Sabtu, 25 Oktober 2014

News / Megapolitan

Artefak Hilang, Museum Akan Dijaga Polisi Cagar Budaya

Jumat, 27 September 2013 | 17:11 WIB
Zico Nurrashid Museum Nasional atau yang lebih dikenal dengan Museum Gajah


JAKARTA, KOMPAS.com — Menyusul pencurian artefak yang terjadi di Museum Nasional beberapa waktu lalu, ke depan museum akan dijaga oleh polisi khusus cagar budaya. Polisi tersebut akan menggantikan satuan pengamanan (satpam) yang biasa bertugas menjaga museum.

Hal tersebut disampaikan Diektorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Kacung Maridjan di Jakarta, Jumat (27/9/2013).

"Kita telah melakukan review besar-besaran mengenai masalah (pencurian artefak) ini. Nantinya, kita tidak lagi menempatkan satpam, tetapi polisi khusus cagar budaya," kata Maridjan.

Menurutnya, polisi khusus cagar budaya akan lebih efektif dalam melindungi museum karena mengerti mengenai nilai historis barang-barang yang ada di dalamnya. Polisi tidak hanya dianggap memiliki keahlian, tetapi juga pengetahuan.

Polisi khusus cagar budaya tersebut nantinya akan ditempatkan di berbagai museum, tidak hanya di Museum Nasional. Selain perbaikan dalam hal sumber daya manusia (SDM), Kacung juga mengaku akan memaksimalkan pengamanan dalam hal fasilitas berupa CCTV dan alarm.

"Ke depan diharapkan tidak ada lagi kecurian seperti itu. Itu memalukan," ujarnya.

Seperti diberitakan, empat artefak emas peninggalan Kerajaan Mataram Kuno dari abad X hingga abad XI, yakni Naga Mendekam, Bulan Sabit Beraksara, Wadah Bertutup Cepuk, dan Harihara, dilaporkan hilang di Museum Nasional pada Rabu (11/9/2013) pagi. Namun, pihak museum baru melaporkannya pada Kamis (12/9/2013) atau keesokan harinya.

Kejadian pencurian itu diketahui kali pertama oleh R, seorang petugas office boy pengelap kaca. Yang ironis, CCTV dan alarm yang ada di museum tidak berfungsi. CCTV sudah mati sejak 2012, sedangkan alarm tidak aktif sejak dua bulan sebelum peristiwa. Petugas keamanan yang seharusnya berjaga juga sedang tidak ada di tempat.


Penulis: Ihsanuddin
Editor : Eko Hendrawan Sofyan