Selasa, 24 Januari 2017

Megapolitan

Ahok: Kenapa Mesti Pakai Cara Barbar?

Jumat, 11 November 2016 | 09:32 WIB
Kompas.com/Kurnia Sari Aziza Calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama saat berada di rumahnya, di Kompleks Pantai Mutiara, Jakarta Utara, Kamis (10/11/2016).

JAKARTA, KOMPAS.com - Calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, menyayangkan berbagai aksi penolakan terhadap dirinya ketika berkampanye. Menurut Ahok, hal ini menimbulkan ketakutan bagi warga setempat.

Selain itu, lanjut dia, kini semakin banyak isu tidak benar yang berkembang di masyarakat. Cara-cara seperti ini disebut Ahok sebagai cara barbar untuk membatalkan pencalonannya sebagai gubernur pada Pilkada DKI Jakarta 2017.

"Kenapa mesti pakai cara barbar, pakai cara turun? Apalagi sekarang ada hoax di mana-mana. Katanya tanggal 18 (November) bakal turun 5-25 juta orang. Kalau mau turun kayak begitu, ini negara bakalan pecah," kata Ahok, di Kompleks Pantai Mutiara, Jakarta Utara, Kamis (10/11/2016).

Beberapa pihak yang menentangnya itu disebut-sebut menolak kedatangan Ahok karena dugaan penistaan agama. Ahok meminta agar oknum penolaknya bersikap fair, yakni dengan cara tidak memilihnya pada hari pemungutan suara, atau pada 15 Februari 2017 mendatang.

"Makanya sekarang kami ganti, yang sekali perang, mati ratusan ribu dengan cara kertas suara."

"Kita enggak ada lagi zaman bawa-bawa massa, semua ditentukan (saat Pilkada). Istilahnya peluru digantikan suara, dulu pakai peluru sekarang kami ganti dengan kertas suara," kata Ahok.

Ahok beberapa kali pernah ditolak dalam kampanyenya. Seperti saat ia mengunjungi Rawa Belong dan Kedoya Utara. Meski demikian, ia tidak kapok dan berjanji akan tetap mengunjungi lokasi yang sama.

Ahok mengaku tak peduli dengan berbagai aksi unjuk rasa yang datang kepadanya. Sebab, lanjut dia, kunjungannya ke pemukiman warga bukan untuk meminta suara. Melainkan sekaligus untuk mengawasi kinerja anak buahnya di Pemprov DKI Jakarta.

"Kamu kalau ikut saya, pernah enggak saya bilang 'pilih nomor dua ya'. Pernah enggak saya ngomong gitu? Enggak pernah," kata Ahok.

Selama berkampanye, Ahok mengatakan selalu berbicara mengenai program-program yang dijalankan oleh Pemprov DKI Jakarta hingga saat ini.

"Paling saya sampaikan visi-misi, pilih yang bersih, transparan, profesional. Jadi kalau ada calon yang lebih bersih, transparan, ya kamu pilih dia. Saya konsisten dari dulu karena ingin mengedukasi kan," kata Ahok.

Ahok berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Mereka diusung oleh empat partai politik, yakni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Partai Nasdem, Partai Hanura, dan Partai Golkar.

Kompas TV Sejumlah Penolakan Warga pada Kunjungan Ahok-Djarot



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Kurnia Sari Aziza
Editor : Ana Shofiana Syatiri