Kutukan Petahana di Putaran Kedua Berulang di Pilkada DKI Jakarta - Kompas.com

Kutukan Petahana di Putaran Kedua Berulang di Pilkada DKI Jakarta

Wisnu Nugroho
Kompas.com - 19/04/2017, 18:32 WIB
Kompas.com/Akhdi Martin Pratama Pasangan calon gubernur-wakil gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan-Sandiaga Uno di rumah Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Rabu (19/4/2017).

Pencoblosan di pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta putaran kedua sudah usai dalam suasana damai. Melegakan. Hitung cepat (quick count) sejumlah lembaga survei juga sudah kelar dilakukan. Menenangkan. 

Hasilnya, pasangan Anies Baswedan- Sandiaga Uno (Anies-Sandi) unggul. Menilik kemenangan Anies-Sandi yang sudah diakui lawannya ini, catatan sejarah pemilihan umum di Indonesia ternyata berulang.

Sejak Pemilihan Umum 2004, petahana (incumbent) yang dipaksa bertarung di putaran kedua selalu tumbang. Kekalahan pasangan Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat ( Ahok- Djarot) menambah catatan itu. Sejarah di Pemilu Indonesia berulang.

Memang belum panjang perjalanan Pemilu dalam arti pemilihan langsung di Indonesia. Namun, dari belum panjangnya perjalanan itu, sejarah mencatat "kutukan" bagi petahana di putaran kedua.

Tiga kutukan

Pertama, mari kita tengok Pemilu Presiden 2004 yang menjadi awal pemilihan langsung di Indonesia. Saat itu, lima pasang calon presiden dan wakil presiden maju. 

Petahana Megawati Soekarnoputri yang berpasangan dengan KH Hasyim Muzadi ditantang pasangan Susilo Bambang Yudhoyono- Jusuf Kalla, Wiranto- Salahuddin Wahid, Amien Rais-Siswono Yudo Husodo, dan Hamzah Haz-Agum Gumelar.

Di putaran pertama, 5 Juli 2004, tiga pasangan calon terakhir gugur. Megawati-Hasyim yang mendapat 26,61 persen suara berhadap-hadapan dengan SBY-JK yang mendapat 33,37 persen suara di putaran kedua.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri
Saat Pilpres putaran kedua yang digelar 20 September 2004, Megawati Soekarnoputri sebagai petahana tumbang. SBY-JK yang adalah mantan pembantu terbaik Megawati di kabinet, unggul telak dengan memperoleh 60,62 persen suara. Megawati-Hasyim hanya meraih 39,38 persen suara.

Catatan kedua tumbangnya petahana di putaran kedua adalah Pilkada DKI Jakarta 2012. Untuk diketahui, hanya Pilpres dan Pilkada DKI Jakarta menuntut digelarnya putaran kedua jika suara calon tidak mencapai 50 persen plus satu.

Di Pilkada DKI Jakarta 2012, Fauzi Bowo sebagai petahana berpasangan dengan Nachrowi Ramli (Foke-Nara). Pasangan ini ditantang Joko Widodo- Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi- Ahok), Hidayat Nur Wahid-Didiek J Rachbini, Faisal Basri-Biem Triani Benjamin, dan Alex Noerdin- Nono Sampono.

ANDREAN KRISTIANTO Fauzi Bowo.
Karena tidak ada satu pun calon yang meraih suara 50 persen plus satu, dua pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur peraih suara terbanyak maju di putaran kedua. Fauzi Bowo sebagai petahana yang meraih 34,05 persen suara ditantang Joko Widodo yang meraih 42.60 persen suara.

Di putaran kedua, Foke-Nara tumbang. Jokowi- Ahok yang sejak awal hanya didukung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDI-P) dan Partai Gerakan Indonesia Raya ( Gerindra) unggul.

Joko Widodo- Basuki Tjahaja Purnama meraih 53,82 persen suara. Fauzi Bowo-Nacrowi Ramli meraih 46,18 persen suara. Putaran kedua digelar 20 September 2012. Putaran pertama digelar 11 Juli 2012.

Hari-hari ini, kita menjadi saksi berulangnya kutukan petahana di putaran kedua Pilkada DKI Jakarta. Ini catatan ketiga.

Di putaran pertama, 15 Februari 2017, Ahok- Djarot unggul dengan 42,99 persen disusul Anies Baswedan- Sandiaga Uno (Anies-Sandi) dengan 39,95 persen dan Agus Harimurti Yudhoyono-Syliana Murni dengan 17,06 persen. 

Karena tidak ada pasangan yang meraih suara lebih dari 50 persen, putaran kedua digelar. Ahok- Djarot berhadap-hadapan dengan Anies-Sandi.

