Catatan tentang Teater Abang None Jakarta - Kompas.com

Catatan tentang Teater Abang None Jakarta

Orchida Ramadhania
Kompas.com - 02/11/2017, 20:39 WIB
Salah satu adegan dalam konser teatrikal dengan judul BABE, Muka Kampung Rejeki Kota di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis, (14/9/2017). Konser teatrikal ini mengangkat kisah perjalanan hidup Benyamin Sueb ke atas panggung pertunjukan dan diselenggarakan selama dua hari pada tanggal 15 & 16 September 2017.KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Salah satu adegan dalam konser teatrikal dengan judul BABE, Muka Kampung Rejeki Kota di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis, (14/9/2017). Konser teatrikal ini mengangkat kisah perjalanan hidup Benyamin Sueb ke atas panggung pertunjukan dan diselenggarakan selama dua hari pada tanggal 15 & 16 September 2017.

BELUM lama berselang, saya merasa beruntung mendapat kesempatan menghabiskan malam Minggu dengan menonton teater musikal yang asik dan indah berjudul BaBe – Muka Kampung Rejeki Kota.

Pertunjukan ini merupakan persembahan dari teater Abang None Jakarta di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Sebuah pementasan yang apik, mengkisahkan kehidupan seniman Betawi legendaris bernama Benyamin Sueb.

Tahun ini merupakan tahun ke-10 sejak pertama kali Teater Abang None menyelenggarakan pementasan pertamanya. Sebuah proyek "balas budi" yang menurut saya terbilang idealis dan keras kepala dari seorang sahabat dan senior yang saya kagumi, yakni Mpok Mod atau Maudy Koesnaedi.

Maudy Koesnaedi saat ditemui pada jumpa pers Konser Teatrikal Babe, Muka Kampung Rejeki Kota, di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (30/8/2017).Kompas.com/Ira Gita Maudy Koesnaedi saat ditemui pada jumpa pers Konser Teatrikal Babe, Muka Kampung Rejeki Kota, di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (30/8/2017).
Pada sebuah kesempatan ngopi pagi bersama Mpok Mod kira-kira setahun yang lalu di Pondok Indah, ia pernah menyampaikan pada saya bahwa awalnya ia berpikir Teater Abnon ini adalah upayanya untuk give back ke institusi Abang None yang mengawali karier dan membuka banyak pintu kesempatan untuknya. Ia juga merasa berutang pada janjinya untuk turut menjaga kelestarian budaya Betawi.

Melihat potensi Abang None yang tak terbatas, ia pun memulai Teater Abang None ini, yang meskipun didukung oleh satu atau dua sponsor, namun lebih sering diongkosi dari biaya kantongnya sendiri.

Setelah beberapa tahun berjalan dan di antara semua "kegilaan" jungkir balik mempertahankan produksi, Mpok Mod mengakui bahwa akhirnya keterlibatannya yang mendalam pada Teater Abang None ini tidak lagi terasa seperti sebuah proyek untuk give back ke masyarakat.

Teater ini telah menjadi bagian yang lebih personal dari diri dan kehidupannya. Telah menjadi keluarga yang dibutuhkannya. Sebuah pengakuan yang, menurut saya, jujur dan mengharukan.

Setelah pertemuan itu, kami berdua bekerja sama agar dapat mencari dukungan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga karena tema yang diangkat oleh teater Abnon tahun lalu adalah tentang silat Betawi berjudul Jawara. Kami beruntung, saat itu Kemenpora memberikan lampu hijau.

Pada produksi ke 10 kali ini, BaBe – Muka Kampung Rejeki Kota, Teater Abang None Jakarta bekerja sama dengan Ifa Fachir sebagai penata musik dan Agus Noor selaku sutradara.

Di antara beberapa pemain yang mendukung adalah Tommy Tjokro, Indra Bekti, Mia Ismi, dan banyak lagi pemain hebat berbakat lainnya.

Jika diibaratkan kelezatan suatu sajian di restoran, maka yang saya rasakan dari pertunjukan tersebut adalah bahwa akhirnya telah ditemukan sebuah resep yang nikmat dan seimbang dalam menyajikan suatu masakan.

Teater Abang None setelah satu dekade akhirnya berhasil menemukan formula yang paling pas dalam menghadirkan teater musikal yang sempurna. Sepanjang hampir tiga jam, saya merasa mendapat hiburan yang bermutu untuk menghabiskan malam Minggu saya.

Lagu-lagu yang telah kita kenal akrab dari Benyamin S, seperti "Eh Ujan Gerimis Aje" atau "Eh Abang pulang.. bakul nasi goyang-goyang" atau "Nonton Bioskop", digarap ulang oleh Ifa fachir dan menjadi sangat menyenangkan untuk didengar.

