Rabu, 29 Maret 2017

Megapolitan

Djarot: Stop Gunakan Agama untuk Mengejar Kekuasaan

Selasa, 14 Maret 2017 | 17:33 WIB
Kompas.com/Alsadad Rudi Calon wakil gubernur DKI Jakarta nomor pemilihan dua Djarot Saiful Hidayat saat berkampanye di Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (14/3/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Calon wakil gubernur DKI Jakarta nomor pemilihan dua, Djarot Saiful Hidayat, berharap tidak ada pihak yang memanfaatkan agama untuk mengejar kekuasaan.

Ia menyampaikan hal tersebut dalam menanggapi adanya penolakan terhadap kedatangannya ke acara zikir bersama untuk memperingati haul Presiden kedua RI, Soeharto, dan Supersemar di Masjid At Tin, Kompleks Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Sabtu (11/3/2017).

(Baca juga: Tinggalkan Masjid At Tin, Djarot Disoraki Pengunjung Acara Haul Soeharto)

"Sekali lagi untuk masalah seperti ini jauhkanlah yang mengeksploitasi atau yang menggunakan agama hanya demi mendapatkan kekuasaan. Saya pikir stop," kata Djarot di Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (14/3/2017).



(Baca juga: Djarot Jelaskan Ide Munculnya Kartu Jakarta Lansia)

Saat datang ke Masjid At Tin pada Sabtu kemarin, Djarot sempat dihalangi ketika akan masuk ke lokasi acara. Namun, ia tetap bisa masuk dan mengikuti acara tersebut.

Selain itu, saat akan meninggalkan lokasi seusai acara, Djarot sempat disoraki sebagian orang.

Menurut Djarot, tindakan orang-orang yang menghalangi dan menyorakinya itu sangat tidak baik dan berbahaya. Sebab, menurut dia, tindakan itu dapat memecah belah masyarakat.

Tidak hanya di ruang lingkup Jakarta, tetapi juga di Indonesia. Untuk mencegah hal serupa terulang, ia menilai aparat perlu megambil tindakan tegas.

"Jangan sampai terulang, terjadi lagi, termasuk pemasangan spanduk-spanduk yang provokatif, stop. Bahwa ini akan bisa sekali lagi memecah belah masyarakat di Indonesia. Ingat lho ini di Jakarta, ditonton, dilihat seluruh warga di Indonesia, termasuk warga dunia," kata Djarot.

(Baca juga: Djarot Maafkan Orang yang Menghalanginya Saat Peringatan Haul Soeharto)

Ia juga menilai, dalam berdemokrasi, masyarakat seharusnya diberi kebebasan untuk memilih sesuai dengan hati nuraninya masing-masing.

"Maaf ya, saya mengambil istilah Buya Syafi'i Maarif yang kemarin itu tindakan yang primitif dan menghalalkan segala cara untuk memainkan simbol-simbol agama dalam rangka meraih kekuasaan," ujar Djarot.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Alsadad Rudi
Editor : Icha Rastika
TAG: