Begini Sulitnya Sediakan Air Bersih di Pulau Untung Jawa Halaman all - Kompas.com

Begini Sulitnya Sediakan Air Bersih di Pulau Untung Jawa

Jessi Carina
Kompas.com - 12/08/2017, 17:31 WIB
Dirut PT PAM Jaya Erlan Hidayat (tengah) di Kantor Lurah Untung Jawa, Sabtu (12/8/2017). KOMPAS.com/JESSI CARINA Dirut PT PAM Jaya Erlan Hidayat (tengah) di Kantor Lurah Untung Jawa, Sabtu (12/8/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kebutuhan air bersih warga Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu selama ini disediakan Brackish Water Reverse Osmosis (BWRO) dan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO).

BWRO merupakan alat pengolahan air tanah sementara SWRO adalah sistem untuk mengolah air laut agar layak untuk dikonsumsi.

Infrastruktur SWRO di Pulau Untung Jawa terhitung megah karena menghabiskan dana pembuatan di atas Rp 10 miliar dari anggaran Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Namun, SWRO yang mahal itu ternyata belum cukup memenuhi kebutuhan air bersih warga Pulau Untung Jawa.

Baca: Bupati Pulau Seribu Ingin Utamakan Pembangunan Manusia

"SWRO ini airnya standar Kemenkes jadi mendekati 500 TDS. Ketika dicoba kok enggak enak rasanya. Jadi masyarakat enggak mau, paling hanya buat cuci piring dan cuci baju saja," ujar Lurah Untung Jawa Ade Selamet di Kantor Lurah Untunh Jawa, Sabtu (12/8/2017).

Air laut yang tadinya memiliki kandungan di atas 15.000 TDS bisa dijernihkan menjadi sekitar 300 TDS dengan menggunakan SWRO.

Air tersebut sebenarnya sudah layak untuk diminum. Namun, kata Ade, warga tetap tidak menyukai rasa air laut yang telah diolah itu.

Dia membandingkannya dengan kandungan air mineral kemasan. "Kalau air mineral itu kan 70 TDS," kata Ade.

Hal lain yang mengecewakan, kata Ade, SWRO tersebut belum bisa menghasilkan air dalam jumlah yang memadai.

Fasilitas SWRO hanya bisa menghasilkan 50 meter kubik air setiap harinya, artinya hanya 50 rumah yang bisa mendapatkan air olahan tersebut.

SWRO belum maksimal

Ade membandingkan dengan SWRO yang ada di Pulau Tengah yang bisa mengolah puluhan ribu meter kubik air laut.

"Ini sangat disayangkan ya. SWRO sudah megah gedungnya, sayang gitu. Bupati membandingkan di Pulau Tengah dengan gedung kecil saja itu sudah puluhan ribu meter kubik," ujar Ade.

Akhirnya, air tanah yang diolah BWRO masih menjadi andalan warga Pulau Untung Jawa untuk diminum.

Ade belum memastikan berapa jumlah air yang dihasilkan dari BWRO itu. Namun, selama ini air masih mencukupi kebutuhan warga dan memiliki rasa yang lebih enak.

Baca: Dirut PAM Jaya Bingung Pasokan Air di Jakarta Tak Ditambah sejak 1997

"Masyarakat sini mengonsumsi air itu dengan harga yang cukup murah, hanya Rp 1.000 sampai Rp 3.000 per galon," kata Ade.

Ada pula warga yang memilih membeli air kemasan dalam ukuran galon yang harganya lebih mahal dibanding di Jakarta.

Namun, air tanah tidak bisa selamanya menjadi sumber air warga Pulau Untung Jawa. Ade berharap air olahan SWRO bisa lebih baik agar bisa dikonsumsi warga. "Lama-lama air tanah habis, bisa-bisa enggak minum dong orang pulau," kata Ade.

Kendala pengelolaan aset

Direktur Utama PT PAM Jaya, Erlan Hidayat, menjelaskan permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan SWRO.

SWRO dibangun Kementerian PUPR dan pengelolaannya diserahkan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dalam hal ini PAM Jaya.

Namun, beberapa aset SWRO masih merupakan milik Kementerian PUPR dan membutuhkan waktu beberapa tahun untuk penyerahan aset.

"Catatan kerusakan yang sifatnya operasional, PAM Jaya bisa tanggung. Tapi yang sifatnya struktur utama seperti membran, itu bukan tanggung jawab PAM Jaya," kata Erlan.

Baca: PD PAM Jaya Bersedia Dimediasi Komnas HAM soal Penggusuran Warga Lauser

PAM Jaya, lanjut Erlan, bisa saja mengoperasikan SWRO secara optimal, tetapi dengan risiko kerusakan membran yang menjadi salah satu bagian vital SWRO.

Erlan melanjutkan, PAM Jaya bisa saja mengganti membran yang rusak, tetapi harus mendapatkan izin Kementerian PUPR sebagai pemilik aset.

Akibat berbagai macam kendala itu, Erlan menegaskan, fasilitas SWRO di Pulau Untung Jawa baru bisa dioperasikan 8 jam saja.

"Takutnya belum serah terima penuh, alat sudah rusak. Tapi saya sudah minta ke teman-teman untuk paksa saja. Hitung risiko bagi PAM Jaya kalau membrannya rusak. Kalau kita sanggup, kerjakan saja," kata Erlan.

Page:
PenulisJessi Carina
EditorErvan Hardoko
Komentar

Terkini Lainnya


Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM