Modal Utama Ahok Menangi Pilkada DKI - Kompas.com

Modal Utama Ahok Menangi Pilkada DKI

Kahfi Dirga Cahya
Kompas.com - 23/07/2016, 08:04 WIB
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama meniggalkan istana merdeka, Jakarta usai bertemu dengan Presiden Joko Widodo, Jumat (27/2/2015). Dalam pertemuan itu Basuki melaporkan kisruh terkait APBD 2015 kepada Presiden Joko Widodo.

JAKARTA, KOMPAS.com - Elektabilitas Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dalam berbagai survei Pilkada DKI Jakarta 2017 belum terkalahkan.

Nama-nama yang muncul seperti Yusril Ihza Mahendra, Sandiaga Uno, Sjafrie Sjamsoedin belum bisa menyaingi Ahok. Elektabilitas mereka pun masih jauh di bawah Ahok. Namun, tingginya elektabilitas disebut bukan modal utama Ahok.

Dalam survei Pilkada, lumrah bila elektabilitas petahana berada di posisi teratas. Popularitas dan pernah memimpin jadi salah satu faktor elektabilitas petahana melejit. Ahok pun dianggap demikian.

(Baca: Mengapa Ahok Yakin Diusung PDI-P jika Mau Maju Lewat Partai Politik?)

Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya mengungkapkan, bila Ahok mengandalkan elektabilitas semata dalam Pilkada DKI Jakarta 2017, ia tak menjamin Ahok akan menang. Pasalnya, modal utama petahana untuk menang kembali dalam pertarungan pilkada bukan hanya elektabilitas.

Modal utama Ahok adalah tingkat kepuasan publik. Dalam survei Saiful Mujani Research Center (SMRC) kemarin, tingkat kepuasan publik terhadap Ahok mencapai 69 persen.

(Baca: Survei Bakal Cagub DKI, Ahok Kalahkan Risma dan Yusril)

Di atas kertas, kata Yunarto, jika tingkat kepuasan publik mencapai 70 persen, incumbent dapat dipastikan kembali menang.

"Orang masih lihat Ahok, karena elektabilitas tinggi, incumbent, satu juta KTP, tiga partai sudah didapatkan, PDI-P ingin merapat, artinya efek jawara dan sosok yang ingin maju, masyarakat menilai Ahok," kata Yunarto.

Pesaing Ahok

Tingginya elektabilitas Ahok tak terlepas dari partai di luar pendukung Ahok yang masih meraba dan belum menentukan sikap. Selain itu, nama-nama yang muncul sebagai pesaing pun di luar harapan publik.

Yunarto mengungkapkan, publik Jakarta memiliki rasionalitas tinggi dalam memilih. Oleh karena itu, calon yang muncul harusnya kepala daerah berprestasi di daerahnya.

"(Harus) ada calon lain yang punya prestasi di daerah lainnya juga. Misalnya, ada kepala daerah lain memang punya prestasi, nah dia punya peluang saingi Ahok," kata Yunarto saat dihubungi Kompas.com di Jakarta, Jumat (22/7/2016).

(Baca: Survei SMRC: 58 Persen Warga DKI Ingin Ahok Kembali Jadi Gubernur)

Yunarto menambahkan, pesaing Ahok harus membuktikan tingkat kepuasan publik di daerahnya ketika menjadi kepala daerah. Pasalnya, bila calon tak punya pengalaman, akan sulit bersaing.

Yunarto mencontohkan pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Pasangan yang bisa mengalahkan Fauzi Bowo sebagai petahana adalah Joko Widodo dan Ahok. Pasangan tersebut, kata Yunarto, sudah terbukti memimpin di daerahnya.

"Jokowi di Solo dan Ahok di Belitung Timur. Itu yang tak dimiliki Fasial Basri dan Hidayat Nur Wahid, meskipun tokoh nasional," ucap Yunarto.

Kompas TV Jelang Pilkada DKI, Ahok Belum Tentukan Pilihan

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisKahfi Dirga Cahya
EditorSabrina Asril
Komentar
Terkini Lainnya

Close Ads X