Maudy Koesnaedi bersama tokoh yang terlibat dalam Konser Teatrikal Babe, Muka Kampung Rejeki Kota, saat jumpa pers di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (30/8/2017).Kompas.com/Ira Gita Maudy Koesnaedi bersama tokoh yang terlibat dalam Konser Teatrikal Babe, Muka Kampung Rejeki Kota, saat jumpa pers di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (30/8/2017).
Dengan nuansa swing jazz dan broadway-like, tata cahaya, tata panggung, kostum, dan aransemen lagu pada beberapa scene pementasan ini mengingatkan kita pada film "La La Land". Kehidupan Bang Ben yang "jadul" tidak menjadi membosankan, justru terasa megah dan menawan.

Saya berkesempatan nonton pertunjukan terakhir hari Sabtu setelah sebelumnya digelar pada hari Kamis dan Jumat. Dengan kualitas sebaik itu saya menjadi paham mengapa selama tiga hari, tiket pertunjukan sold out. Saya semakin salut dengan pencapaian dan kerjakeras tim produksi Teater Abang None Jakarta.

Namun demikian, keesokan paginya ketika belum habis kekaguman saya terhadap pementasan tersebut, Mpok Mod mengirim sebuah pesan di WhatsAap, berpamitan bahwa hendak mundur dahulu dari produksi Teater Abang None.

Detailnya saya belum tahu pasti karena kami belum mendapat kesempatan temu langsung untuk dapat bicara panjang berdua. Namun, yang disampaikannya adalah bahwa Teater Abang None perlu lebih banyak waktu untuk kembali merumuskan strategi finansialnya.

Alasan klasik yang sangat mudah dipahami, saya kira, terutama bagi pelaku industri budaya dan seni kreatif.

Malam itu saya menonton bersama Ikatan None DKI Jakarta, beberapa seniman ternama Ibu Kota, dan Bapak Ketua Bekraf Triawan Munaf. Beliau menyampaikan pada saya bahwa Teater Abang None sempat mendekati Bekraf untuk urusan finansial ini. Namun, mereka datang terlambat ketika sudah terlalu dekat dengan waktu produksi.

Kepala Bekraf mengatakan bahwa mereka sebagai institusi berusaha sepenuhnya patuh pada SOP keuangan institusi dan diharapkan masyarakat membuka website Bekraf secara berkala, mengecek FAQs, atau datang langsung ke kantor Bekraf agar menjadi lebih familiar dengan mekanisme pendanaan mereka.

Pemerintahan Jokowi adalah yang pertama dalam sejarah bangsa ini secara serius menunjukkan keterlibatan negara dalam industri kreatif. Hal itu sendiri harus dihargai.

Namun, nyatanya potensi, talenta, ide, dan kerja kreatif yang ada di Indonesia sangatlah luas. Pasti perlu waktu agar negara dapat mengakomodasi itu semua.

Salah satu adegan dalam konser teatrikal dengan judul BABE, Muka Kampung Rejeki Kota di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis, (14/9/2017). Konser teatrikal ini mengangkat kisah perjalanan hidup Benyamin Sueb ke atas panggung pertunjukan dan diselenggarakan selama dua hari pada tanggal 15 & 16 September 2017.KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Salah satu adegan dalam konser teatrikal dengan judul BABE, Muka Kampung Rejeki Kota di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis, (14/9/2017). Konser teatrikal ini mengangkat kisah perjalanan hidup Benyamin Sueb ke atas panggung pertunjukan dan diselenggarakan selama dua hari pada tanggal 15 & 16 September 2017.
Bagaimanapun, keputusan Mpok Mod harus dihormati. Saya mengangkat topi setinggi-tingginya atas komitmen beliau terhadap Abang None dan pelestarian Budaya Betawi selama sepuluh tahun belakangan ini.

Sebagai warga kota pada umumnya, saya tetap memiliki harapan besar bahwa pendanaan dan dukungan terhadap pelaku seni budaya dapat terus diberikan oleh semua pihak, baik pemerintah, swasta, maupun individu.

Karena, pada suatu kurun seperti saat ini, di mana media mainstream hanya berisi sensasi, kebohongan, ataupun berita serba dangkal, ketika elite politik dan agama gagal menjadi teladan, ketika masyarakat dipecah belah oleh kebencian, yang bisa menolong kita mungkin hanya strategi budaya seperti ini.

Sebuah malam Minggu yang diisi dengan seni dan budaya yang indah, mengisi jiwa kota mengingatkan soal kelembutan. Strategi budaya mungkin jalan paling efektif untuk membuat kita kembali jatuh cinta pada jati diri kita sebenarnya sebagai sebuah bangsa.

EditorLaksono Hari Wiwoho
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM