Sabtu, 1 November 2014

News / Megapolitan

Bagaimana Nasib Jakarta Tanpa Jokowi-Basuki?

Senin, 7 Oktober 2013 | 11:01 WIB
TRIBUNNEWS/HERUDIN Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama.

JAKARTA, KOMPAS.com — Bukan hanya Joko Widodo yang memiliki elektabilitas tinggi, Basuki Tjahaja Purnama juga cukup populer sebagai cawapres, berdasarkan survei Cyrus Network. Andai Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama maju sebagai capres dan cawapres, bagaimana nasib Jakarta?

Pengamat kebijakan publik, Andrinof Chaniago, memperkirakan Jakarta akan "repot" apabila ditinggal dua pemimpin Ibu Kota tersebut. Dari sudut pandangnya, dampak tersebut terletak pada program dan janji Jokowi-Basuki untuk Jakarta.

"Kalau ditinggalkan Jokowi-Basuki, ya tentu bisa repot. Nantinya bisa terputus habis kesinambungan yang sudah disampaikan 1 atau 2 tahun ini," kata Andrinof saat dihubungi Kompas.com, Senin (7/10/2013).

Menurut Andrinof, untuk menjaga kesinambungan program dan janji yang telah disampaikan kedua pemimpin Jakarta itu, akan ada baiknya jika salah satu saja yang "meninggalkan" Jakarta untuk maju sebagai calon presiden RI. Misalnya, Jokowi saja, yang dalam berbagai survei memang selalu unggul sebagai calon presiden RI.

"Kalau terlepas Jokowi ninggalin, tidak boleh dua-duanya pergi ninggalin (Jakarta). Apakah Basuki jadi cawapres, mestinya tidak boleh," ujar Andrinof.

Andaikata Jokowi mengikuti pencalonan sebagai presiden dan kemudian terpilih, menurut Andrinof, paling tidak mantan Wali Kota Surakarta ini—secara moral terhadap masyarakat—perlu menjawab bahwa ia akan berkontribusi bagi DKI Jakarta dan wilayah sekitar Ibu Kota.

Penyelesaian masalah Jakarta, kata Andrinof, tidak terlepas dari wilayah yang berhubungan langsung dengan Jakarta, seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Hal itu meliputi masalah program, birokrasi, proyek multi-tahun atau infrastruktur, dan promosi yang digagas selama ini bagi Jakarta.

Jika demikian, maka masyarakat akan memahami dan melepas Jokowi serta memberikannya dukungan. "Jadi, bukan pembenaran, bukan karena Jokowinya, bukan PDI-P atau siapa. Itu merupakan syarat buat masyarakat," ujarnya.

Lebih lanjut, pengamat dari Universitas Indonesia ini mengatakan, jika Jokowi sendiri maju sebagai calon presiden, maka Basuki secara undang-undang akan menempati posisi gubernur DKI Jakarta.

Yang menjadi pertanyaan apakah Jakarta Baru dapat diwujudkan? Menurut Andrinof, Basuki perlu mendapat wakil gubernur (wagub) atau wakil dengan visi dan misi yang sama untuk Jakarta Baru. Setidaknya seperti hubungan Jokowi dan Basuki yang harmonis sejalan dalam membangun Jakarta yang lebih baik. "Itu jadi tantangan untuk melihat, apa bisa mendapatkan wagub yang tepat," ucapnya.

Kendati demikan, lanjut dia, bila memang nantinya Jokowi dan Basuki maju sebagai capres dan cawapres RI, maka ada hal-hal yang perlu diperhatikan terlebih dulu, yang tidak mungkin dilepas begitu saja oleh keduanya. Jokowi dan Basuki harus meletakkan fondasi yang kokoh untuk Jakarta. "Orang butuh kepastian bagaimana Jakarta Baru ini membuat Jakarta," ucapnya.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Robertus Belarminus
Editor : Ana Shofiana Syatiri