Kompas.com/Kurnia Sari Aziza Calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok saat berada di rumahnya, di Kompleks Pantai Mutiara Blok J/39, Jakarta Utara, Rabu (19/4/2017).
Meskipun real count oleh Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta belum selesai dihitung, berdasarkan hasil quick count (hitung cepat) sejumlah lembaga survei yang nyaris sama dan selisih perolehan suara yang jauh, petahana hampir pasti tumbang di putaran kedua.

(Baca: Hasil Final Quick Count Kompas: Ahok-Djarot 42 Persen, Anies-Sandi 58 Persen)

Menangi putaran pertama

Namun, petahana tidak perlu berkecil hati. Pemilu Indonesia mencatat hal manis juga terkait petahana yang ingin melanjutkan kekuasaanya di periode kedua.

Selain mencatat kutukan petahana di putaran kedua, sejarah Pemilu Indonesia memberi catatan untuk petahana agar bisa mempertahankan jabatannya.

Baru satu memang catatannya. Namun, catatan ini menggenapi catatan soal kutukan petahana di putaran kedua atau semacam tips bagi petahana untuk menghindari kutukan di putaran kedua.

Bagi petahana, jika hendak tetap bertahan dan berkuasa, menang di putaran pertama adalah keharusan. Jangan pikirkan putaran kedua. Tidak menang di putaran pertama artinya kalah di putaran kedua

Untuk catatan kemenangan petahana di putaran pertama sehingga kekuasaannya bisa dipertahankan, kita perlu menengok Pilpres 2009. Untuk Pilpres 2009, kita perlu melihat prestasi SBY yang memilih berpasangan dengan Boediono.

Di Pilpres 8 Juli 2009, SBY-Boediono meraih 60,80 persen suara menyingkirkan langsung pasangan Megawati Soekarnoputri- Prabowo Subianto yang meraih 26,79 persen suara dan pasangan Jusuf Kalla- Wiranto yang meraih 12,41 persen suara.

KOMPAS/ALIF ICHWAN Ilustrasi. Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) dan Anas Urbaningrum. Gambar diambil pada Minggu (17/2/2013).
Kemenangan SBY di Pilpres 2009 didahului kemenangan Partai Demokrat yang dalam Pemilu 2009 unggul dengan 20,85 persen suara. Partai yang baru dua kali ikut Pemilu ini mengalahkan partai-partai yang lebih mengakar seperti Golkar dan PDI-P

Sebuah prestasi yang membanggakan dan membaut sejumlah orang yang tidak bisa menerima masih geleng-geleng kepala. 

Soal bagaimana kemenangan SBY dan Partai Demokrat di Pemilu 2009 diraih, kita bisa berdebat melihat nasib Partai Demokrat dan sejumlah kadernya saat ini. Namun, hasil luar biasa SBY dan Partai Demokrat tercatat dalam sejarah Pemilu di Indonesia.

Mengubah atau mengulang sejarah

Jika Pilkada DKI Jakarta adalah cermin untuk Pilpres seperti sudah terjadi di Pilkada DKI 2012 dan Pilpres 2014, petahana yang akan maju di Pilpres 2019 perlu menengok sejarah pendek Pemilu kita.

Sejarah Pemilu Indonesia sudah mencatat, petahana yang bertarung di putaran kedua tumbang. Sejarah yang sama juga mencatat, petahana yang bisa mempertahankan kekuasaannya untuk periode kedua harus menang di putaran pertama.

Belajar dari sejarah pemilu yang sama, cara meraih kemenangan dan bagaimana memanfaatkan kekuasaan karena kemenangan perlu dicermati juga. Dari Partai Demokrat kita belajar juga.

Terhadap sejarah yang akan kita torehkan, kita punya peluang untuk mengubah jalannya atau mengulanginya. 

Kompas.com/ Syahrul Munir Presiden RI Joko Widodo saat meninjau progres pekerjaan fisik ruas jalan tol Bawen-Salatiga di wilayah Desa Polosiri, Bawen, Kabupaten Semarang, Sabtu (8/4/2017) siang.
Untuk ujian atas sejarah itu, Pilpres 2019 akan jadi momentum terdekatnya. Jokowi sebagai petahana sudah dicalonkan dua partai politik dan tampak mempersiapkan dengan sungguh-sungguh capaian kerja sebagai modal kampanyenya. 

Untuk para penantang yang sudah mulai menggema suaranya, tarik petahana masuk putaran kedua adalah strateginya. Ujian sejarah kita akan terjadi di sana. Apa hasilnya, kita tunggu saja. Torehan sejarah bisa berulang atau berubah juga.

EditorHeru Margianto
Komentar

Close Ads X