menjadi dasar penolakan Foke untuk duduk di kursi dubes RI untuk Jerman, sebagaimana dikutip dari www.change.org.

1. Kampanye hitam bermuatan SARA pernah dilancarkan oleh pihak Fauzi Bowo pada masa Pemilihan Gubernur DKI 2012. Kami menganggap tidak pantas memilih tokoh yang tidak menjunjung nilai-nilai multikultural dan pluralisme untuk menjadi kepala perwakilan negara Indonesia yang merupakan bangsa yang majemuk.

2. Fauzi Bowo tidak memiliki kontribusi dan track record nyata dalam hal hubungan diplomasi Jakarta-Berlin yang membuatnya layak menjadi kepala perwakilan Indonesia di negara yang merupakan pemain penting dalam percaturan politik Eropa dan internasional.

3. Tidak ada prestasi nyata dalam pembangunan Kota Jakarta selama ia menjabat sebagai gubernur, khususnya dalam perbaikan infrastruktur kota dan pengatasan masalah kemacetan sebagaimana digadang-gadang dalam slogan "Serahkan pada ahlinya". Sebagai gubernur dengan predikat lulusan universitas Jerman dalam bidang perencanaan kota, Fauzi Bowo telah gagal mengaplikasikan ilmunya. Sebaliknya, selama masa kepemimpinannya, justru kondisi tata ruang Kota dan sistem transportasi Jakarta semakin semrawut.

4. Sebagai tokoh yang sudah kehilangan kepercayaan di kota yang pernah dipimpinnya, adalah ironis kalau Pemerintah Indonesia justru memberikan jabatan yang lebih tinggi dengan menempatkan yang besangkutan sebagai kepala perwakilan Indonesia di sebuah negara penting Eropa.

5. Selama kepemimpinan Fauzi Bowo, fenomena intoleransi dan premanisme semakin berkembang dengan maraknya aksi kekerasan oleh ormas-ormas terhadap kelompok minoritas tanpa ada aksi pencegahan nyata dari Fauzi Bowo dan perangkatnya sebagai pengayom Jakarta.

 6. Sebagai pemimpin, Fauzi Bowo sering kali mengeluarkan pernyataan kontroversial yang mencederai rasa keadilan orang banyak, seperti, rok mini sebagai pemicu aksi pemerkosaan, mengasosiasikan banjir hanya sebagai genangan air, menuduh pengguna sepeda motor sebagai biang kemacetan di Jakarta, dan sebagainya.

Kami Aliansi Masyarakat Peduli KBRI Jerman menuntut pemerintah agar mempertimbangkan kembali pencolanan Fauzi Bowo sebagai duta besar RI untuk Republik Federal Jerman demi peningkatan kualitas hubungan diplomatik kedua negara.

Tertanda,

Aliansi Peduli KBRI Jerman (Berlin)

Berlin, 6 September 2013.

Nama calon

Sebelumnya, di kalangan pewarta, telah beredar 22 nama calon dubes RI untuk sejumlah negara. Salah satu nama yang muncul adalah mantan Gubernur DKI, Fauzi Bowo. Berikut adalah nama-nama calon dubes yang beredar.

Berikut daftar lengkap 22 nama yang diusulkan menjadi duta besar (dubes) RI di sejumlah negara.
1. Fauzi Bowo (Jerman);
2. Suprapto Martosetomo (Afrika Selatan);
3. Yuli Mumpuni (Spanyol);
4. Yusron Ihza Mahendra (Jepang);
5. Budi Bowoleksono (Amerika Serikat) menggantikan Dino Patti Djalal yang akan diangkat sebagai Kepala Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM);
6. Linggawaty Hakim (Swiss);
7. Komjen (Purn) Ito Sumardi (Uni Myanmar);
8. Letjen (Purn) TNI Jhony Lumintang (Filipina);
9. Yuwono A Putranto (Norwegia);
10. Raudin Anwar (Libya);
11. Abdurrahman M Fachir (Arab Saudi);
12. Jose Antonio Morato Tavares (Selandia Baru);
13. Irmawan Emir Wisnandar (Laos);
14. Sugeng Rahardjo (China);
15. Burhanuddin (Sudan);
16. Nurul Qomar (Brunei Darussalam);
17. Gary Rachman Makmun Jusuf (Fiji);
18. Rahmat Pramono (PTRI ASEAN);
19. Diar Nurbiantoro (Romania);
20. Mulya Wirana (Portugal);
21. Pitono Purnomo (Kamboja);
22. Moenir Ari Soenanda (Peru).

Editor : Bambang Priyo Jatmiko
Sumber: www.change.org