Sabtu, 26 Juli 2014

News / Megapolitan

Pemerintah Diminta Revisi Bahasa Isyarat di Indonesia

Minggu, 29 September 2013 | 12:00 WIB
Alsadad Rudi Puluhan penyandang tuna rungu saat melakukan aksi damai di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (29/9/2013)

JAKARTA, KOMPAS.com -
Sistem isyarat bahasa Indonesia untuk penyandang tunarungu yang diterapkan di Indonesia, selama ini justru tidak dapat dipahami oleh penderita tunarungu. Hal itu disebabkan bahasa isyarat untuk tunarungu dibuat tanpa berdasarkan kebiasaan penyandang tuna rungu.

Pinky Warouw, aktifis Gerakan Untuk Kesejahteraan Tuna Rungu (Gerkatin) mengatakan, bahasa isyarat versi pemerintah tersebut cenderung rumit dimengerti karena awalnya mengadopsi bahasa isyarat dan kebiasaan penyandang tunarungu dari negara lain.

"Padahal kebiasaan antara tunarungu di sini dan tempat lain berbeda," ujarnya dalam aksi unjuk rasa damai di Bundaran HI, Jakarta, Minggu (29/9/2013).

Pinky mengungkapkan, ketika bahasa isyarat yang diterapkan justru tidak dapat dipahami penyandang tuna rungu, maka tujuan mencerdaskan kaum tunarungu menjadi tidak terlaksana. Hal itu seperti yang terjadi di sekolah-sekolah khusus maupun seperti di tayangan program televisi.

"Program berita TV pada zaman dulu kenapa dihilangkan, ya karena diprotes kaum tunarungu. Mereka malah tidak mengerti karena berbeda dengan bahasa mereka sehari-hari," ungkapnya.

Pinky menjelaskan, misalnya untuk mengkomunikasikan isyarat "pengangguran". Dalam bahasa isyarat versi pemerintah yang ditampilkan di televisi dan pola pengajaran di sekolah, maka gerak tangan yang ditampilkan adalah dengan mengeja huruf-huruf pada kata dasar "anggur". Yang terjadi justru penyandang tunarungu mempersepsikannya dengan buah anggur.

Padahal kata Pinky, bahasa isyarat untuk kata "pengangguran", cukup dengan melakukan gerakan wajah bengong disertai dengan gerak tangan tertentu yang mengisyaratkan orang itu tidak melakukan apapun.

"Kalau mengeja huruf per huruf jadinya kan lama," ungkapnya sambil memperagakan bahasa isyarat yang semestinya.

Selain itu, lanjut Pinky, dalam bahasa isyarat di televisi, interpreter juga membawakan dengan mimik yang serius dan cenderung datar. Padahal, mimik memegang peranan penting dalam penyampaian bahasa isyarat.

Untuk itu, Pinky menegaskan sudah saatnya pemerintah mengakomodir aspirasi penderita tunarungu dengan menerapkan bahasa aslinya yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, penyandang tunarungu dapat memperoleh kecerdasan yang sama dan dapat bersaing dengan orang normal dalam hal pekerjaan, pendidikan dan aksesibilitas.

"Ketiganya tentu bisa diraih jika bahasa mereka bisa setara dengan bahasa Indonesia," pungkas Pinky.

Dalam aksi di Bundaran HI, puluhan penyandang tunarungu hadir dari berbagai tempat di Jakarta. Mereka berasal dari berbagai komunitas yang seluruhnya tergabung di dalam Gerkatin.


Penulis: Alsadad Rudi
Editor : Caroline Damanik