Jumat, 1 Agustus 2014

News / Megapolitan

Pelecehan Anak TK di JIS, KPAI Akan Surati Kemendikbud

Selasa, 15 April 2014 | 14:30 WIB
Shutterstock Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com -- Wakil Ketua I Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Budiharjo mengatakan, pihaknya akan menyurati Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan supaya sistem pengawasan di sekolah diperketat untuk mencegah tindak kekerasan di lingkungan sekolah.

"Kejadian di Jakarta membuktikan bahwa kejadian tidak hanya terjadi di lingkungan kumuh atau sekolah pinggiran. Di sekolah elite pun ternyata bisa terjadi kekerasan seksual terhadap anak," katanya di Jakarta, Selasa (15/4/2014).

Budi mengatakan, kejadian kekerasan seksual terhadap siswa TK berusia enam tahun di sebuah sekolah internasional di Jakarta Selatan harus memberi kesadaran bahwa kawasan elite pun belum mampu memberikan perlindungan terhadap anak.

Kejadian itu, kata Budi, menunjukkan fakta dan realitas bahwa kejahatan tidak memandang lokasi. Meskipun di kawasan elite, kalau ada peluang, kejahatan bisa terjadi.

"Kebetulan saja kali ini terjadi di sekolah elite. Itu fakta dan realita yang harus diterima," ujarnya.

Budi mengatakan, dalam kasus di sekolah internasional itu, KPAI sudah turun setelah kejadian tersebut ditangani polisi. Menurut dia, orangtua korban juga sudah aktif menyiapkan psikolog dan pengacara.

"Dalam hal ini yang harus dijaga dan diselamatkan adalah mental anak. Jangan sampai kejadian itu merusak mental dan tumbuh kembang anak," katanya.

Menurut Budi, KPAI akan berupaya mendampingi korban dan memberi masukan kepada polisi yang menangani kasus tersebut. Dia juga mendorong pelaku dihukum dengan hukuman yang seberat-beratnya.

Polda Metro Jaya telah menetapkan dua orang tersangka yang bekerja sebagai petugas kebersihan di sekolah tersebut. Kedua tersangka dikenai Pasal 292 KUHP dan Pasal 82 Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Kombes Polisi Rikwanto menuturkan, penyidik masih mengembangkan penyelidikan karena diduga masih terdapat pelaku lainnya.

Hasil pemeriksaan laboratorium forensik menunjukkan bakteri yang terdapat pada anus korban identik dengan bakteri pada kedua tersangka.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Kistyarini
Sumber: Antara