Pengacara: Tak Ada Keinginan Rizieq Cari Suaka di Arab Saudi - Kompas.com

Pengacara: Tak Ada Keinginan Rizieq Cari Suaka di Arab Saudi

Akhdi Martin Pratama
Kompas.com - 19/05/2017, 19:22 WIB
Akhdi Martin Pratama Pimpinan Front Pembela Islam Rizieq Shihab saat mengunjungi lokasi banjir di kawasan Pejaten Timur, Jakarta Selatan pada Rabu (22/2/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengacara pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab menegaskan kliennya berada di Arab Saudi bukan untuk mencari suaka lantaran tengah terseret kasus hukum di Indonesia.

"Sejauh ini enggak. Tidak ada keinginan untuk mencari suaka di (Arab) Saudi," ujar pengacara Rizieq, Sugito Atmo Prawiro saat dihubungi, Jumat (19/5/2017).

Suaka adalah bentuk perlindungan dari dipulangkannya seseorang ke suatu negara yang ditakuti, yang memungkinkan pengungsi dapat memenuhi syarat untuk menetap disuatu negara yang pada akhirnya dapat menjadi penduduk tetap yang sah.

Menurut Sugito, Rizieq sangat mencintai Indonesia. Namun, Rizieq enggan pulang ke Indonesia lantaran menganggap kasus yang menjeratnya penuh dengan rekayasa.

"Dia kuliah di sana, keturunan Arab, tapi dia sangat cinta kehidupan di sini (Indonesia)," kata Sugito.

Baca: Kuasa Hukum Tidak Tahu Keberadaan Rizieq di Arab Saudi

Dalam kasus chat WhatsAp berkonten pornografi, Rizieq sudah dua kali mangkir panggilan pemeriksaan polisi. Pada panggilan pertama 25 April 2017, Rizieq berdalih sedang melaksanakan ibadah umroh.

Dari Arab Saudi, Rizieq sempat bertolak ke Yaman untuk mengunjungi anaknya yang melahirkan. Ia kemudian juga ke Kuala Lumpur, Malaysia untuk menyelesaikan studinya.

Baca: Pengacara: Banyak Bully, Rizieq Ingin Cepat Pulang, tetapi...

Melalui tim advokasinya di Jakarta, Rizieq mengatakan ia tak berlari menghindari daftar panjang kasus hukumnya di berbagai daerah di Indonesia.

Rizieq menolak pulang ke Indonesia karena tak mau diperiksa dalam kasus chat WhatsApp berkonten pornografi ini.

Kompas TV Apakah Rizieq Shihab tidak mempercayai hukum di Indonesia?

PenulisAkhdi Martin Pratama
EditorDian Maharani
Komentar

Close Ads X