Di Balik Pembunuhan Pegawai BNN - Kompas.com

Di Balik Pembunuhan Pegawai BNN

Aiman Witjaksono
Kompas.com - 11/09/2017, 09:09 WIB
Kakak terduga pelaku pembunuhan, Siti Nuraeni (43), membawa bukti visum terkait kekerasan yang dilakukan alamarhum Indria Kameswari kepada suaminya, Senin (4/9/2017).Ramdhan Triyadi Bempah / KOMPAS.com Kakak terduga pelaku pembunuhan, Siti Nuraeni (43), membawa bukti visum terkait kekerasan yang dilakukan alamarhum Indria Kameswari kepada suaminya, Senin (4/9/2017).

Awalnya hanya kasus pembunuhan biasa. Namun, belakangan mencuat kejanggalan. Pertama soal motif pembunuhan yang misterius. Polisi masih menelusuri motifnya. Kedua soal senjata api yang diduga digunakan untuk membunuh Indria Kameswari, sang istri, juga masih hilang entah kemana. Ketiga, Akbar membawa 3 butir peluru ke Bandara Halim Perdana Kusuma. Apa maksudnya? Terakhir, meski sempat diperiksa petugas keamanan Bandara, namun ia tetap bisa terbang ke luar kota.

ATAS kejanggalan–kejanggalan ini, saya berkeinginan untuk menelusuri kasusnya. Awalnya memang tampak kasus domestik alias rumah tangga. Namun belakangan muncul keterangan–keterangan yang mengundang tanya.

Polisi masih terus bekerja keras untuk mengungkap teka–teki ini, termasuk senjata api yang kini masih hilang entah kemana.

Memulai penelusuran ini, saya bergegas ke Perumahan River Valley, di Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.  

Atas alasan apa saya ke sini?

Saya ingin mencari informasi di lokasi pertama peristiwa.  Informasi yang saya dapatkan, polisi juga masih terus menyelidiki tempat kejadian perkara di sini sehingga saya tidak bisa masuk ke dalam rumah. Garis polisi masih melintang di sekeliling tempat kejadian perkara.

Penelusuran Aiman

Saya mengajak kepala keamanan kompleks untuk menemani saya mengelilingi rumah kontrakan itu tanpa menerobos garis polisi.

Kebetulan, kepala keamanan di kompleks itu adalah salah satu orang pertama yang mendapat laporan saat peristiwa pembunuhan terjadi. 

Ia bahkan sempat masuk ke dalam rumah dan melihat sosok Indria Kameswari sebelum melapor kepada polisi. Ia baru tahu belakangan kalau ini adalah kasus pembunuhan.

Tetangga yang memanggil pihak keamanan kompleks pun menduga bahwa Indria pingsan karena terjatuh di ruangan rumah.

Dikira jatuh di kamar mandi

Lalu dari mana tahu ini adalah kasus pembunuhan?

Adalah anak perempuan korban yang masih berusia 4 tahun, sesaat setelah kejadian, langsung lari ke tetangga. Ia menceritakan bahwa ibunya jatuh. Indria tergeletak di kamar mandi.

Sejumlah tetangga berdatangan untuk menolong. Setelah beberapa saat para tetangga memberi pertolongan, anak balita itu bercerita bahwa ibunya “di-dor” olehnya Sang Ayah.

Tetangga curiga meski tidak menemukan luka. Saat mengangkat tubuh Indria, barulah disadari ada luka di punggung yang mengucurkan darah. Polisi pun dipanggil.

Kejanggalan

Beberapa hari berselang, muncullah beberapa hal yang terkait dengan kasus ini. Mulai dari rekaman percekcokan antara suami-istri Akbar–Indria, hingga terungkap butir peluru yang hendak dibawa Akbar ke Batam dan senjata api yang hilang. 

Saya pun mendatangi Polres Bogor untuk mengetahui hal ini lebih lanjut. Saya bertemu dengan Kepala Satuan Reserse & Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Bogor AKP Bimantoro Kurniawan.

Ia mengaku bahwa masih ada banyak yang belum terjawab akan kasus ini. Di antaranya soal motif pembunuhan. Korban memang diketahui kerap bersiap kasar terhadap tersangka. Namun, itu belum dapat dijadikan sebagai kesimpulan motif.

Ada satu hal yang menjadi titik terang pengungkapan kasus ini. Tiket kepergian Akbar ke Batam, Kepulauan Riau, dipesan sehari sebelum kejadian pembunuhan. 

Oleh karenanya, polisi berencana untuk menerapkan pasal 340 KUHP terkait pembunuhan berencana kepada tersangka Akbar, termasuk mencari pelaku selain tersangka. 

Menurut polisi, Akbar seperti orang linglung saat diperiksa. Ia kini menjalani pemeriksaan di Ruma Sakit Polri untuk mendalami apakah ia memiliki kelainan jiwa atau tidak.

Konsekuensinya, jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ia menderita kelainan jiwa, proses hukum atas dirinya bakal dinyatakan batal. Artinya, ia terbebas dari jerat hukum sesuai Pasal 44 KUHP.

Sebaliknya, jika dinyatakan sehat secara kejiwaan, pasal pembunuhan berencana bakal disangkakan kepadanya.

Semua kemungkinan layak ditelusuri. Atas nama keadilan semua misteri harus diungkap.

Saya Aiman Witjaksono.

Salam. 

 

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorHeru Margianto
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM