"Mau Dibilang Kumuh, Saya Lahir dan Nyaman Tinggal di Sini..." - Kompas.com

"Mau Dibilang Kumuh, Saya Lahir dan Nyaman Tinggal di Sini..."

Kompas.com - 14/02/2018, 15:02 WIB
Suasana di RW 17, Penjaringan, Jakarta Utara, yang disebut sebagai salah satu tempat terpadat dan terkumuh di DKI Jakarta, Selasa (13/2/2018).KOMPAS.COM/Ardito Ramadhan D Suasana di RW 17, Penjaringan, Jakarta Utara, yang disebut sebagai salah satu tempat terpadat dan terkumuh di DKI Jakarta, Selasa (13/2/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com  Rencana Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno yang hendak merelokasi warga RW 017 Penjaringan, Jakarta Utara, ke rumah susun mendapat respon beragam warga setempat.

Salah seorang pengurus RW 017 Penjaringan, Konedi, mengatakan, sejumlah warga bersedia direlokasi ke rusun.

Namun, mereka meminta sejumlah syarat yang mesti dipenuhi pemerintah apabila mereka direlokasi ke rusun.

Baca juga: Warga RW 017 Penjaringan Akan Dipindah ke Rusun Lewat Program CSR

Syarat-syarat tersebut adalah lokasi yang tidak terlalu jauh dari RW 017, ketersediaan lapak untuk warga berdagang, serta terjaminnya hak warga tinggal di rusun tersebut.

"Kalau pindah ke rusun, warga takut kehilangan mata pencahariannya. Makanya lokasi jangan terlalu jauh dari sini dan disediakan juga tempat warga berdagang," kata Konedi saat ditemui Kompas.com, Rabu (14/2/2018).

Berdasarkan pantauan Kompas.com, sejumlah warga RW 017 Penjaringan membuka lapak dagangannya di depan rumah mereka.

Baca juga: Tata Kampung Kumuh, Sandiaga Minta Bawahannya Berpikir Out of The Box

Dagangannya pun bermacam-macam, mulai dari toko kelontong, warung makan, hingga sayur-mayur.

"Warga di sini umumnya membuka warung untuk penghasilan tambahan. Suaminya bekerja di luar jadi tukang ojek, istrinya di rumah menjaga warung," kata Slamet, seorang pemilik warung kelontong.

Pernyataan Konedi diamini Khodijah, warga RW 017 Penjaringan. Ia bersedia direlokasi ke rusun apabila dapat meneruskan pekerjaannya sebagai pedagang.

Baca juga: Upaya Kota Bekasi Tata Kawasan Kumuh

"Kalau saya di rusun, tetapi tidak bisa berdagang repot. Saya dari dulu, kan, sudah berdagang, kalau enggak bisa berdagang saya yang enggak makan. Sekarang saja sudah susah," kata Khodijah.

Di samping itu, ia juga meminta para lansia dapat tinggal di lantai bawah rusun.

Warga lainnya, Fauzan mengkhawatirkan besaran iuran yang harus dibayarkan ketika menetap di rusun.

Baca juga: Kampung Rawa Bambu Bekasi yang Dulu Kumuh, Kini Penuh Warna

"Yang saya tahu, kan, kalau di rusun itu ada biaya sewa, biaya keamanan, dan biaya kebersihan. Kalau di sini, kan, enggak, itu yang bikin warga nyaman tinggal di sini," katanya.

Ihsan, warga lainnya, menolak pindah ke rusun karena merasa sudah nyaman dengan tempat tinggalnya kini.

"Saya sih inginnya di sini, jangan digusurlah. Kalau di sini suasananya hidup begitu, Mas, pagi sampai malam selalu ramai. Main-main sama tetangga juga lebih enak," ujar Ihsan.

Ia juga tidak peduli dengan cap kumuh yang melekat ke kampungnya itu.

Baca juga: Anies Bentuk Tim Bersama Kementerian BUMN untuk Tata 220 Kampung Kumuh

"Mau dibilang kumuh atau kotor, bodo amat. Saya dari lahir sudah di sini, sudah nyaman juga tinggal di sini," katanya.

Oleh karena itu, Konedi meminta Pemprov DKI melakukan sosialisasi terlebih dahulu sebelum merelokasi warga.

Selain itu, ia juga mengimbau Pemprov DKI memberi jaminan agar warga tidak terusir dari rusun.

"Sebaiknya pemerintah dari camat atau lurah turun ke masyarakat. Warga sudah tenang lama enggak ada isu relokasi, jangan sampai warga kaget kalau tiba-tiba direlokasi," kata Konedi.

Kompas TV Pemerintah kota berharap kampung merah putih jadi semakin menarik bagi para wisatawan.


Komentar

Close Ads X