Senin, 1 September 2014

News / Megapolitan

Ini Penyebab Robohnya GOR Koja

Jumat, 20 September 2013 | 15:42 WIB
Kompas.com/Kurnia Sari Aziza Kepala Dinas Olahraga dan Pemuda DKI Ratiyono

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Dinas Olahraga dan Pemuda DKI Ratiyono mengatakan, tangga Gelanggang Olahraga (GOR) Koja, Jakarta Utara, yang roboh pada Kamis (19/9/2013) petang terjadi karena cetakan beton tak mampu menahan beban berlebih.

"Roboh pada areal tangga, terjadi karena adanya gangguan antara operator pompa beton dengan pelaksana pekerjaan yang memberikan instruksi terkait dengan stop-lanjut dan stop-lanjut," kata Ratiyono di Balaikota Jakarta, Jumat (20/9/2013).

Hal tersebut menyebabkan penumpukan beton pada satu titik sehingga mengakibatkan beban beton melebihi kapasitas. Ratiyono menjelaskan, konstruksi cetakan beton tangga sudah dirancang sesuai kebutuhan. Namun, akibat kapasitas berlebihan, konstruksi yang sudah sesuai itu tidak dapat menahan beban.

KOMPAS.com / Dian Fath Risalah El Anshari Gelanggang Olaharaga Koja, fondasi tangga ambruk pada saat pengerjaan karena tidak kuat menahan beban, mengakibatkan 6 orang menjadi korban terjepit di dalam runtuhan fondasi tangga tersebut.

Cetakan beton areal tangga, kata dia, dirancang untuk kapasitas beban 2 ton per meter persegi. Saat kejadian kemarin, cetakan beton menahan beban hingga 6 ton. Beban semakin bertambah dengan tekanan pompa beton (ready mix).

Untuk pembangunan GOR Koja ini, Disorda DKI telah menganggarkan pada APBD DKI 2013 dengan anggaran Rp 22,021 miliar. GOR Koja dibangun di atas lahan 5.526 meter persegi dengan bangunan dua lantai.

"Berdasarkan surat perintah mulai kerja, masa pekerjaan selama 165 hari kalender, terhitung sejak tanggal 3 Juli hingga 14 Desember mendatang," kata Ratiyono.

Secara keseluruhan, ia mengklaim bahwa proses pembangunan sudah sesuai dengan prosedur. Saat ini, pembangunan GOR Koja sudah mencapai 38,5 persen. Progres ini lebih cepat dari target semula, yakni 24 persen.

Ia menyebut kecelakaan ini murni kecelakaan kerja di luar perencanaan. Beberapa orang sedang menjalani pemeriksaan di Polres Jakarta Utara untuk pemeriksaan lebih lanjut. "Yang runtuh tangga, tiang utamanya tetap kokoh. Harus tetap diperiksa ulang sehingga nanti tidak ada cacat," kata dia.

Akibat runtuhnya konstruksi itu, enam pekerja pengecoran mengalami luka-luka. Korban bernama Riyanto (19), Ilyas (48), Sulis (25), Kamir (53), Nadiono (27), dan Suwandi (32). Mereka dirawat di Rumah Sakit Pelabuhan, Jakarta Utara.

Dua korban lain mengalami luka ringan karena lari dan meloncat. Pelipis dua pekerja itu terkena goresan. Namun, mereka tidak dirawat intensif di rumah sakit dan langsung diperbolehkan pulang. Adapun seluruh biaya pengobatan diambil alih oleh Pemprov DKI Jakarta.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Kurnia Sari Aziza
Editor : Laksono Hari Wiwoho